MEYAKINI BANJIR SEBAGAI TAKDIR ALLAH

Oleh Endang Yusro

Founder Mata Pena Indonesia

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Mengawali renungan ini adalah QS. Al-Hadid ayat 22 – 23, bahwa benar segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT., yang kita mengenalnya sebagai ketentuan atau takdir dan qadha’. Allah S.W.T. telah mentakdirkan dan menetapkan keputusan-Nya (qadha’) sebelum menciptakan langit dan bumi. Semua makhluk sesungguhnya hanya menjalankan goresan pena-Nya.

Berkaitan dengan kandungan surah tersebut sebagaimana terjemahannya dalam Bahasa Indonesia penulis kutip pada awal renungan ini adalah “BANJIR” yang melanda hampir di seluruh daerah di Negeri ini. Banjir merupakan bencana alam yang menimpa manusia karena beberapa alasan. Ada yang mengatakan karena penebangan hutan yang sembarangan. Ada juga yang menyampaikan karena membuang sampah tidak pada tempatnya. Pun ada yang bilang karena merupakan hukuman dari Allah karena masyarakatnya bermaksiat.

Bagia sebagian orang menerima akan alasan sebab banjir di atas, namun sebagian lagi mengatakan itu bukan alasan pertama.

Golongan kedua ini dengan mengungkap alasan-alasan mengatakan bahwa jika melihat fenomena, banyak daerah atau negara yang masyarakatnya melakukan alasan pertama dan kedua namun mereka terbebas dari banjir. Begitu pun dengan alasan yang ketiga. Banyak negara-negara atau daerah yang penduduknya jauh dari kehidupan agama mereka terlihat lebih sejahtera. Kelompok kedua ini yang penulis kira adanya bencana banjir di Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia karena takdir.

Untuk lebih jelas mengenai surah Al-Hadid ayat 22 – 23, penulis akan sertakan beberapa tasir dari para ahli pada renungan ini. Adapun bunyi surah dari ayat tersebut adalah sebagai berikut:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ * لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ * الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Menurut ar-Razi dalam tafsirnya, hakikat musibah telah ditentukan oleh Allah baik yang ada dibumi, misalnya banjir, kemarau panjang, gagalnya hasil pertanian. Musibah yang dirasakan manusia ada dua kategori. Pertama, seperti sakit, fakir, kematian keluarga. Kedua, sebagai ujian kebaikan maupun keburukan.

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa ada dua hakikat musibah yang perlu diketahui, yaitu: Pertama, supaya manusia tak putus asa atas apa yang telah dia dapatkan. Imam al-Baidhawi menjelaskan bahwa tujuan dari musibah bertujuan agar manusia tak sedih atas hilangnya kenikmatan dunia yang ia miliki dari genggamannya.

Kedua, agar manusia tak bangga atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Imam Baghawi dalam tafsirnya yang berjudul Ma’alim at-Tanzil mengutip pendapat Ikrimah yang menyatakan setiap orang pasti merasakan kesenangan juga merasakan kesusahan, kesedihan, maka dari itu jadikanlah kesenangan itu untuk bersyukur atas nikmat-Nya, dan jadikan kesedihan sebagai penguat dalam menghadapi kesabaran.

Menurut Tafsir Al-Muyassar/Kementerian Agama Saudi Arabia, mengatakan: “Tiada bencana yang menimpa manusia di bumi seperti kekeringan dan lainnya, dan tidak ada bencana yang menimpa pada diri mereka melainkan hal itu telah ditetapkan di dalam Lauḥul Maḥfuẓ sebelum Kami menciptakan makhluk, sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.”

Menurut Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah Allah menjelaskan bahwa musibah yang menimpa hamba di bumi dari kekeringan dan gempa bumi, telah didahului oleh takdir dan kuasa-Nya, dan telah tertulis di lauhul mahfudz, sebelum diciptakannya seluruh makhluk.

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah-nya mengatakan bahwa ayat tersebut merupakan resep yang sangat mujarab diberikan oleh Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Bijaksana sebagai bekal setiap mukmin dalam mengarungi hidup dan kehidupan di dunia hingga akhirat kelak.

Resep tersebut hanya akan bermanfaat bagi hamba Allah yang beruntung mendapatkan keimanan, yakni setiap mukmin yang mampu menyikapi setiap nikmat, karunia hingga musibah yang menimpa dirinya disikapi dengan berkhusnudzan kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta mampu menangkap hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Bukan bersikap sebaliknya, saling tuding dan menyalahkan hingga saling menghujat kepada pihak lain, apalagi sampai mengutuki Allah subhanahu wa ta’ala. Naudzubillah mindzalik.

Menutup renungan ini, sesungguhnya manusia dalam beraktivitas adalah sesuai dengan takdir Allah apakah bahagia atau sengsara. Dan itu merupakan ujian selama di dunia. Orang yang ditakdirkan bajagia (as-sa’adah) akan direkayasa oleh Allah untuk mengerjakan amal perbuatan dan perilaku prang yang bahagia, dan begitupun sebaliknya. Allah akan merekayasa perbuatan dan perilaku tidak bahagia kepada hamba yang ditakdirkan sebagai orang sengsara (as-syaqawah). Dan sekali lagi itu adalah sebagai ujian.

Oleh karenanya banyak orang yang bersyukur mendapat kekayaan dan jabatan tinggi, namun ada juga yang bersyukur hidup sederhana tanpa menyandang jabatan.

Sampai kemudian Allah SWT. memberi ganjaran kepada masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya tanpa sama sekali menzalami.

Kembali kepada “banjir”, penulis percaya bahwa musibah ini merupakan ketentuan yang sudah ditetapkan Allah SWT. di Lauhul Mahfudz. Bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Dan percayalah bahwa ujian Allah adalah untuk memyempurnakan ketakwaan hamba-Nya.

Ketauhilah bahwa setelah kesusahan pasti ada kemudahan. So don’t be sad untuk teman-temanku yang terkena musibah!*

You might also like