Zaidan Agil Rafiq Tukang Tawuran Jadi Penghafal Alquran

 Setiap insan mengalami cobaan hidup yang berbeda-beda. Rintangan dan cobaan itu merupakan ujian dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT untuk mengetahui kualitas iman hamba-hamba-Nya.

Adakalanya manusia menolak dan kufur nikmat, sehingga gagal menghadapi segala cobaan dari-Nya. Namun ada pula yang lulus  dan bersabar menerima segala cobaan dan ujian dari Sang Maha Kuasa.

Cobaan hidup yang terasa pahit rupanya dialami  Zaidan Agil Rofiq,   santri Ponpes Manahijussadat, Lebak. Pria  asal Tomang Jakarta Barat ini, saat masih duduk di bangku SD  tergolong siswa yang nakal.

Lingkungan sosial yang buruk kerap kali memengaruhi kehidupan bocah kelahiran 11 November 1999. Saban usai pulang sekolah bentuk-bentuk perilaku negatif seperti tawuran, perkelahian dan atau mangkal sambil menyetop mobil truk sudah menjadi kebiasaanya.

“Tawuran antarsekolah sudah menjadi kebiasaan saya. Bahkan tawuran itu saya lakukan saat menjelang sahur di bulan Ramadhan,” kisahnya.

Kenakalan remaja di kota besar Jakarta membentuk pribadi Zaidan menjadi temperamen, gampang marah, agresif dan anarkis. Saking bandelnya membuat ayahnya berang dan sempat mengusirnya.

“Saking nakalnya, ayah pernah mengusir saya dari rumah” katanya.

Meski bandel anak sulung  yang pernah aktif di bidang olah raga bola dan marawis, ini pernah menyabet juara 1 di kelas 6 SD. Namun di tengah perjalanan hidup dan buruknya lingkungan sosial pada 2011 Zaidan di usianya yang masih muda belia terpaksa harus menerima takdir kehilangan ayah tercinta akibat kecelakaan sepeda motor.

Sepeninggalan ayahnya, Zaidan menyadari atas kehilafan dan perbuatannya yang kurang terpuji. Namun keinsyafan Agil hanya sebentar saja. Sifat buruknya yang nakal dan bandel tetap tidak berubah. Jangankan belajar serius di sekolah, urusan mengajai Alquran saja tidak pernah disentuhnya.

“Sebelum masuk pesantren, saya tidak bisa baca Alquran sama sekali. Saya buta hurup banget,” ujar Zaidan.

Ternyata cobaan datang silih berganti. Setelah kepergian sang ayah ke rahmatullah, selang sebulan kemudian ibu tercinta menyusul keharibaan-Nya karena sakit stroke.

Zaidan dan adiknya harus kehilangan kedua orangtua tercinta. Jiwa Zaidan seperti remuk, goyah dan ambruk. Ayah tercinta dan ibu terkasih tempat segala curahan hati kini hampa tanpa ada di sampingnya. Masihkah Zaidan tegar mengahadapi ujian berat ini?

Di saat kehilangan orangtuanya, Zaidan justru bangkit dan menyadari atas segala kehidupannya di masa lalu yang penuh dengan catatan kelabu. Kenakalan, tawuran, perkelahian dan sederet aksi-aksi anarkis lainnya telah dikubur sedalam-dalamnya. Kini Zaidan pasrah kepada kehendak Allah SWT. Ia ikuti cahaya dan hidayah Allah itu sesuai yang dikehendaki-Nya.

“Al-hamdulillah, paman membawa saya ke pondok Manahijussadat,” ujarnya.

Kehadiran Zaidan di Pesantren tak berbekal pendidikan agama. Karena sebelum masuk pesantren dirinya tak pernah membaca huruf-huruf al-Qur’an. Ia sama sekali tak tahu apa-apa. Ia belajar dari nol.

“Pertama kali baca Alquran saya diajari  ustadz Baihaqi,” kenangnya saat ditanya terkait proses belajar mengaji.

Semangat Zaidan belajar membaca al-Qur’an juga karena dimotivasi oleh KH. Sulaiman Effendi  dengan membuka program  Tahfidul Qur’an. Apalagi pimpinan pondok saat itu akan memberi hadiah umroh bagi yang bisa menghafal 30 juz al-Qur’an.

Meskipun bukan hadiah umroh yang diharapkan Zaidan, saat itu juga ia mendaftar ke bagian Tahfid, namun ditolak karena belum lancar baca al-Qur’an. Tak ada kata putus asa di hati Zaidan. Ia langsung menghubungi Ustadz Sholeh untuk mengajarinya baca al-Qur’an. Berkat ketekunan dan pantang putus asa, Zaidan akhirnya lulus mengikuti tes Tahfidz al-Qur’an,

Dua tahun aktif di lembaga tahfidz, Zaidan berhasil mengahafal 10 juz sehingga diwisuda di acara Wisuda Perdana Tahfid al-Quran  yang diselenggarakan Lembaga Tahfidz Al-Qur’an Pondok Pesantren Manahijussadat di Aula BPPM, Ahad (1/6/2014).

Ada kisah yang sangat mengharukan saat dirinya mengikuti test tahfidz al-Quran. “Saat saya ditest hafalan al-Quran oleh ustad Asep. Entah kenapa Saya benar-benar hafal di luar kepala. Dan yang paling menakjubkan saya melihat ibu saya duduk di bagian belakang. Ibu saya mengenakan pakaian serba putih dan saat itu ibu saya menangis. Mungkin beliau terharu melihat saya” ujar Zaidan sambil menangis.

Inilah yang didambakan Zaidan, bahwa keikutsertaannya mengikuti tahfidz al-Quran adalah untuk membahagiakan kedua orangtuanya dengan memberikannya mahkota yang berkilau cahaya di surga kelak.

“Alhamdulillah hingga tahun ini saya sudah menghafal 20 juz. Bahkan sebelum lulus dari pesantren  saya harus sudah hafal semuanya. Ini semua untuk kebahagian orangtua saya di surga,” katanya.

Apa yang dikatakan Zaidan senada dengan Sabda  Rasulullah : “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orangtuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat yang cahayanya akan lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah di dunia ini. Maka apa perkiraanmu mengenai orang yang beramal dengannya?” (Ahmad, Abu Dauwud At-Tagrib). (Yudi/Ponpes Manahijussadat)***

 

You might also like