SASTRAWAN PENERJEMAH ALQURAN

Oleh Ilzamudin Ma’mur

Pengurus LPTQ Provinsi Banten

The Qur’an has never failed to unfold its meanings to those who seek knowledge, and has remained contemporary and a Book of the future.

Al-Qur’an tidak pernah gagal untuk menyingkapkan makna-maknanya kepada mereka yang menuntut ilmu, dan tetap sebagai Kitab kontemporer dan Kitab masa depan.

(Ahmed Ali, 1993)

            Berawal sebagai penulis karya sastra, Ahmed Ali tergerak hati dan pikirannya untuk menerjemah al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris.  Karya sastranya meliputi cerita pendek, puisi, hingga  novel. Bahkan Ahmed Ali dikenal sebagi pionir dalam cerita pendek modern bahasa Urdu, yakni bahasa yang umumnya digunakan Muslim di Anak Benua India, Asia Selatan. Selain sastrawan Ali juga dikenal sebagai penerjemah karya sastra, tidak saja dari bahasa Arab, tetapi ia juga menerjemah karya sastra dari bahasa Cina dan Indonesia ke dalam bahasa Urdu.

Biografi Intelektual

Ahmed Ali lahir di Delhi, British India, pada 1 Juli 1910, nyaris sezaman dengan Muhammad Asad, yang juga penerjemah al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris, The Message of the Qur’an. Ahmed Ali adalah figur multi talenta yang dikemudian hari dikenal sebagai sastrawan terkemuka, penulis, penerjemah, diplomat, akademisi dan pebisnis. Pendidikan tingginya, untuk tingkat baccalaureate dan magister diselesaikan Ali di Lucknow University, Lucknow, Uttar Pradesh, India, masing-masing pada 1930 dan 1931, serta  pendidikan doktoralnya dituntaskan Ali di Aligarh Muslim University, sebuah perguruan tinggi Islam kenamaan tertua di India, yang didirikan oleh Sir Syed Ahmad Khan, dikenal sebagai pembaharu pemikiran dan pendidikan Islam, di Aligarh, Uttar Pradesh, India, pada 1875.

Talenta dan minat sastra Ali sudah nampak sejak muda. Oleh karenanya tidakalah berlebihan  kalau kemudian Ali dinobatkan sebagai pionir bidang penulisan cerita pendek modern dalam bahasa Urdu. Sebagai penulis yang prolific dan antusias, Ali juga mendirikan All-India Progressive Writers’ Movement (Gerakan Para Penulis Progresif Semua India), sebagai wadah bagi para penulis berbakat India, sebuah organisasi nirlaba yang kemudian diperluas menjadi All-India Progressive Writers’ Association (Asosiasi Para Penulis Progresif Semua India).

Seperti Muhammad Asad, Ahmed Ali juga menguasai beberapa bahasa antara lain Urdu, Inggris, Arab, Cina dan kemungkinan juga bahasa Indonesia, sebagaimana terefleksikan dalam karya-karyanya. Debut reputasi internasional Ali, dimulai dengan diterbitkan novel pertamanya dalam bahasa Inggris yang juga diterbitkan di Inggris dengan judul Twilight in Delhi (1940), cetakan terakhir diterbitkan oleh Rupa Publications India pada 2008. Karya tersebut disusul dengan novel kedua yang berjudul Ocean of Night (1964), dan  Of Rats and Diplomats (1984). Adapun karya sastra terjemahan Ali antara lain : The Golden Tradition: An Anthology of Urdu Poetry (1992), dan  The Flaming Earth: Poems from Indonesia (1949), sebuah bunga rampai sajak-sajak terpilih Indonesia yang disunting dan deberi kata pengantar oleh Ahmed Ali.

 

Sebagai akademisi, Ali pernah mengajar sebagai professor di beberapa perguruan tinggi ternama di India seperti Allahabad University, Lucknow University, dan Presidency College, serta di luar negeri sebagai  profesor tamu di Nanjing University, sebuah unversitas umum tertua di Nanjing, Jiangsu, Republik Rakyat Tiongkok. Akhirnya ketika Pakistan merdeka dan berpisah dari India, Ahmed Ali memilih bergabung dengan Pakistan dan bermukin di Karachi hingga wafatnya pada 14 Januari 1994. Di Pakistan beberapa jabatan kepemerintahan pernah diembannya antara lain, sebagai Direktur Publisitas Luar Negeri  Pemerintah Pakistan, serta masa Perdana meneteri Liaqat Ali Khan, Ali menjabat di kantor Layanan Luar Negeri Paksitan pada 1950.

Sebagai bukti pengakuan dan penghargaan atas kontribusi dan jasa-jasanya  terhadap Pakistan dan dunia Islam, Ali dianugerahi Sitara-i-Imtiaz, Bintang Keunggulan, dari Presiden Republik Islam Pakistan, Muhammad Zia-ul-Haq, pada 1980. Suatu penghargaan tertinggi ketiga yang diberikan pemerintah Pakistan kepada individu khususnya yang telah berkontribusi maksimal terhadap keamanan atau kepentingan nasional Pakistan, perdamaian dunia, dan kebudayaan. Bahkan pada 14 Januari 2005, Kantor Pos Pakistan menerbitkan perangko khusus bergambar dirinya dalam serial ‘men of letters’ sebagai peghargaan dalam peringatan sepuluh tahun kewafatanya.

 

Terjemahan al-Qur’an

            Al-Qur’an : A Contemporary Translation adalah judul karya terjemahan Ahmed Ali. Terjemahan Ali tersebut dterbitkan untuk pertama kalinya oleh Akrash Publishing, Karachi, Pakistan, pada 1984 dan 1986 serta Oxford University Press, India, pada 1987. Selanjutnya edisi revisinya diterbitkan lagi oleh Princeton University Press, Amerika Serikat,  pada 1988 dan terakir oleh penerbit yang sama pada 1992 dan 2001. Terjemahan Ali ini disajikan dengan model paralel, yakni pada setiap halaman, teks asli bahasa Arab di sebelah kanan berdampingan dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris di sebelah kiri, dengan tujuan guna mendorong agar pembaca langsung memahaminya dalam dua bahasa, bila memungkinkan. Ali juga menyisipkan catatan penjelasan bila mana dipandang perlu, dengan cara memberikan makna penuh pada setiap kata dan frasa. Berbeda dengan karya Muhmmad Mamarmaduke William Pickthall, Abudllah Yusuf Ali, dan Muhammad Asad, yang diawali dengan pendahuluan yang cukup panjang, serta penjelasan pada setiap awal surat, Ahmed Ali langsung menyuguhkan terjemahan dengan model parallel ayat per ayat. Berbdeda dengan Picthall dan Asad, Ali alih-alih menggunakan kata God, tetap mempertahankan kata Allah sebagaimana Abdullah Yusuf Ali. Persamaan dengan para pendahulunya adalah pendekatan penerjememahannya adalah harfiah, penerjemahan yang setia pada bahasa sumbernya, sebuah pendekatan yang dalam klasifikasi Peter Newmark, professor penerhemahan dari Inggris, disebut dengan semantic translation (1988).

Tujuan Ali dalam menerjemah Al-Qur’an sebagaimana dikatakan dalam Prawacana singktanya bahwa “My attempt has been to give the rendering as faithfully as possible whithin the limits of another language wholly divergent in syntax, structure and scriptural development; and every language has its nuances and metaphorical use of words.” Yakni, upaya saya adalah untuk memberikan terjemahan sesetia mungkin di dalam batasan-batasan bahasa lain yang sepenuhnya berbeda dalam sintaksis, struktur, dan perkemabangan skriptur; dan setiap bahasa memiliki penggunaan nuasna dan metaforan kata-kata sendiri (1994). Berbeda dengan karya terjemahan Muhammad Asad yang ‘menginggriskan’ God untuk padanan Allah, Ahmed Ali tetap menggunakan nama Allah dan Rasul yang berarti sama dengan Muhammad Pickthall dan Abdullah Yusuf Ali. Ahmed Ali dalam melakukan terjemahan menggunakan banyak rujukan, terutama leksikon bahasa Arab,  antara lain, adalah : Abul Qasim al-Raghib, Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, Ibn Faris, Muqa’is al-Lughat, Abu Fadl Muhmmad bin Mukarram, Lisan al-‘Arab, Murtada az-Zabidi, Taj al-‘Urus, dan Patras Buttani, Muhit al-Muhit.

Mengomentari karya terjemahan Ali, Prof. Dr. Fazlur Rahman, pemikir modern Islam dari Chicago University, Amerika Serikat, bahwa ‘terjemahan al-Qur’an ini bertujuan untuk melakukan sesuatu yang baru – ia berusaha menghadirkan ritme bahasa dan alunan Al-Qur’an. Terjemahan tersebut juga berbeda dengan terjemahan tradisional dalam hal ia mememberikan penjelasan lebih baik terhadap konsep-konsep yang penting.” Masih menutut pengamat, bahwa Al-Qur’an: A Contemporary Translation adalah sebagai kontribusi Ali yang paling menonjol dalam dunia penerjemahan. Sementara Francis Edward Peters, seorang professor emeritus bidang Sejarah, Agama serta Kajian Timur Tengah dan Islam dari  New York University, menambahkan pernyataan testimoninya bahwa “Karya Ahmed Ali tersebut cukup jelas, langsung, dan elegan – suatu kombinasi kearifan stilistika yang hampir tidak dapat ditemukan dalam terjemahan al-Qur’an lain. Karyanya adalah yang terbaik yang pernah saya baca.” Wallahu a’lam bi al-shawab !!!

 

 

 

 

You might also like