Menjadi PNS Karena Barokah Alquran

Kalimat itu disampaikan Dindin Herdiansyah, SAg, MSi, pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Pandeglang.

Kalimat tersebut mengandung arti penting   tentang pertama kali  dirinya belajar Alquran. Ia mulai punya keinginan belajar Alquran sejak berusia 12 tahun, tepatnya  saat duduk di bangku kelas 2 SMP.

Dindin sosok pria sederhana dan serba ingin tahu tentang ilmu pengetahuan. Namun demikian, di usia 12 tahun itu   ia lebih suka mengenakan pakaian ala santri dengan dilengkapi sorban dan kopiah (peci).  Mungkin saja masa kecil itu, ia tertarik dengan sosok   santri, hingga   saat lulus dari bangku  SMP, melanjutkan pendidikan atas   MAN di Kabupaten Garut.

Memulai awal perjalanannya, sekitar tahun 1992, ia  baru menggeluti kegiatan di bidang MTQ. Waktu itu, dia membuktikan bakatnya  untuk  ikut tampil pada agenda MTQ tingkat Provinsi Jawa Barat yang kebetulan Cibinong-Bogor, ditunjuk sebagai tuan rumah.

“Waktu pertama kali saya ikut MTQ tingkat Jawa Barat utusan dari Kabupaten Garut. Saya masuk kafilah cabang Syarhil Quran (Menafsirkan kandungan Alquran),” kata Dindin.

Meski di rangakaian agenda MTQ pertama hingga ke tiga, dirinya belum juga  meraih peluang emas sebagai juara, hal itu tentu bukanlah tujuan utama. Namun baginya yang lebih berarti dengan maju MTQ tingkat Jawa Barat, itu bagian dari rasa syukur, karena  dapat mewujudkan kecintaan terhadap Alquran menjadi kafilah Cabang Syarhil Quran.

“Kejutan awal yang saya dapatkan, setelah masuk sebagai finalis dalam agenda MTQ ke empat di Purwakarta Jawa Barat. Dari awal prestasi MTQ ke-4  itulah (1997), hingga dirinya  terpanggil sebagai peserta MTQ tingkat nasional di Jambi sekitar 1998.

‎Setelah prestasinya masuk di tingkat nasional, hal itu menjadi sebuah makna tersendiri bagi keluarga Dindin. Anak dan istrinya pun bangga saat melihat sang aya mampu menorehkan bakat dan pretasinya sabagai kafilah Syarhil Quran secara nasional.

Di pijakan tingkat nasional itulah, tidak lama kemudian harus mengalami pensiun dari kafilah MTQ. Diakhir perjalanannya sebagai kafilah, pria bergaya kalem dan santai ini akhirnya dipercaya menjadi pembina MTQ di tiga Kabupaten di Jawa Barat, yakni  Garut, Kuningan dan Kota Cirebon. Waktu menjadi pembina Cabang Syarhil Quran, Dindin mengaku hanya berstatus sebagai guru ngaji amben.

Setelah itu, sekitar tahun 1999-2002, mendapatkan kepercayaan menjadi pembina dan dewan hakim MTQ Kabupaten Kuningan.

Waktu itu, statusnya  sudah menikah dan mengemban tugas  sebagai guru ngaji amben  dengan jumlah murid 130 orang.‎

“Namanya guru ngaji amben, begitulah kira-kira. Tetapi kuncinya kita harus terus cinta Aquran, membaca Alquran. Alhamdulillah dengan barokah Alquran, saya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau sekarang disebut Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Pandeglang. Pertama tugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandeglang. Hampir  sekitar 10 tahun saya geluti profesi PNS sambil mengemban amanah sebagai dewan hakim MTQ Cabang Syarhil Quran  (2004),” katanya.

‎Setelah menjadi dewan hakim, ia pun  masuk sebagai  anggota  Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Pandeglang tahun 2013, dan hingga sekarang dipercaya menjabat Sekretaris 1 LPTQ .

‎”Alhamdulillah dengan kerja kolektif, pada MTQ tingkat provinsi kemarin, Pandeglang berhasil masuk 4 (empat) besar. Saya akui faktor utamanya meraih prestasi tingkat Banten, itu tidak lepas dari bimbingan, binaan dari bupati Pandeglang, Hj. Irna Narulita. Wejangan, nasihat bupati cukup menggugah semangat para kafilah Pandeglang,” katanya.

‎Demi kecintaannya terhadap Alquran, sekarang fokus menjadi guru, sekaligus pembina bagi 2  orang peserta  MTQ Cabang Syarhil Quran yang dibina di rumahnya, dan telah  berhasil menjadi juara 1 dan juara MTQ Nasional. Termasuk  belasan orang yang sudah juara di MTQ Tingkat  Provinsi Banten.

‎Kiprahnya membina para kafilah syarhil quran mendapat dukungan dari istrinya yang pernah menjadi juara syarhil quran MTQ tingkat Jawa Barat, termasuk anak pertamanya juga pernah meraih  juara ke-2 cabang  syarhil quran MTQ tingkat nasional. “Alhamdulilah, istri saya juga sebagai dewan hakim  Syarhil Quran MTQ Tingkat Kabupaten dan bersama saya terus membina para Kafilah Syarhil Quran MTQ tingkat Kabupaten dan Provinsi. Mungkin keluarga saya ditakdirkan menjadi keluarga syarhil quran. Saya berpesan,  bagaimana mereka mau berinteraksi dengan Alquran mulai dari belajar dan mengajar. Jujur saja, saya bisa menjadi PNS karena barokah Alquran,” ujarnya. ***

 

You might also like