MANUSIA PALING MULIA  VERSI ALLAH SWT

Hadi Susiono Panduk

Alumnus Madrasah Nahdlatul Muslimin, Ponpes Al-Khoirot dan Sabilillah Kudus,

serta Universitas Diponegoro Semarang.

 

Terma takwa biasanya menghiasi musim-musim pahala, padahal sejatinya ketakwaan seseorang semestinya selalu built in, di mana dan kapan saja. Berat sekali ya? Memang! Tetapi, apa yang disebut takwa itu? Inti bertakwa, menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan meninggalkan yang dilarang oleh-Nya.

Terkesan sederhana, namun jika dibreak down takwa adalah laku spiritual penuh heroik seorang Mukmin. Menjalankan perintah Allah? Berapa banyak perintah Allah? Meninggalkan larangan-Nya? Berapa banyak larangan Allah? Apakah manusia sanggup mencapai titik kulminasi takwa?

Allah memerintahkan manusia Mukmin agar bertakwa dengan sejatinya dan bersama dengan orang-orang yang benar demi sebuah predikat paling mulia (QS. Al-Hujurat:13). Firman Allah tersebut, menggambarkan bahwa orang Mukmin lebih dekat dengan ketakwaan kepada Allah. Mukmin artinya orang yang mengimani akan eksistensi dan ke-Ada-an Allah.

Bagaimana seseorang dapat bertakwa padahal berbuat baik dan buruk juga tidak akan terasa langsung efek sampingnya. Nah, di sinilah core dari sebuah keyakinan. Jika engkau yakin bahwa api itu panas, apakah harus dipegang demi membuktikan rasa panasnya?

Begitu juga dinginnya es. Jika jatuh dari ketinggian 15 meter akan mengakibatkan kefatalan, apakah engkau harus juga menjatuhkan diri sehingga yakin bahwa jatuh dari ketinggian tersebut bisa membuat patah tulang, bahkan kematian? Lagi-lagi bukanlah logika, tapi keimanan. Apakah keimanan bisa dilogikakan?

Jika engkau percaya kepada Allah, mampukah melogika Allah supaya engkau mengimani-Nya? Ini identikal dengan apa yang dilakukan Nabi Musa AS, ketika ingin melihat Allah dengan naked eyes, demi sebuah label mempertebal keimanan, tetapi akhirnya beliau tidak sanggup. Artinya, jika engkau ingin bertakwa kepada Allah, tidaklah dengan menggunakan logika berpikir manusia. Melihat wujud Allah.

Cukuplah dengan memahami sifat-sifat Allah dan mengaplikasikan ke dalam kehidupan realita. Semisal, Allah bersifatkan Arrahman Arrahiim, sebagai ciptaan-Nya manusia berusaha meniru laku sifat penuh kasih dan sayang kepada makhluk Allah lainnya.

Ciri manusia paling mulia versi Allah SWT sangat gamblang, seperti disinggung dalam surat-surat dalam Kitab Suci-Nya, adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan masa peperangan. (QS. Al-Baqarah:177).

Sujurus dengan kandungan Surat tersebut, Surat Al-Anbiya 48-49, juga menceritakan orang-orang yang beriman yakni mereka yang takut akan azab Tuhan-Nya, dan takut akan (datangnya) hari kiamat. Penanda lain, dari seorang yang bertakwa adalah mereka yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang-orang yang membenarkannya, seperti dikutip Surat Az-Zumar ayat 33. Sedangkan, kandungan Surat Al-Lail, 17-20, identik dengan Surat Al-Baqarah di atas, yakni orang yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya), dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya.

Panduan dan kriteria menjadi manusia paling mulia telah diberikan oleh Dzat yang wajib di-Esakanketuhanan-Nya oleh semua makhluk. The turn is yours! Sekarang giliran Anda! Apakah predikat Anda manusia paling mulia? Ataukah sebaliknya? Semoga jawabannya adalah bukan pertanyaan terakhir. Semoga!

Wallahu A’lamu Bishawab.

             

 

You might also like