MERINDU KIPAS BAMBU

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Kota Tangerng Selatan

 

Era milenium merupakan masa manusia menjalani pola hidup serba bergantung terhadap kemajuan teknologi yang memang benar benar sulit dihindari. Pola hidup seperti ini menggeser sistem kehidupan yang berbau tradisional yang dinilai terbelakang dan serba lamban.

Generasi milenial mempunyai ciri ciri khusus, biasanya lebih menyenangi sesuatu yang serba instan, semuanya serba praktis, serba cepat, cukup dengan pijit nomor lewat handphone tidak lama kemudian pesanan langsung datang dan bisa diterima. Apa saja yang diperlukan, dari mulai alat kantor, perabot rumah tangga, makanan, pakaian, semuanya serba menggunakan kemajuan teknologi.

Pak ustadz Dzul Birri merupakan guru saya yang mengalami kehidupan dua masa, masa tradisional dan masa milenial, itulah pengakuan kang Pardo dan kang Saman. Pengakuan serupa juga disampaikan oleh beberapa jama’ah lainnya. Penilaian mereka terhadap prinsip dan gaya hidup guru spiritual mereka karena cara dan pola kehidupan pak ustadz Dzul Birri tidak berubah walaupun terjadi perputaran waktu. Misalnya saja beliau lebih senang minum air hasil rebusan di atas tungku dengan menyalakan kayu bakar, begitu juga dengan menanak nasi.

Ada pengalaman yang sangat menarik dan selalu diingat oleh kang Pardo, yaitu kebiasaan pak ustadz Dzul Birri yang tidak pernah ketinggalan kipas bambunya. Baik pada saat di rumah, di masjid ataupun di majlis ta’lim malam Jum’at Kliwonannya beliau selalu membawa kipas bambunya. Ketika ditanya oleh kang Pardo dan jama’ah lainnya, simpel sekali beliau menjawab nya:

“Dengan kipas bambu, bisa ngusir keringat sekaligus membuat otot tangan jadi kuat. Dengan menggunakan kipas bambu sekalian bisa olahraga tangan dan lengan. Klo capek tangannya, gantian kepalanya yang digerakkan” jawab pak ustadz Dzul Birri dengan gaya guyonan nya. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.*

You might also like