MENAKLUKKAN SYIRIK

Oleh Habib M.

           Guru dan pemerhati pendidikan Banten

Pidato Jokowi yang menganalogikan persaingan negara-negara maju bagaikan adegan dalam serial Game of Thrones disampaikan di hadapan seluruh menteri keuangan dan gubernur bank sentral 189 negara dunia, di Nusa Dua Bali beberapa waktu lalu.

Menteri Kuangan RI, Sri Mulyani menyatakan salut atas analogi yang dibuat presiden tersebut, di tengah teka-teki gencarnya percobaan nuklir di beberapa belahan bumi ini, di mana software, state of mind, dan paradigmanya masih disimpan oleh negara-negara industri maju hingga saat ini.

Para peserta IMF-World Bank memberikan standing ovation kepada Presiden Jokowi, terutama saat ia mengisahkan Game of Thrones tentang persaingan sengit dari negara-negara industri maju agar tampil sebagai nomor satu (adikuasa), tetapi pada akhirnya menimbulkan kehancuran bumi, dan meneggelamkan separuh dari populasi penduduk dunia ini. “Mereka lupa bahwa sumber daya alam yang terkandung di dunia ini tidak akan berkurang, karena jumlahnya tidak terbatas (unlimited),” demikian tandas Presiden Jokowi.

Secara religius, mudah sekali ditebak analogi yang dibuat presiden tersebut, bahwa pola pikir yang kelewat rasional dari masyarakat industri maju, membuat mereka ketakutan akan hidup miskin karena berkurangnya energi dan sumber daya alam di dunia ini.

Sementara, di dalam Alquran dijanjikan bahwa Allah akan melimpahkan rizkinya dari seluruh penjuru (darat, laut dan udara) bila masyarakat suatu negeri sanggup mengendalikan ketakwaannya. Di sisi lain, takut pada hidup miskin adalah perangkap jebakan setan dan iblis, yang membuat manusia terpedaya agar hidup dalam kesesatan dan kezaliman.

Saya merasa bersyukur ketika bermunculan inisiatif dari para pemikir, anak-anak muda Banten yang berjuang dengan ilmunya untuk melawan segala bentuk takhayul dan khurafat melalui karya esai maupun sastra di media sosial dan suratkabar. Sesungguhnya, para pemuja takhayul itu bekerja dengan ilusi, sampai pada waktunya mereka akan menyerah pada kekuatan adikuasa yang menghambakan kekayaan duniawi dengan kekuatan rasionalisme dan intelektualisme belaka.

Meskipun tidak eksplisit menyebut Donald Trump, tapi orang pertama di negeri adikuasa itu seakan menjadi simbol dari penokohan Thanos yang disebut-sebut Jokowi. Dalam Game of Thrones, pendewaan terhadap rasionalisme dan intelektualisme pada akhirnya dapat berkolaborasi dengan pemujaan terhadap mistisisme yang bersifat dogmatis belaka.

Tak ayal, seorang penguasa seperti Trump memunculkan suatu sekte dan aliran kepercayaan baru, hingga ia dipuja-puja oleh jamaah Bussa Krishna di India.

Foto-foto Trump ditempatkan di sebuah altar pemujaan, ditaburi bunga dan sesajen, kemudian para pemujanya duduk bersila membacakan mantra-mantra sakti. Bagi Bussa Krishna, Trump adalah dewa, dan ia mengaku telah membaktikan dirinya selama tiga tahun untuk sang dewa Donald Trump.

Bagi para wartawan dan wisatawan yang pernah berkunjung ke sana, dapat disaksikan bagaimana penduduk setempat mendatangi sekawanan tikus, yang dianggap sebagai reinkarnasi dewi Karni Matta. Tikus-tikus itu hidup di kuil-kuil, makan sesajen yang disediakan masyarakat, kemudian esoknya membawa pulang nampan-nampan bekas sesajen tersebut, mengais sisa makanan dewi yang dianggap sebagai berkah yang mendatangkan nasib baik.

Sahabat Soekarno yang kemudian menjadi pemimpin besar India, Jawaharlal Nehru pernah menyatakan dalam bukunya (The Discovery of India) perihal praktik-praktik takhayul dan khurafat yang begitu marak di ranah India pada tahun 1960-an. Banyak penduduk India yang berpegang pada kepercayaan mistik Hindu – tak beda jauh dengan Banten, meskipun memakai jubah Islam – namun masih banyak praktik keberagamaan berdasarkan dogma di luar nalar dan akal sehat manusia. Kepatuhan buta dan kepasrahan diri pada makhluk, entah kepala suku, dukun, orang pintar, pemimpin partai, arwah nenek-moyang, jin, dedemit, Nyi Roro Kidul, yang sebenarnya bertentangan dengan kosmos ajaran dan religiusitas Islam yang hakiki.

Sikap taat dan pasrah yang tidak kritis itu membuat mereka lupa diri tentang siapa yang sebenarnya mereka sembah, Tuhan atau hantu? Mereka mudah terjebak memuja figur yang dikultuskan, hingga bergantung pada kekuatan-kekuatan supranatural yang tak jelas kebenarannya. “Masyarakat yang hidup dalam kepercayaan dogmatis, pikirannya akan sempit, dan mereka akan sulit mencapai tahap kemajuan sebagai bangsa merdeka,” ujar Jawaharlal Nehru.

Bapak bangsa India itu kemudian menawarkan konsep yang baik agar suatu bangsa keluar dari perangkap takhayul, yakni menyemarakkan karya-karya ilmiah hingga masyarakat mampu membedakan mana yang fakta dan mana yang ilusi. Nehru tidak ragu-ragu mengacu dari konsep pemikiran filosof Immanuel Kant mengenai Sapere Audese, yang kemudian menjadi motto hidup bagi pemikir abad pencerahan, bahwa manusia harus punya keberanian untuk mencari tahu, dan berani berpikir kritis.

Nehru adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah scientific temper, yang dapat diartikan dengan berpikir dan bertindak kritis dan ilmiah. Pentingnya scientific temper kemudian dimasukkan ke dalam konsitusi India setelah kemerdekaan, dan Nehru adalah presiden pertama yang membentuk asosiasi pekerja ilmiah di negeri itu. Setelah beliau wafat (1964), organisasi baru yang memasyarakatkan pola pikir ilmiah didirikan, yakni Society for the Promotion of Scientific Temper.

Masyarakat ilmiah India terbilang gigih dalam menyuarakan pola pikir ilmiah, misalnya setiap tanggal 28 Februari (sejak 1987) diadakan perayaan hari sains nasional, yang disemarakkan dengan berbagai kegiatan menyebarkan pentingnya berpikir dan bertindak ilmiah. Anak-anak muda milenial menunjukkan hasil riset dan penelitian mereka, penerapan teknologi terbaru hingga pengembangan mutakhir di bidang sains dan teknologi.

Gerakan untuk mengampanyekan scientific temper yang digagas Jawaharlal Nehru tetap valid hingga saat ini, dan semakin maju berkat inisiatif anak-anak muda milenial yang terus menciptakan terobosan-terobosan baru dalam pemikiran dan penelitian ilmiah. Tentu saja bukan tanpa rintangan dan hambatan serius yang mempersulit ruang geraknya. Misalnya ketika berhadapan dengan sosok Andhra Pradesh yang getol mengembang-biakkan takhayul dan khurafat.

Orang itu mengultuskan dirinya sebagai tokoh masyarakat , menyerang pemikiran Jawaharlal Nehru, dan bersikukuh percaya pada kekuatan-kekuatan gaib dalam ritual Kumbh Mela, yakni berkumpulnya jutaan warga India untuk mandi telanjang di sungai Gangga, Yamuna dan Saraswati. Konon, dengan mandi di tiga sungai itu dapat membuat mereka keluar dari siklus inkarnasi, serta memudahkan mereka masuk ke pintu gerbang nirwana (surga).

Biarkan saja orang semacam Andhra Pradesh itu, meskipun tidak sedikit jumlahnya di ranah Banten yang dengan bangga dikultuskan sebagai tokoh masyarakat, politisi, pengusaha dan waliullah sekaligus. Biarkan saja mereka mengenakan ikat pinggang, sorban atau cincin pemberian dukun atau orang pintar – seperti juga Pradesh yang membawa tongkat sakti ke mana-mana – meskipun pada akhirnya mereka sendiri yang menanggung akibat dari kesyirikan dan ketakhayulannya.

Orang semacam itu, nampaknya tidak memerlukan berpikir dan bertindak ilmiah seperti yang dikumandangkan Jawaharlal Nehru. Meski kemudian, sejarah akan mencatat kapasitas orang seperti Pradesh yang tetap bersikukuh membanggakan hal-hal gaib tersebut.

Anda boleh saja mengikuti jejak Pradesh, dan merasa bangga disebut tokoh masyarakat. Meski pada akhirnya, Anda harus bersiap-siap menanggung risiko terpelanting dan tenggelam dalam percaturan sejarah.

Sedangkan di akhirat, Anda harus menanggung perbuatan menyekutukan Tuhan sebagai dosa terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban dalam mahkamah pengadilan Allah Rabbul ‘Izzati. (*)

 

You might also like