Menyembelih Covid-19

Oleh : Muhtar Sadili (Dewan Hakim MTQ Tangsel dan Pengasuh Pesantren Assalam Plered Purwakarta)

LPTQ Banten – Dua kali perayaan Idul Adha berada dalam suasana pandemi covid-19, tiada ritual meriah yang biasa dilakukan kaum muslim menyambut hari mulia saat di mana Nabi Ibrahim AS menyembelih nafsu yang selalu mengintip ketaatan pada perintah Allah SWT. Waktu itu sayangnya pada sang anak bernama Nabi Sulaiman menjadi batu sandungan dalam perjalananya menuju insan pengabdi Ilahi.

Idul adha adalah simbol perlawanan pada hasutan halus iblis dalam setiap langkah ibadah. Bisa dibayangkan godaannya pada Nabi Ibrahim, agar mengurungkan niat menyembelih anaknya. Tidak ada yang luput dari godaannya, termasuk para nabi yang saat tertentu ada dalam medan ujian berat

Sejatinya semangat Nabi Ibrahim bisa dipetik dalam menyembelih covid-19, dengan sekuat tenaga menahan nafsu dalam menata kehidupan baru yang penuh kejutan. Pandemi ini adalah medan juang paling menantang, sebuah takdir seleksi alamiah. Bagi siapa saja yang menyadari sepenuhnya ancaman virus akan selamat, tapi bagi yang tergoda rayu untuk menyangsikan bahaya virus nanti pasti tumbang

Hikmah itu selalu ada tapi sulit diambil pesan aktual bagi insan yang terlampau silau dengan godaan gombal. Mudah mengatakan tentang hikmah, selama ribuan tahun manusia selalu akan belajar pada setiap nestapa yang telah terjadi.

Adalah kesombongan yang melahirkan sikap kontra produktif terutama kala pertama covid-19 terendus akan melanda negeri ini. Perasaan yang bertolak belakang dengan analisis medis terpercaya, bahkan ada yang sesumbar covid-19 adalah konspirasi global yang sengaja dilakukan untuk menaklukkan kedigdayaan kapitalis.

Nada curiga tidak mendasar akhirnya melahirkan sikap tidak rasional dalam menghadapi covid-19, tidak mau patuh pada konsensus dalam mengerem laju virus membahayakan ini. Tidak sedikit yang menyertakan rasa terganggu kehidupannya dari soal ekonomi sampai keagamaan.

Untuk yang merasakan dampak ekonomi, tidak mampu menangkap pesan kemanusiaan dari semua upaya menahan penyebaran virus. Pelaku ekonomi mengedepankan nalar untung rugi dibandingkan untuk melindungi keselamatan sesama, bahkan dirinya sendiri

Masih sangat terasa dalam tangkap tangan para pelaku ekonomi yang mencoba mangkir dari ajakan untuk mempekerjakan karyawan di rumah. Padahal ancaman virus di depan mata dengan banyak korban meninggal, terinfeksi dengan isolasi mandiri dan dirawat di rumah sakit.

Kesulitan berobat sangat terasa, seluruh rumah sakit di tanah air tidak mampu melayani secara sempurna bagi para pendatang. Belakangan, jika sudah mendapat tempat masih harus berjuang keras untuk mendapatkan obat, yang paling menganggu adalah pasokan gas yang sempat minim.

Begitu juga keengganan mematuhi protokol kesehatan dengan alasan keagamaan, agar menghentikan sementara ibadah yang memungkinkan besar terjadi penularan virus. Tudingan atas hilangnya jaminan kebebasan beribadah dilemparkan ke ruang publik, agar dengan leluasa melaksanakan aktivitas keagamaan seperti biasa.

Sejatinya dalam beragama juga tetap mengindahkan kepentingan menjaga keselamatan, yang dalam maksud diturunkan agama ke muka bumi adalah menjamin keberlangsungan umat manusia. Rasanya tidak ada agama yang meminta penganutnya untuk menelantarkan keselamatan jiwa.

Sikap beragama menjadi kontras dengan konsensus menyelamatkan jutaan rakyat hanya karena mengedepankan cara beragama bersifat simbolik. Ketika kebiasaan melakukan aktivitas keagamaan dihentikan, merasa sudah dalam keadaan tidak ada lagi jaminan menjalankan ajaran agamanya, padahal ada penjelasan itu sementara.

Agama pada gilirannya menjadi pembenar atas kemeriahan ritual yang boleh jadi tidak ada relevansi dengan komitmen pada kemanusiaan universal. Kemeriahan beragama sudah lama menjadi kesulitan menangkap poin substansial dari agama itu sendiri, karena dia sesungguhnya bagian dari sifat kemanusiaan yang cendrung haus pada suasana hingae bingar.

Ruang sunyi-sempit beragama menjadi barang mewah, menjalankan ajaran yang sedianya untuk kemaslahatan bukan karena soal hingae bingar. Ruang meriah itu memang sangat menggoda dengan ketersedian banyak simbol kesalehan yang boleh jadi berjarak dengan misi provetik agama itu sendiri.

Saya kira alasan ekonomi dan keagamaan itu akan terus mewarnai setiap langkah pemerintah dalam berjuang menyelamatkan umat dari ancaman covid-19. Warna itu akan sulit didaur ulang menjadi sikap produktif dalam bahu membahu mengerem laju penyebaran covid-19.

Sedianya semangat Idul Adha dalam mengubah perkawanan ekonomi dan keagamaan itu. Mampu menyembelih covid-19 seperti yang telah sukses dilakukan negara lain di dunia. Modalitas sebagai mayoritas beragama, kaum muslim menjadi agen penting dalam bahu membahu melenyapkan virus itu di tanah air.

Itu masih memungkinkan, sebelum datang lagi varian lain dari covid-19. Badai pasti berlalu asal mau bahu membahu. Dan pasti usaha sampai.

Amiiin

You might also like