MENYOAL DOKTRIN PESANTREN

Hafis Azhari

Pengasuh di Pesantren Al Bayan Rangkasbitung

 

Setiap pesantren yang pernah saya kunjungi, baik La Tansa, Daar el-Qolam, al-Mizan, al-Inayah, hingga Riyadlul Fikar, hampir semua pengasuh dan kiainya pernah mengutip peristiwa bersejarah tentang pertemuan antara Nabi Musa dengan Nabi Khidir.

Peristiwa itu menarik dalam pandangan mereka, mengingat motto dan panca jiwa pesantren yang mengupayakan keselarasan antara kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual bagi para santrinya.

Para kiai menerangkan secara mendetil pertemuan antara dua nabi tersebut. Meskipun secara ilmiah, perlu juga disampaikan mengingat pentingnya pemekaran kecerdasan intelektual santri.

Nabi Khidir pernah memutuskan hubungan antara guru dan murid, karena ketidaksabaran Musa. Tapi di sisi lain, Allah mengangkat derajat Musa sebagai nabi dan rasul, karena kualitas kecerdasan dan keberaniannya untuk menggugat dan melawan ketidakadilan yang diselenggarakan Firaun terhadap kaumnya.

Integrasi antara kecerdasan spiritual dan intelektual kadang sulit dipersatukan. Meskipun penguasaan ilmu pada kedua figur tersebut, tak lepas dari anugerah Tuhan yang diberikan kepada hamba-hamba yang dikasihi-Nya.

Di sinilah pentingnya sikap dan jiwa toleransi antara perbedaan pendapat dan pandangan (khilafiyah), yang kemudian di masa Rasulullah diberi penegasan bahwa hakikat perbedaan dalam suatu dialog adalah rahmat.

“Orang-orang yang bukan saudaramu dalam iman dan Islam, mereka tetap saudaramu dalam kemanusiaan,” demikian peringatan Ali bin Abi Thalib tentang pentingnya menghargai pluralitas dan keragaman, agar hidup manusia saling menghormati perbedaan antara kelompok, suku maupun bangsa.

 

EPISTIMOLOGI KEILMUWAN

 

Kiranya penting di dunia pesantren untuk mengembangkan epistimologi keilmuwan yang memfungsikan kecerdasan intelektual santri. Tentu saja dibutuhkan kesabaran tinggi dari seorang pengasuh (kiai) karena kecenderungan intelektual memungkinkan santri memiliki jiwa yang terbuka, ekstrovert, dan komunikatif.

Sebaliknya, santri yang menonjol dalam kecerdasan spiritualnya cenderung bersifat pendiam, introvert, dan kurang peka dalam sosialisasi dan pergaulan.

Kalau kita ingin melihat manusia-manusia unggul di Banten ini, perhatikan saja kesadaran anak-anak muda dalam penguasaan kedua kecerdasan tersebut. Kita dapat memerhatikan kualitas karya mereka.

Semakin ahli di bidang yang digelutinya, semakin menemukan keakuannya, maka semakin unggullah dia. Tapi sebaliknya, semakin usil pada karya dan kreativitas orang, semakin egois dan angkuh dalam memandang kehidupan, semakin menjauh dia dari kecenderungan menemukan bakat dan keahlian yang dimilikinya.

“Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu”. Siapa yang memahami dirinya, ia akan diberi kesanggupan untuk mengenal Tuhannya. Di sisi lain, pendalaman aspek ubudiyah dan pengolahan batin seringkali dikedepankan di lingkungan pesantren yang bercorak salafi (tradisional). Tidak jarang seorang santri yang belum memiliki kesiapan mental atau belum matang kepribadiannya, terperosok dalam amalan-amalan ubudiyah yang diberikan ustadnya, sehingga mengalami tekanan psikologis yang sulit ditanggulangi (overdosis).

Dalam soal ibadah yang kelebihan ini, Rasul pernah menolak para sahabat yang menjadi makmum saat melaksanakan solat tarawih. Karena beliau khawatir ibadah yang cukup memakan energi tersebut, kelak dijadikan kewajiban bagi umatnya. Pada kesempatan lain, Rasul pernah pula melarang orang tua yang sibuk itikaf di masjid, sementara anak-anaknya bergantung pada pemberian nafkah dari usaha dan jerih-payah orang lain.

 

FIGUR NABI KHIDIR

Orang yang memiliki kualitas kecerdasan spiritual yang dihasilkan dari olah batin, dapat pula disebut sebagai sosok yang memiliki kesadaran hudhuri.

Hakikat Tuhan yang tak bisa diraba dengan pandangan kasatmata, tidak menyerupai sesuatu apapun, namun Ia memperkenalkan diri-Nya lebih dekat dari urat leher (tenggorokan). Hal itu membuat orang yang memiliki kesadaran hudhuri merasa yakin dapat mengenal Tuhannya dengan pendalaman olah batin. Kelompok ini biasanya disebut kaum sufi, ahli tasawuf, atau bisa juga filosof yang sudah mencapai tingkat keilmuwan dalam aliran idealisme dan esoterisme.

Karena itu, izinkan saya memberikan usulan bagi para guru dan pendidik di ranah Banten, juga para kepala sekolah dan pengasuh pondok pesantren modern maupun salafi, sepatutnya anak-anak didik dibekali dahulu dengan ilmu-ilmu positif yang mendahulukan pentingnya kesadaran intelektual (hushuli).

Mereka harus dibekali kemampuan mengolah akal pikirannya, melakukan riset, observasi dan penelitian. Hasrat ingin tahu dan ingin belajar harus ditumbuhkan, yang tentunya memerlukan tenaga pengajar yang memiliki kualitas kedewasaan, keikhlasan, dan kesabaran tinggi.

Selain itu, anak-didik juga perlu dibekali kecerdasan sosial dan emosional, agar dapat hidup dengan penuh toleransi dan saling menghargai perbedaan.

Polemik yang dijelaskan para kiai dan pengasuh pesantren, antara Nabi Khidir dan Nabi Musa, hendaknya dipahami bukan dalam konteks pertentangan antara kekuatan intelektualitas dan spiritualitas. Dalam pandangan Allah, terbukti keduanya mencapai tingkat dan derajat manusia unggul yang dicintai oleh-Nya. Tanpa figur Musa yang cerdas dan jenius, akan sulit menghadapi Firaun yang menyelenggarakan pemerintahan otoritarianisme, korupsi, ketakutan massa, ketaatan dan kepatuhan buta rakyat Mesir, tanpa sikap kritis sama sekali.

Di sisi lain, pengajaran dan pendidikan yang diberikan Nabi Khidir, dapat pula memupuk dan mengolah tingkat kesadaran Musa pada kualitas kesabaran dan kedewasaan yang semakin matang.

Integrasi antara kesadaran keilmuwan (hushuli) dengan kekuatan tauhid dan spiritualitas (hudhuri), perlu dicanangkan dalam metode pengajaran dan pendidikan sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi di Banten ini.

Sebab, kecerdasan intelektual tanpa disertai spiritualitas, akan membuat hati menjadi kering dan gersang. Tapi sebaliknya, memupuk kemampuan spiritualitas tanpa disertai kecerdasan intelektual, dapat membuat batin terasa banjir dan overdosis (ujub dan merasa benar sendiri).

Karena itu, dalam ayat pertama Alquran, manusia ditekankan agar belajar sambil menyebut nama Tuhan (iqra’ bismi rabbika). Itulah makna keseimbangan untuk mengintegrasikan kesadaran intelektual dan spiritual secara bersamaan. (*)

 

 

You might also like