MENGENANG ALMARHUM NANANG TAHQIQ

Oleh Hafis Azhari

(Penulis buku Filsafat Hidup K.H. Rifa’i Arief dan novel Perasaan Orang Banten)

Dosen senior di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini  telah lama meninggalkan kita. Namun, jasa-jasa almarhum masih terasa, terutama bagi para murid dan sahabat-sahaatnya. .

Banyak karya besar telah dilahirkan dari pemikiran dan buah tangannya. Selaku alumni McGill University di Kanada, Nanang Tahqiq juga pernah mondok di Pesantren Daar el-Qolam (Darqo), Gintung, Jayanti, Tangerang.

Sebagai kakak kelas, ia pernah menjadi pengurus saya di pesantren tersebut. Buah karyanya yang terus menjadi pembicaraan publik hingga saat ini adalah “Falsafah Islam di Indonesia”.

Selain itu, ia pun pernah menulis buku berjudul, “Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Muslim”, selama masa aktifnya selaku dosen Universitas Paramadina, Jakarta (1999).

Pernah saya, ketika menjadi mahasiswa UIN Ciputut, diajak olehnya untuk bersilaturaim ke kediaman sang guru, K.H. Rifa’i Arief (pemimpin Darqo). Tentu saja dengan senang hati saya pun bertemu dengan Kiai Rifa’I, setelah beberapa tahun tidak sempat berkunjung ke pondok.

“Apakah ada euphoria dalam hati kamu?” tanya Nanang Tahqiq.

“Apa maksudnya euphoria?” kata saya balik bertanya.

Ia tidak menjawab, tetapi belakangan saya dapat memahami masud kata-kata tersebut, bahwa tidak sedikit alumni-alumni pesantren – apalagi yang kuliah pada jurusan Filsafat – mengalami euphoria atau keseganan, atau bahkan alergi dan antipati untuk menengok pesantren selaku almamaternya.

Ironisnya, justru di pesantren-lah kita dibekali konsep pemikiran tentang rasa syukur atau “mensyukuri nikmat”. Berkali-kali para guru dan kiai pesantren mengulang-ulang ayat: “La’in-syakartum la’azidannakum.” (Kalau kalian bersyukur maka akan Ku tambah nikmat untukmu.”

Akan tetapi kebanyakan orang memahami konsep tersebut dengan menunggu-nunggu nikmat, barulah mereka bersyukur. Padahal, ayat tersebut bermakna visioner, yakni kita harus bersyukur terlebih dahulu, barulah nikmat akan ditambah dan ditambah terus.

Nanang Tahqiq telah mengajarkan para alumni Darqo agar bersyukur. Meskipun tentu manifestasi rasa syukur tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tapi setidaknya, ia telah memberi pelajaran dan ilmu bermanfaat yang akan terus mengalir sebagai amal jariah beliau.

Memang tidak sedikit alumni Darqo yang berkiprah di dunia kepenulisan, di antaranya Chavchay Saifullah, Wahyuni Nafis, Taftazani, Ahmad Gaus, Tajwini, Ismatullah, dan banyak lagi yang lainnya.

Almarhum juga pernah memimpin Forum Silaturahmi Daar el-Qolam (FSD). Beberapa kata pengantar, prolog maupun epilog, telah ia sumbangkan untuk buku-buku penting tentang sejarah pesantren di Provinsi Banten. Di antaranya tentang filsafat hidup K.H. Rifa’i Arief selaku perintis dan pendiri pesantren modern di Banten (Fikra Publishing, Jakarta 2011), juga buku tentang kiprah Kiai Entrepreneur (Grasindo, Jakarta 2011).

Untuk buku “Filsafat Hidup K.H. Rifa’i Arief” (cetakan kedua) almarhum pernah menyumbang dan menulis epilog atas saran K.H. Eeng Nurhaeni  (pesantren Al-Bayan) kepada pihak penerbit dan penulis. Dalam epilog yang diberi judul, “Kiyai Rifa’i Sang Pemberi Inspirasi”, Nanang Tahqiq menulis: “Usaha Hafiz menjelaskan Kiyai Rifa’i dalam bukunya ini, sungguh-sungguh bertumpu pada tafsir, lewat ‘terinspirasi’ dan ‘merebut inspirasi’ dari Kiyai Rifa’i. Sehingga ia meletakkan Kiyai Rifa’i sebagai inspirator, dan ini lagi-lagi sikap yang genuine dari seorang murid yang kreatif. Perilakunya ini amat legitimate karena memang ditelaah dari uswah yang diteladani dari Kiyai Rifa’i, sang inspirator dan guru yang sangat kreatif juga.” (hal. 175)

Seperti itulah gaya Nanang Tahqiq bila memuji-muji teman atau adik kelas dalam satu almamaternya, apalagi saya selaku almamater sekaligus satu konsulat dari tanah kelahiran yang sama (Kota Cilegon).

Setelah saya bangkit dari opname di Rumah Sakit Sari Asih, Serang, selama beberapa minggu, saya menerima kunjungan beberapa almamater, di antaranya Ahmad Firdaus (mantan DPRD Provinsi Banten) yang menerima SMS dari Nanang Tahqiq berbunyi: “Daus, knp ente blm menjenguk Hafiz? Ayo, fastabiqul khairat, jangan sampe keduluan sama Chavchay Saifullah!”

Sebelumnya, memang Chavchay sempat menginap di pesantren Al-Bayan, dan keesokannya seniman liberal itu mendadak menjadi “soleh” (entah ilham dari mana) kemudian menjenguk teman-teman sealmamaternya yang sedang sakit. Tapi bagaimanapun, kita perlu berbaik sangka, semoga ia tetap gigih dan beristiqomah dalam kesolehannya.

Dalam buku “Kiprah Kiyai Entrepreneur” (dihimpun Soleh Rosyad, La Tansa) Nanang Tahqiq pernah menceritakan tentang karomah K.H. Rifa’i Arief selaku gurunya di pesantren. \

Pada saat takziyah atas wafatnya sang guru, ia mendapatkan jalan raya antara Balaraja menuju Jayanti begitu kosong dan lengang. Dalam hari-hari biasanya, mustahil ia dapat menempuh perjalanan antara Balaraja-Jayanti sekitar 20 menit. Paling tidak, 30 hingga dua jam ditempuhnya karena jalanan seperti biasa macet. Tetapi hari itu, kok tiba-tiba kendaraan kosong dan lengang, hingga mobil yang ia kendarai meluncur begitu cepat tanpa ada hambatan apapun.

Sesekali Nanag Tahqiq menyebut Kiai Rifa’i sebagai “waliullah”, meski kita tak perlu berdebat tentang pengertian “wali” dalam konteks ini.  Namun pada prinsipnya, petualangan pemikiran yang dilakoni Nanang, Chavchay maupun saya pribadi, pernah sama-sama terjebak dalam pandangan hidup yang melihat sains modern sebagai model atau paradigma bagi pengetahuan manusia yang dianggap utuh dan sempurna.

Kita sebagai anak sekolahan kadangkala tergelincir pada pemikiran saintisme yang memandang sains modern adalah segala-galanya. Tetapi lambat laun, akal sehat menyadarkan kita semua, bahwa para penganut saintisme tak beda jauh dengan kaum fanatisme agama yang sering tergelincir dalam kepongahan religius, serta gampang memutlakkan segala sesuatu (self righteousness).

Kedua kubu keangkuhan itu kadang menghinggapi kita semua, apabila kita tidak konsisten dan istiqomah dalam menjaga hati. Setiap bentuk keangkuhan, baik religius maupun sekuler, jelas berseberangan dengan sikap tawadlu dan rendah hati.

Penulis dan pemikir besar Al-Ghazali pernah menyatakan, bahwa keangkuhan atas nama Islam sebenarnya bukanlah esensi ajaran Islam itu sendiri. Begitupun kepongahan kepada saintisme dan sekulerisme, sebenarnya bukanlah sifat dari ilmu pengetahuan itu sendiri.

Nanang Tahqiq pernah menyebut perihal asumsi-asumsi ideologis yang tersembunyi di balik otoritas ilmu filsafat. Namun di sisi lain, ia pernah berpesan kepada warga Banten, dalam acara seminar yang digagas pemuda HMI Serang (2013), bahwa filsafat perlu dikaji sebagai ilmu yang sangat menakjubkan. Jangan sampai dianggap tabu yang sakral dan menakutkan.

“Hakikat ilmu, bagaimanapun, baik filsafat, agama, sastra, maupun fisika dan metematika, tak lain merupakan bentuk pengetahuan yang dianugerahkan Allah untuk kemaslahatan umat manusia,” tegas almarhum pada momen acara tersebut.

Dalam suatu acara yang membahas Kiai Rifa’i sebagai Kiai Entrepreneur yang diselenggarakan di kampus UIN Ciputat, Nanang Tahqiq tampil sebagai moderator dalam diskusi yang melelahkan antara Fachry Ali, Komarudin Hidayat, dan saya sendiri, yang disebut-sebut moderator sebagai pemikir kiri. Tentu saja saya harus berhati-hati untuk menyatakan Darqo sebagai “milik umat” di tengah dialog semarak yang dihadiri pula oleh keluarga besar pesantren Darqo dan La Tansa, terutama K.H. Adrian Mafatihullah  dan Soleh Rosyad.

Walaupun saya bukan “ahlul bait”, saya toh harus membela ahlul bait pada saat usia Darqo belum setua Gontor yang hampir mencapai satu abad, sementara Darqo baru menyelenggarakan ultahnya yang ke-52 pada 2020 lalu. Itulah yang membuat Nanang Tahqiq menjuluki saya sebagai penganut “Syiah” dan konsekuensinya saya dianggap berseberangan dengan “Sunni”.

Memasuki wilayah aqidah, prinsip saya apapun itu, baik Syiah, Sunni, Asyariyah, Mutazilah, anak biologis maupun anak ideologis, yang dilarang oleh ajaran agama adalah ekstrimisme dan anarkisme.

Selama paham itu bersemayam dalam pikiran pribadi, serta tidak memprovokasi pihak lain untuk melakukan keonaran, pengrusakan dan merongrong stabilitas umat, maka ia berhak hidup sebagai pemikiran manusia. Sebab, manusia adalah makhluk berpikir dan menalar (hayawan annathiq). “Ia harus diberi ruang dan waktu untuk kebebasannya dalam berpikir dan menalar,” demikian tandas Nanang Tahqiq.

Pihak aparat dan keamanan – bukan masyarakat umum – hanya boleh menghakimi akibat buruk dari suatu pemikiran. Mereka tidak berhak menghakimi suatu bentuk pemikiran, betapapun bodoh, dungu, sesat, menyimpang dan absud-nya pemikiran. Kecuali jika pemikiran itu telah menjelma dalam suatu perbuatan.

Dalam ajaran Islam, perbedaan pemikiran dinilai sebagai upaya “ijtihad”. Sedangkan bangsa kita, dikenal gemar menghakimi pemikiran sejak tahun 1965, yang berdampak pada perilaku main hakim sendiri, atau mendahului kehendak Tuhan.

Selama menjadi aktivis, Nanang Tahqiq telah mengerahkan segenap tenaganya untuk mendobrak kultur dan peradaban semacam itu. Barangkali ia ingin mengamalkan salah satu prinsip hidup yang diajarkan Sang Kiai sejak mondok di Daar el-Qolam, yakni kebebasan berpikir. Baginya, kata-kata yang ditempel di dinding-dinding pesantren modern harus mengejawantah dalam amal perbuatan, seperti kejujuran, kemandirian, berpengetahuan luas dan berpikir bebas.

Kini, sang intelektual, cendikiawan dan pemikir Banten itu telah meninggalkan kita di usianya yang ke-55. Selamat jalan Nanang Tahqiq. Selamat jalan Kakanda dan sahabat kita. Mari kita iringi kepergian beliau dengan bersama-sama membaca surat Alfatihah.*

 

You might also like