ORANG BAIK dan SALIH

KH.Eeng Nurhaeni

Pendiri Pondok Pesantren Al-Bayan, Alfafa, dan Multazam Lebak

Orang-orang berilmu sejatinya adalah orang-orang yang menolak mistisisme. Dongeng-dongeng tradisional, petuah-petuah leluhur Banten, sarat dengan kisah-kisah mistik.

Orang yang beranjak dewasa dan berpendidikan, semakin meningkat kualitas ilmunya, sehingga menumbuhkan pola-pikir yang bersifat antitesis terhadap segala hal yang mengandung petuah maupun dongeng-dongeng leluhur.

Orang yang semakin berilmu, cara berpikirnya logis dan rasional. Konsekuensinya, rasionalitas akan dikedepankan, intelektualitas akan diutamakan, bahkan tidak jarang menjurus pada penghambaan terhadap dunia intelektual (intelektualisme).

Pata tataran ini, ia akan menolak segala hal yang berkaitan dengan mistisisme, bahkan menolak sesuatu yang gaib dan tak terindera dengan kasatmata. Penghambaan terhadap rasio, akan menjurus kepada penolakan terhadap keimanan pada Tuhan yang bersifat gaib tak kasatmata.

Dalam bahasa Indonesia, kata ‘iman’ (dari bahasa Arab) diterjemahkan dengan “percaya”. Keimanan pada Tuhan diartikan sebagai kepercayaan kepada Tuhan.

Di dalam rukun iman, umat Islam dianjurkan percaya pada hal-hal gaib, termasuk makhluk halus, jin, ruh, malaikat, iblis, surga-neraka dan seterusnya. Kepercayaan pada kegaiban yang seringkali menjadi rujukan masyarakat tradisional untuk memercayai mitos-mitos dan sakralitas leluhur, sulit mendapat tempat dalam kosmos masyarakat terdidik yang mengacu pada rasionalitas berpikir.

 

Iman tanpa syarat

 

Masyarakat Banten (Indonesia) membedakan terminologi kebaikan dengan kesalehan, padahal mendidik anak agar menjadi saleh bertujuan agar seorang anak menjadi baik tingkah-lakunya, perangainya, kepribadiannya (akhlaknya).

Begitupun perintah sembahyang (salat) dianjurkan agar manusia terhindar dari kejahatan dan kelaliman (fahsya wal-munkar). Tetapi, mengapa seringkali kita temukan orang-orang yang kelihatan saleh dan alim, rajin beribadah, tapi sekaligus menjadi taat pada perintah atasan agar berbuat anarkis dan melakukan kerusuhan?

Hal tersebut, karena kesalehan (amal saleh) yang dipraktikkannya hanyalah ketaatan buta (taqlid) yang tidak pernah mengenai sasaran untuk mempersoalkan tujuan dari ibadahnya. Secara religius, itulah yang disebut keimanan tanpa ilmu, hingga menjurus kepada kesesatan beramal dan bertindak.

Baginya, apa yang menjadi petuah atasan adalah kebenaran yang wajib diamalkan. Karena petuah (berasal dari bahasa Arab, ‘fatwa’) dari sang mursyid atau mentor dianggap suci dan kudus. Penolakan terhadapnya berarti pengingkaran dan pengkhianatan.

Kita menyaksikan bagaimana tindakan para perusuh di sekitar 21-22 Mei 2019, paralel dengan tindakan kerusuhan Mei 1998. Dalam novel Pikiran Orang Indonesia, penulisna mencoba memparalelkan peristiwa-peristiwa tersebut yang berakar dari munculnya rezim kekuasaan Orde Baru (1965) di seputar pembentukan citra suatu ordo yang dinamakan “baru”, kemudian menenggelamkan zaman Soekarno yang disebut Orde Lama.

Rezim itu kemudian menyeragamkan kepercayaan dan keimanan masyarakat Indonesia yang bersumber dari pernyataan politik semata (hoaks) dan bukan pernyataan ilmiah. Pelaku G30S dituduhkan secara sepihak sebagai tindakan partai, organisasi kaum buruh dan tani (BTI) dituduh terlibat dan dipenjarakan (tanpa proses pengadilan), para wanita aktivis dan pekerja sosial (Gerwani) dicitrakan seolah-olah telah melakukan tarian-tarian di depan mayat para jenderal.

Iman tanpa ilmu

Ketika seorang perusuh diberi perintah, bahkan dipersenjatai, justru ia merasa dirinya telah dibekali kepercayaan, sebagaimana perintah kepada kaum teroris untuk bergerak secara independen melakukan tindak kekerasan.

Tak ada pertimbangan akal sehat, karena baginya setiap musuh tidak memiliki sejarah masa lalu. Setiap musuh adalah jahat, dan tidak akan berproses menjadi baik. Setiap musuh – termasuk anak-anak, wanita, dan lansia – seakan makhluk hidup yang tiba-tiba menyembul di atas muka bumi. Ia mengejawantahkan diri, mewujud, dan terlahir saat ini juga, kemudian dianggap momok yang sah dan layak untuk dimusnahkan.

Orang Banten yang saleh dan taat beribadah, tetapi juga taat diperintah atasan agar melakukan tindakan anarki dan kekerasan, bukanlah seorang beradab yang mengenal nilai-nilai kemanusiaan (humanitas). Secara religius, para pelaku terorisme di negeri ini (termasuk Banten), seumumnya dikenal saleh dan taat beribadah.

Karena itu, dalam konteks Indonesia, iman identik dengan kebaikan atau perbuatan baik. Sedangkan saleh, identik dengan alim atau taat beribadah, betapapun rendahnya kualitas ilmunya.

Maka, seorang liberal yang humanis tidak identik seorang yang saleh, meskipun ia adalah orang baik dan berilmu. Orang saleh yang taat beribadah, mungkin saja seorang bodoh dan minim ilmunya, yang bisa diperalat dan dipolitisasi oleh kepentingan politik tertentu. Meskipun tentu saja yang paling ideal, kita menghendaki masyarakat menjadi baik perilakunya, cerdas pikirannya, sekaligus saleh amal perbuatannya.

Orang Banten yang saleh namun diperalat untuk melakukan tindakan terorisme, pada umumnya mengakui bahwa niat-niat mereka adalah baik. Demi untuk meluruskan dan menyempurnakan kehidupan manusia di muka bumi ini. Sebagaimana perintah agama dalam amr ma’ruf dan nahi munkar.

Tetapi, bagaimana mungkin manusia bersikap keras dan anarkis dalam menegakkan kebaikan, pada saat dirinya sendiri adalah makhluk yang sama-sama berproses menuju kebaikan?

Apakah sebegitu bersih dan sucinya, sehingga merasa berhak mencegah keji dan mungkar dengan cara-cara teror yang radikal, seakan-akan mengambil-alih hak yang hanya ada pada kewenangan dan kesucian Allah? Bukankah manusia memiliki kodrat sebagai makhluk tak sempurna, sehingga ketika kita memerintahkan berbuat baik, pada saat bersamaan kita – yang memberi perintah pun – sedang sama-sama berporoses menuju kebaikan?

Itulah mengapa dalam Alquran termaktub syarat utama dalam pola penyampaian dakwah, agar orang-orang beriman mengajak ke jalan kebenaran dengan cara-cara yang ramah dan santun (bil-hikmah wal mau’idhatil hasanah). Dalam pikiran orang Banten yang keranjingan jihad ofensif (pseudo-jihadisme), seringkali yang utama dan prioritas justru dikesampingkan, sehingga mereka menuruti hawa nafsunya untuk mempraktikkan dakwah agama dengan tanpa mengindahkan psikologi massa atau kebudayaan lokal setempat.

Eksoteris dan esoteris

Dalam istilah fenomenologi agama, kita mengenal ‘eksoteris’ sebagai jalan menuju Tuhan melalui perantaraan praktik beribadah di tempat-tempat peribadatan. Masing-masing agama punya teori dan ruang-waktu yang dianggap sah dan benar (truth claim) untuk mencapai jalan Tuhan.

Dalam konteks keindonesiaan (pasca 1965), truth claim yang sejatinya berpraktik di wilayah iman dalam kehidupan manusia beragama, telah didompleng sedemikian rupa untuk tujuan-tujuan kekuasaan militerisme. Tanpa dikendalikan oleh kekuatan ilmu dan nilai-nilai kemanusiaan, akhlak dan perilaku manusia bisa merosot, karena diperalat dan diarahkan untuk kepentingan politik-praktis yang dari kodratnya selalu menjurus ke dalam hasrat dan nafsu kebinatangan (asfala safilin).*

 

You might also like