TERNYATA SUDAH LAMA ADA

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Kota Tangsel

Istilah “MODERASI BERAGAMA”  marak dibicarakan, dijadikan judul diskusi dimana mana, di kampus baik negeri maupun swasta, tokoh tokoh, pemerhati sosial, budaya, terutama tokoh tokoh agama. Tidak dapat dipungkiri ketika memperbincangkan tentang moderasi beragama, dipastikan peserta diskusi nya tidak jauh dari kelompok Agamawan.

Munculnya MODERASI BERAGAMA dilatarbelakangi oleh maraknya bermunculan sikap beragama yang terlihat semakin menipisnya perilaku “Menghormati, Menghargai” dari perseorangan atau kelompok yang kadang merasa paling benar. Sehingga langkah dan tindakan tindakannya sering kali menimbulkan, memperlihatkan sikap kurang elok terhadap saudaranya yang belum se iman atau berbeda keyakinan. Dari sinilah sepertinya muncul istilah MODERASI BERAGAMA.

Para Agamawan muslim terdahulu, baik secara personal ataupun kolektif sudah menerapkan sikap moderasi beragama. Hanya saja, istilah yang digunakan oleh para kiyai ataupun para wali menggunakan idiom “TASAMUH” yang maknanya toleransi di dalam sikap beragama. Contoh yang sederhana misalnya, dalam acara kumpul kumpul, ngariung untuk mengharumkan ruangan, sering digunakan KEMENYAN, atau DUPA yang dibakar. Padahal kemenyan dan dupa merupakan media keyakinan, agama tertentu yang diakui oleh negara yang kemudian digunakan untuk mengundang perhatian para dewa. Tokoh tokoh agama Islam tidak mempersoalkan tentang Kemenyan dan dupa, karena keduanya hanya alat atau benda,  substansi nya dimaknai hanya sebatas sebagai pengharum ruangan semata. Dan tidak serta merta menjadi berubah iman gara gara membakar kemenyan dan dupa.

Di daerah Kudus dan Banten, pada saat bulan Dzulhijjah, di dalam bulan itu ada terjadi Idul Adha, hari raya QURBAN.  Di dalam Islam, hari raya idul Adha merupakan hari raya besar dan dibarengi dengan menyembelih kambing, sapi dan kerbau. Di Kudus dan di Banten, untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dengan saudara yang se tanah air namun beda keyakinannya, maka di Kudus dan Banten diputuskan bahwa saat memotong hewan qurban pilihan nya hanya “KERBAU” karena sapi diyakini oleh sebagian masyarakat Nusantara, sapi sebagai hewan yang sangat dihormati menurut keyakinan mereka. Itu sebenarnya sikap MODERASI BERAGAMA. Sikap seperti ini sebenarnya sudah diterapkan oleh beliau para tokoh agama Islam sudah sejak lama Dan sikap seperti ini, tidak memotong sapi tapi lebih memilih memotong kerbau masih kokoh, tetap terjaga.

Subhanallah….. ternyata sikap MODERASI BERAGAMA sudah sejak lama diterapkan di daerah Kudus dan Banten. Masyarakatnya masih menjaga kebiasaan memotong kerbau sebagai hewan qurban sembelihan nya, karena pertimbangan nya klo menyembelih sapi dikhawatirkan menyakiti perasaan pemeluk agama lain. Dengan Menyembelih kerbau bukan sapi diharapkan dapat hidup rukun bersama sama sebagai masyarakat yang mencintai kerukunan dan kedamaian. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.***

You might also like