PEDATI DI BAWAH CAHAYA BINTANG

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Kota Tangerng Selatan

Bagi generasi yang lahir tahun 1950 atau tahun 1960 an pasti ingat alat transportasi pada saat itu hanya kuda, sapi, kerbau atau keledai. Ketika dibutuhkan untuk membawa benda lebih banyak dan jarak tempuhnya sangat jauh, maka biasanya menggunakan Pedati.

 

Bagi kami masyarakat pedesaan mobil merupakan alat transportasi mewah sehingga di desa kami pada saat itu belum ada, walaupun ada mobil itu hanya di pusat kota. Untuk angkutan penumpang perorangan cukup dengan menaiki sepeda onthel. Sedangkan motor roda dua belum ada. Lagi lagi kendaraan bermotor baik roda dua dan roda empat hanya milik masyarakat perkotaan, dan hanya orang orang kota yang berkesempatan untuk menikmati nya. Sedangkan bagi kami masyarakat pedesaan, belum berkesempatan menaiki kendaraan bermotor baik roda dua ataupun yang roda empat.

 

PEDATI merupakan alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut barang barang yang jumlahnya lebih banyak. Seperti mengangkut padi hasil panen dari sawah, mengangkut kayu, bambu yang jumlahnya banyak dan tempat tujuannya sangat jauh. PEDATI biasanya ditariknya oleh seekor sapi, kerbau atau kuda. Tetapi pada umumnya pedati menggunakan tenaga seekor sapi.

Ada yang sangat unik dan menarik pada PEDATI, walaupun pak kusirnya lelap tidur di atas tumpukan kayu atau bambu yang diangkut di atas Pedati, sapi itu tetap berjalan menyusuri arah jalan yang dimaksud, seakan akan sapi itu sudah tahu dan mengenal alamat dan tujuan nya pak kusir. Yang menakjubkan, PEDATI dan pak kusir menganggap cukup nyaman berjalan di bawah cahaya bintang gemintang di atas langit. Dengan pancaran cahaya bintang gemintang pak kusir merasa nyaman dan yakin akan sampai ke tempat tujuan dan barang bawaannya tetap aman dan utuh.

 

Pak Ustadz Dzul Birri memberikan analisa dan analoginya tentang perjalanan suasana tanah Nusantara saat ini seperti cerita pedati di atas. Pak kusir Tanah Nusantara sangat merasa terbantu dengan adanya cahaya bintang gemintang yang dapat menerangi keadaan jalur jalan yang ditempuh nya.

 

Cerita PEDATI di bawah cahaya bintang gemintang itu disampaikan oleh pak ustadz Dzul Birri pada saat Pengajian malam Jum’at Kliwonannya kemarin.

Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan

You might also like