Sedekah untuk Alam

Oleh Ismat

Maha suci Allah, atas kuasamu semua yang terjadi tak ada yang luput dari takdir-Mu.
Ada budaya dan kebiasaan yang dilarang karena bertentangan dengan syariat Agama atau sisa-sisa keyakinan karena pengaruh kebiasaan yang sudah turun-temurun.
Sesajen, persembahan untuk makhluk laut, penghuni gunung, kuburan, danau, sungai nyaris hilang karena perubahan peradaban modern yang mengandalkan logika, daya pikir dan akal sehat sudah tak relevan lagi.
Namun pesan yang akan disampaikan adalah, kemurnian Agama harus kita junjung tinggi sebagai bentuk peningkatan kualitas Iman dan Taqwa tetapi kepedulian terhadap ALAM, gunung, laut, danau, sungai, hutan dan sawah serta ladang jangan dilupakan.
Gunung dieksploitasi tanpa memperhatikan dampak lingkungan harus di dijadikan kajian yang mendalam sehingga gunung tidak marah meminta tolong pada rekan sejawatnya untuk erupsi ( merapi, semeru, krakatau dkk).
Hutan berubah fungsi menjadi lahan produktif diperjual belikan menimbulkan ekosistem tak seimbang, hewan dan habibatnya hancur, varietas anggrek nusantara semakin menghilang, plasma nutfah mengikutinya sirna, lahan gambut menjadi mudah terbakar karena pohon-pohonnya ditebang akibat illegal loging, timbullah di waktu hujan air melimpah, sungai tak sanggup menampung aliran air dan meluap karena endapan lumpur meningkat dan sedimentasi terjadi.
Banjir melanda dimana-mana karena pengaruh musim, juga karena sawah yang terhampar luas, subur menghijau dijadikan pemukiman, real estate menjulang dan menjamur di setiap wilayah saat ini.
Laut seakan menyempit, karena reklamasi, nelayan kebingungan melaut karena pantaiku menghilang, perahu dan kapal nelayan susah mencari tempat bersandar, pantai nan indah, rawa tempat bercengkrama ikan bandeng bertelur untuk berkembang biak menjadi nener menghilang di dasar tanah dan batu reklamasi.
Sungaiku tak jernih lagi, limbah rumah tangga menuju sungai, sungai menyempit tak bisa bergoyang lagi, karena terkadang diubah arahnya mengikuti sang pengembang, sementara Daerah Aliran Sungai menjadi sirna berubah wajah.
Alam menegur kita, alam bicara pada kita, marah pada kita, kembalikan wajahku yang tercoreng dan tidak cantik lagi, rambutku botak kau cukur habis, hidungku tersumbat menyempit, gunung gunung berteriak seakan memendam amarah, angin bertiup, menerjang, laut bergolak, bergelombang memecah karang lengkaplah sudah, Alamku yang tak tidur tenang.
Pahami, renungi, gunakan hati, sehingga tak banyak lagi yang bersedih hati.
Pesta laut hilang tapi ungkapan syukur tak boleh hilang.
Sesajian untuk gunung dan pohon hilang tapi gunung dan pohon jangan dihilangkan.
Beras impor bisa kita dapatkan tapi sawah jangan dihilangkan.
Kita butuh batu, split, abu batu tapi jangan sampai gunung diratakan.
Pelabuhan kita perlukan tapi sisakan untuk nelayan melaut demi penghidupan.
Semoga ALAM ramah lagi pada kita, ketika kita bijak pada ALAM.
MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA.

You might also like