MENGAKRABI KEMBALI KITAB SUCI

Oleh Hadi Susiono Panduk

Alumnus Madrasah Aliyah Nahdlatul Muslimin, Ponpes Alkhoirot dan Sabilillah Kudus dan Malang, serta Universitas Diponegoro Semarang.

 

 

Mukjizat Allah SWT yang diberikan kepada Rasulullah Muhammad SAW yang masih tertinggal di bumi dan dapat dilihat, menjadi guidance dalam hidup dan kehidupan serta sebagai kitab suci umat Islam, adalah Al Qur’an. Kitab sakral ini, mendapat jaminan dari Allah tentang orisinalitasnya. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Al-Hijr. 9).

 

Sejarah membuktikan tentang hal tersebut. Adalah Musailamah, seorang menipulator ayat-ayat Al-Qur’an yang hidup abad ke-7, ia hendak menandingi kandungan Surat Al-Fil (Gajah) dengan membuat ‘ayat-ayat’, “Al fiil, Wamaa Adrooka Mal Fiil, Lahu Zuluumun Thowiil”/ “Gajah, Tahukah kamu apa itu Gajah, Ia memiliki belalai yang panjang”. Pada akhirnya, Musailamah dilabeli Al-Kadhab, The Great Liar, Pembohong Besar.

 

Susahnya Al-Qur’an.

 

Sudah jamak, bahwa Al-Qur’an berbahasa Arab dengan kandungan sastra tertinggi dan terbaik di dunia. Kesempurnaan itu, terlihat misalnya pada dua aspek, tata bahasa (i’rob) yakni perubahan yang terjadi pada akhir kata/kalimah secara lafal maupun karena perbedaan amil yang masuk ke kata tersebut, dan balaghah yang merupakan kesesuaian kalimat yang fasih (tepat, benar) dengan situasi dan kondisi (muqtadhal haal). Kalam atau bahasa yang fasih/jelas sesuai dengan situasi dan kondisi.

 

Di samping kedua aspek tersebut, masih banyak aspek yang harus didalami, misalnya kosa kata bahasa Arab, dan tajwid dari sisi pembacaan. Saking susahnya Al-Qur’an, Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadis dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang yang ahli dalam Al-Quran akan bersama para Malaikat pencatat yang mulia lagi benar. Dan orang-orang yang terbata-bata membaca Al-Quran serta bersusah payah (mempelajarinya), maka baginya pahala dua kali.”

Dua hadis tersebut, merupakan penghargaan bagi mereka yang tekun, sungguh-sungguh dan gandrung dalam mempelajari dan mengajarkan kitab suci tersebut kepada sesama.

 

Literasi Al-Qur’an

 

Upaya yang dapat ditempuh oleh individu Muslim, agar dari generasi ke generasi berikutnya melek Al-Qur’an adalah dengan cara; gerakan mengaji dan pengaktifan kembali fungsi musholla serta masjid sebagai tempat belajar Al-Qur’an—tentu saja pasca berlalunya wabah Covid-19. Di beberapa daerah, gerakan ini sudah digalakkan dengan adanya program Magrib Mengaji. Persoalan yang mengemuka adalah, kurangnya minat generasi milenial untuk belajar membaca Al-Qur’an baik di musholla, masjid, atau di halaqah lainnya. Di samping, minimnya guru ngaji. Sehingga timbul fenomena, muridnya ada, guru ngaji tidak ada atau guru ngaji ada, tapi muridnya tidak ada.

Cara lain; kompetisi kaligrafi Bahasa Arab. Dengan memperkenalkan variasi khat Arab, lambat laun akan timbul kegemaran, dan pada akhirnya, kesadaran akan pentingnya tulisan Arab di mata publik menguat, sehingga, hal yang ‘berbau’ Arab tak dianggap tabu. Kompetisi ini, dapat dilakukan pada berbagai tingkatan sekolah, baik tingkatan dasar, menengah, atas, atau bahkan bisa di tingkat perguruan tinggi, dan pondok pesantren pada level desa, kecamatan, kabupaten, provinsi atau nasional dan diregularkan pelaksanaanya.

 

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) juga tak kalah pentingnya untuk proses down to the earth Al-Qur’an, karena di sana banyak cabang yang diperlombakan mulai dari tilawah (bacaan), tahfidz (hafalan) hingga pemahaman kandungan Al-Qur’an melalui tafsirnya. Gembiranya, ajang MTQ ini telah teragenda dan secara regular dilakukan hingga tingkat nasional. Hanya saja, kurangnya ‘bibit unggul’ sering kali menjadi kendala. Sehingga, terjadi fenomena mendatangkan ‘pemain’ dari luar daerah karena lambatnya proses regenerasi Qur’ani.

 

Beasiswa adalah cara lain. Pemberian beasiswa bagi para hafidz/hafidzah dengan kategori jumlah juz, yang ditentukan adalah langkah maju. Generasi milenial sekarang ini, akan berlomba menghafal Al-Qur’an agar dapat masuk ke perguruan tinggi Islam, perguruan tinggi negeri atau ma’had tertentu.

 

Last but not least, pendirian lembaga semacam Baitul Qur’an, seperti yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Lembaga ini dimaksudkan sebagai pusat Al-Qur’an dan apapun yang berkaitan dengan pengajaran, pengembangan, riset, publikasi. Tujuan purna yang hendak dicapai pada akhirnya, adalah membumikan ajaran dan nilai-nilai Qur’ani.

Semoga!

Wallahu A’lamu Bissawab

 

 

 

You might also like