Refleksi Diri di Akhir Tahun

Oleh Adung Abdul Haris

Pemerhati Keagamaan

Bulan Desember merupakan bulan terakhir dalam kalender Masehi. Namun di penghujung tahun 2020 ini, kita semua selaku warga masyarakat bangsa ini, tentunya masih dirundung rasa keprihatinan, karena masih adanya (penyakit) Covid 19, kemudian beberapa waktu yang lalu juga telah terjadi (insiden baku tembak) antara aparat penegak hukum dengan Laskar Ormas tertentu, dan lain sebagainya, yang akhirnya memunculkan rasa intersinisme di tengah-tengah masyarakat.

Secara ontologis, bahwa judul tulisan yang penulis kemukakan (sebagaimana yang sedang anda baca ini), adalah menukik pada soal “Refleksi Diri”.

Sedangkan kata refleksi berasal dari kata reflect, artinya menggambarkan, mencerminkan, dan membayangkan. Maknanya, segala tindakan yang dilaksanakan merupakan gambaran dirinya. Yakni, setiap orang (individu) dapat memberikan penilaian terhadap tindakan yang telah dilakukannya masing-masing selama kurun waktu satu tahun.

Sedangkan dalam konteks manajemen modern misalnya, bahwa refleksi dimaknai sebagai upaya evaluasi, yaitu mengevaluir suatu pekerjaan setelah perencanaan dan pelaksanaan. Maknanya, evaluasi dilakukan pada akhir suatu kegiatan. Sifatnya berupa penilaian, perbaikan, masukan terhadap kegiatan yang telah dilakukan, dan menganalisa kegiatan selanjutnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dapat dikatakan, bahwa refleksi merupakan perenungan diri terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan.

Apakah kegiatan tersebut berhasil? Ataukah gagal? Bagaimana hambatannya? Apa tantangannya? Bagaimana cara mengatasi masalahnya? Apa saja sumber dayanya? Siapa yang melakukannya? Dengan siapa mereka bekerjasama? Bagaimana cara pembagian kerjanya? Kapan deadline-nya? Dan lain sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan di atas, ada korelasinya juga dengan refleksi diri di akhir tahun, yaitu berkaitan erat dengan manajemen waktu. Karena, sesungguhnya waktu itu hidup dan hidup itu menjalani waktu. Menurut pandangan penulis, bahwa kerapkali juga ada orang-orang yang “keteter” dalam mengatur waktu kegiatannya. Tapi ada pula, orang-orang yang “longgar” dalam mengatur waktu kegiatannya. Padahal, Tuhan memberikan alokasi waktu pada setiap orang adalah sama, yaitu dua puluh empat jam sehari semalam.

Menurut salah seorang analisis dari Barat (Davidson), bahwa manajemen waktu adalah menyelesaikan sesuatu dengan lebih cepat dan bekerja lebih cerdas. Orang yang mampu mengatur waktu dengan baik, ia akan mengoptimalkan pekerjaannya. Ia berprinsip tidak diatur oleh waktu, tapi ia yang mengatur waktu, untuk memberikan nilai guna (use value) kepada orang lain. Ia tidak ingin menjadi orang yang tak mampu menghargai waktu, karena waktu terus berjalan, tanpa adanya pekerjaan yang dilakukannya.

Waktu ibarat air yang mengalir di sungai, tidak ada suaranya dan tenang. Ia melewati kota, jalan raya, pemukiman, dan lainnya. Begitu juga waktu, akan selalu melewati masa anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Lantas, apakah waktu berkata, “Aku waktu, aku waktu, tolong jangan sia-siakan Aku”. Dan tentunya sesuatu yang tidak mungkin waktu akan “berteriak-teriak” seperti itu.

Sedangkan contoh yang lebih riil misalnya. Kita semua mengenal Mark Zuckerberg, yaitu sebagai seorang pemuda penemu akun facebook pada usia 20 tahun, yang hingga saat ini gara-gara menemukan facebook itu, Mark Zuckerberg, akhirnya ia menjadi seorang miliyader di dunia. Dan pastinya Mark Zuckerberg, ia adalah salah seorang yang pandai me-manage waktu. Tidak mungkin, ia bermalas-malasan dalam kesehariannya. Ia memahami tentang waktu yang tidak bisa kembali (terulang). Oleh karenanya, ia cerdas membuat perencanaan strategis, memprioritaskan kegiatan yang mendesak, dan menyusun langkah kerja untuk tercapainya tujuan. Ia hanya kerja, kerja, dan kerja. Ia mampu menerapkan evaluasi awal (pretest) dan akhir (posttest). Sehingga Facebook akhirnya menjadi salah satu perusahaan raksasa di seantero jagat raya ini.

Prestest, ia gunakan untuk menguji konsep dan mengeksekusi rencana yang telah ditentukan. Sedangkan posttest, ia gunakan untuk melihat terca

painya suatu tujuan dan dijadikan sebagai masukan serta menganalisa kegiatan selanjutnya.
Simple-nya, tidak ada kegiatan yang “asal jalan”. Semua tertata dengan rapi, sehingga mampu menggunakan sumber daya secara maksimal, mudah dalam berkoordinasi dan memprediksi (forecast) keadaan berikutnya. Melalui cara-cara tersebut, menjadikan Mark Zuckerberg menghormati waktu.

Sedangkan menghormati waktu dapat juga dilakukan dengan cara berbuat baik kepada sesama (amilussolihati). Jika kita melakukan kebaikan kepada orang lain, maka kita memiliki nilai kemanfaatan, sehingga berdampak pula pada organisasi/instansi dimana kita bekerja.

Dengan demikian, bahwa Tuhan pun akan mencintai kepada kita semua, karena kita bukan termasuk orang yang merugi (khusri). Hal tersebut sebagaimana telah ditegaskan di dalam Al-qur’an, yaitu pada Surat Al-Hasr. “Wal Asri Innal Insana Lafi Khusrin Ila, ilallazina Amanu Wa’amilussholihati”.

Oleh karena itu, marilah kita semua untuk sama-sama melakukan refleksi diri di akhir tahun ini, yakni dengan cara untuk terus me-manage waktu untuk hari esok (jauh lebih baik). Jadilah, kita sebagai orang yang pandai mengatur waktu, bukan orang yang diatur waktu. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa makna. Hormatilah waktu dengan berbuat baik, sehingga memberi kemanfaatan untuk diri kita maupun untuk orang lain. Semoga, kita tidak termasuk orang yang merugi, karena waktu. Amin.

You might also like