MENATA ASA MENGATUR SYUKUR

Oleh Nasuha Abu Bakar, MA

Pengurus LPTQ Kota Tangerang Selatan

 

Pada saat saya mulai memijit tombol huruf pada keyboard HP, waktu sudah  berubah dan akibatnya terjadi pergantian hari serta bergantinya tahun. Di dalam hati, saya sangat yakin sebagian penduduk bumi walaupun tidak membisikkan sepenggal kalimatpun di telinga saya pasti di antara mereka sudah banyak agenda kegiatan, rencana dan program yang akan direalisasikan pada tahun 2021.

 

Asa serta harapan yang direncanakan tentu saja sebagai langkah yang wajar, bahkan sangat penting sebagai manusia harus memiliki asa dan harapan ataupun impian yang dicita-citakan. Bahkan bagi siapa saja yang tidak memiliki asa dan harapan serta cita-cita, maka diibaratkan orang ini raganya sudah mati karena kehilangan cita cita dan harapan.

Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda yang maknanya:

“Bekerjalah untuk keperluan duniamu seakan akan kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk keperluan akhiratmu seakan akan kamu akan mati besok”

Seingat saya dari beberapa guru ngaji yang pernah menjelaskan kandungan makna hadits di atas, penjelasan pak ustadz Dzul Birri yang bisa saya memahami nya dengan jelas. Menurut beliau, maksudnya bekerja untuk kepentingan dunia seakan akan hidup selamanya, apabila sedang mengerjakan urusan dunia tiba-tiba datang waktu shalat maka segeralah urusan shalat dikerjakan karena kalau tidak segera dikerjakan jangan jangan malaikat maut datang. Sedangkan urusan dunia bisa ditunda karena seakan akan waktunya cukup lama, seakan akan hidup selamanya.

 

Menata asa, merencanakan harapan di penghujung tahun untuk dapat diwujudkan pada tahun dan masa yang akan datang sebagai sikap syukur seorang hamba yang beriman, karena ditambah nya peluang dan kesempatan merupakan anugerah dan karunia Allah kepada manusia selaku hamba Nya.

Oleh karena itu segala asa dan harapan seyogyanya seiring dengan pesan pesan langit, yaitu menanam manfaat menebar maslahat. Itulah sebabnya mengapa baginda nabi bersabda yang maknanya:

“Sebaik baiknya manusia orang yang panjang umur nya dan baik amalnya, seburuk buruknya manusia orang yang panjang umur nya buruk prilakunya”

 

Kehadiran tahun baru 2021 seyogyanya disyukuri dengan sikap memaksimalkan kwalitas kesholehan baik yang bersifat personal demikian juga dengan kesholehan sosial masyarakat.

Problem sosial, kemasyarakatan, budaya serta ekonomi bukan sekedar dicarikan solusinya dengan hanya menggunakan serta mengandalkan kekuatan logika, akan tetapi sangat penting juga dibangun kekuatan ritual dan pendekatan rohani secara total.

Solusi ritual sudah pernah dilakukan oleh umat Nabi Yunus as. Belum cukup bila anak bangsa harus dibangun kesholehan ritual persoalan tapi mengabaikan kesholehan sosial. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.

 

You might also like