PADAHAL, IBUKU HANYA IBU SAMBUNG

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Tangerang Selatan

Bagi masyarakat muslim khususnya di tanah Nusantara memiliki tradisi dan budaya yang sama, budaya itu semarak dilakukan oleh masyarakat muslim pada hari raya idul Fitri dan idul Adha. Budaya berkunjung dari rumah ke rumah mewarnai suasana hari raya.

Biasanya selepas melaksanakan shalat idul Fitri ataupun shalat idul Adha semua jama’ah baik yang mengikuti shalat id nya di masjid ataupun yang shalatnya di lapangan ada yang langsung mengunjungi rumah orang tuanyaa, keluarga dan sahabatnya.

yang usianya lebih muda biasanya mengunjungi keluarganya yang usianya jauh lebih sepuh. Para jama’ah biasanya berkunjung ke guru tetap pengajiannya. Para santri biasanya berkunjung ke rumah para kiyainya.

 

Kang Kurdi mempunyai ayah bernama pak Sukmajaya sedangkan ibunya bernama Sumini almarhumah. Seiring berjalannya waktu pak Sukmajaya yang telah lumayan lama menduda bertemu dengan seorang wanita bernama ibu Sofiyah yang sudah lima tahun ditinggal wafat suaminya. Ibu Sofiyah membawa satu putra dari hasil pernikahan dengan suaminya almarhum bernama kang Kholidin. Walaupun keduanya Berbeda ayah dan berbeda ibu, tetapi pertemuan keduanya antara kang Kurdi dengan kang Kholidin dengan ikatan agama sehingga keduanya seperti saudara se ayah dan se ibu.

 

Subhaanallah……

Rasa hormat kang Kurdi kepada ibu sambungnya Bu Sofiah melebihi sikap hormat anaknya sendiri, yaitu kang Kholidin. Walaupun statusnya hanya ibu sambung, akan tetapi kang Kurdi berusaha memuliakan dan membahagiakan ibu Sofiyah. Kebetulan tempat kang Kurdi dengan rumah bu Sofiyah hanya beda kecamatan saja, sehingga kang Kurdi dapat berkunjung ke rumah Bu Sofiyah bisa setiap dua pekan sekali. Sebenarnya kondisi keuangan kang Kurdi tidak jauh berbeda dengan para tetangganya. Sebagai orang buruh tani tentu saja perolehan upahnya terbatas. Di rumah kang Kurdi buka bengkel tambal ban sepeda dan motor. Dengan tujuh anak, sepertinya Allah memberkahi langkah langkahnya. Atas izin Allah, kang Kurdi dapat hidup berkecukupan walaupun tidak berlebihan. Sehingga setiap kali berkunjung ke rumah Bu Sofiyah selalu berusaha untuk membahagiakan ibu sambungnya.

 

Yang menakjubkan cerita kang Kholidin tentang keluhuran budi kang Kurdi. Setiap hari raya idul Fitri kang Kurdi datang ke rumah ibu Sofiyah, setelah itu minta kepada ibu sambungnya untuk duduk di atas kursi, terus membasuh telapak kakinya. Yang membuat terbengong bengong kang Kholidin, air bekas cucian kaki ibunya diminum oleh kang Kurdi. Padahal kang Kholidin sendiri walaupun anak kandungnya, belum pernah melakukan apa yang sudah dilakukan oleh kang Kurdi. Ketika ditanya, jawab kang Kurdi alasannya sangat sederhana.

“Saya ini orang kampung, orang awam, hanya mengharapkan keberkahan hidup dan ridho Allah, yang bisa dilakukan hanya seperti itu” cerita kang Kholidin kepada pak ustadz Dzul Birri. Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan

Selamat Hari Ibu. Semoga dapat membahagiakan

(Sabiluna, Senin 21 Desember 20 20 jam 17.17)

You might also like