Sebaik-baiknya Amal

Oleh Enzen Okta Rifa’i

 Alumnus Ponpes Al-Bayan. Studi S1 di International University of Africa, Republik Sudan

Ilmu terbaik, menurut Imam Ghazali, adalah ilmu yang mengandung aspek wahyu sekaligus akal pikiran manusia. Sedangkan ilmu yang hanya mengandalkan pikiran (rasio) atau hanya mengandalkan wahyu saja (hafalan) termasuk ilmu yang kualitasnya rendah.

Ini bukan berarti kualitas wahyu itu rendah, tetapi ia sebagai ilmu – apabila tidak diolah dengan tafsir yang baik – akan mudah menjerumuskan orang kepada “salah tafsir”, yang justru mengandung makna sebaliknya dari teks-teks yang tertulis. Kita mengenal para penganut Khawarij yang konon banyak yang sanggup menghafal Alquran. Tetapi, perilakunya terbilang anarkis dan radikalis, hingga seorang Abdurrahman bin Muljam – yang dulu terkenal kesalehannya – justru berani melakukan tindakan anarkis dengan mengatasnamakan teks-teks agama.

Sebaliknya, ilmu yang baik juga belum cukup hanya mengandalkan akal dan rasio, melainkan harus disertai koneksitas dengan wahyu. Tetapi, wahyu yang hanya mengandalkan hafalan (tahfidz) tanpa penafsiran yang baik dari kekuatan akal, dapat membuat orang tersesat dan menyimpang dari kebenaran universal.

Bagi Imam Ghazali, ilmu yang hanya mengandalkan wahyu (naqliyyun mahdlun) akan rendah kualitasnya, ketimbang dengan memadukannya dengan kemampuan otak. Tidak ada yang istimewa bagi orang yang hanya bertumpu pada hafalan melulu, sebab anak kecil pun bisa ketika memorinya dilatih sedemikian rupa. Tetapi, pengolahan wahyu dengan akal pikiran membutuhkan mental spiritual yang memadai. Kedewasaan yang tumbuh karena mampu menyerap pengalaman hidup sebagai pengetahuan yang berharga.

Sedangkan, ilmu yang hanya mengandalkan rasio, dapat juga menggelincirkan manusia kepada sikap ujub, riya dan takabur. Sehingga manusia bisa lupa bahwa kualitas kecerdasannya hanya mungkin terwujud berkat kehendak dan kekuasaan Allah Swt. Kalau saja Allah menghendaki seseorang lupa atau pikun, mudah saja bagi-Nya untuk mencabut daya ingat (memori) yang selama ini menyertai otak dan pikirannya.

“Ilmu yang paling mulia,” tegas Imam Ghazali, “adalah ilmu yang memadukan akal dan wahyu, bumi dan langit.”

Dengan kekuatan akalnya, manusia sanggup mengolah wahyu, menelaah dan menganalisis. Karena itu, dapat dipahami jika Rasulullah dengan tegas bersabda: “Agama adalah akal. Tidak beragama dengan baik, orang yang tidak mengoptimalkan kemampuan akalnya.” (Addinu hual aqlu, la dina liman la aqla lahu).

Seorang ulama besar dari Mesir, Musthafa Abdurraziq (1885-1947) mengulas lebih jauh perihal filsafat Barat yang berakar dari tanah Yunani. Baginya, ilmu ushul fiqh adalah filsafat yang mengacu langsung dari ajaran Islam, dan diolah demi kemaslahatan manusia. Karena itu, dunia Islam – menurut Abdurraziq – memiliki corak filsafat tersendiri, yang tidak harus mengacu dari ajaran Socrates, Plato maupun Aristoteles.

Pernyataan ulama dan Syekh Al-Azhar tersebut sekaligus menjawab anggapan kaum atheist atau new-atheist yang berpendapat bahwa kaum beragama (homo religious) selalu bersikap irasional tak masuk akal, serta menegasikan peran pikiran. Padahal, justru beriman dan beragama yang baik hanya mungkin diselenggarakan dengan mengandalkan kekuatan rasio dan akal sehat manusia.

Dari perspektif lain, di Banten ini ada sebagian kaum akademisi dan intelektual mengotak-ngotak peranan ilmu dan amal. Seolah ada dikotomi antara ilmu dan amal, antara pengetahuan dan tindakan manusia. Ilmu yang tercermin dengan buku dan tulisan, seolah hanya teori dan bukan termasuk kategori praksis dan amal perbuatan.

Dikotomi tersebut seolah memberi kesan bahwa apa yang disebut amal sebatas pada apa yang dilakukan oleh fisik dan badan. Seolah-olah ilmu itu hanya wacana dan opini, bukan praksis dan amal yang konkret.

Dalam konteks ini, Imam Ghazali memiliki pandangan yang sangat genuine dan visioner, bahwa ilmu adalah amal dan tindakan. Bahkan, lebih jauh beliau menandaskan, justru ilmu itu adalah amal yang terbaik. Baginya, hakikat ilmu memang bukan hasil dari olah badan atau perbuatan fisik, tetapi ia dihasilkan dari tindakan rasio dan akal pikiran (al-qalb).

Imam Ghazali menyebutnya al-qalb yang seringkali diartikan sebagai “hati”, tetapi lebih tepat penerjemahan al-qalb adalah “rasio” dan “akal pikiran”, bukan sekadar hati yang tergolong bagian dari organ tubuh manusia.

Oleh karena itu, otak dan pikiran termasuk anggota tubuh yang paling baik dan mulia (a’azzul a’dla). Ia melampaui kemuliaan anggota tubuh lainnya, seperti tangan, kaki, mata, telinga, mulut dan seterusnya. Dengan ini – lanjut Imam Ghazali – tindakan yang dilakukan akal pikiran adalah sebaik-baiknya tindakan manusia.

Maka dari itu, teruslah berwacana dan beropini, teruslah berkarya dan menulis yang baik. Jangan patah arang, karena hakikat ilmu yang diproduksi dari anggota tubuh terbaik dan termulia, tak lain merupakan sebaik-baiknya amal perbuatan manusia. *

 

You might also like