MENYIKAPI WAFATNYA ULAMA

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Kota Tangerang Selatan

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa siapa saja yang tidak bersedih atas wafatnya ulama, maka dinilai sebagai orang munafik. Ungkapan seperti ini tentu sangat mengejutkan, dan juga menjadi perhatian khusus bagi kita sebagai umat, jama’ah serta masyarakat pada umumnya.

Sebagai bagian dari umat dan masyarakat tentu saja sangat merasa kehilangan atas wafatnya para guru dan ulama. Terlebih bagi kita yang benar benar ada hubungan langsung dengan para ulama. Para ulama atau para kiyai itu memiliki hubungan emosional yang sangat kuat, hubungan antara santri dan kiai,  sebagai jama’ah dengan kiai atau sebagai panutan.

Baru baru ini saya mendapatkan postingan daftar para kiyai yang telah wafat sejak tahun 2020-2021 di saat menggila nya wabah Pandemi Corona sampai bermutasi menjadi varian Delta. Terhitung tidak kurang ada sejumlah 500 ulama telah wafat. Jumlah yang sangat fantastis bila dilihat dari jumlah angkanya dan tentunya sangat berpengaruh baik terhadap kegiatan kemajuan keilmuan, dakwah serta perkembangan dan pertumbuhan agama dan pengaruh terhadap kehidupan umat Islam pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Duka yang mendalam pasti dirasakan oleh seluruh umat Islam atas wafatnya para guru, kiai dan ulama yang jumlahnya sangat fenomenal. Tentu saja perasaan ini dapat dimaklumi, tetapi sedih dan duka tidak akan menyelesaikan masalah yang sangat berat ini. Oleh karenanya menurut nasehat UDB dalam pandangannya beliau mengatakan:

Sedih, duka atas wafatnya ulama, guru, kiai sudah pasti telah menjadi jiwa dalam sanubari umat, akan tetapi kesedihan dan duka tidak baik bila berlarut larut, berkepanjangan tanpa mendatangkan solusi.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa kalau kita merasa kehilangan atas wafatnya para guru,kiai dan ulama seyogyanya ada langkah-langkah yang pasti, misalnya saja mempersiapkan gantinya dengan melakukan pengkaderan pengkaderan para santri dan generasi muda untuk diberikan bekal keilmuan para kiai supaya mereka kelak dapat menggantikan posisi keulamaan para pendahulunya walaupun tidak akan pernah sebanding wawasan, pemikiran dan penguasaan keilmuannya. Semoga saja ada yang memiliki pemikiran apa yang saya pikirkan, dan mudah mudahan Allah meridhoi, aamiin yaa mujiibas saailiin.

Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.

You might also like