LANGKAH MENUJU REVITALISASI KUA

Oleh  Muhamad Andri Yani

Penghulu KUA Sukadiri

Pendahuluan

Kantor Urusan Agama atau yang kita kenal dengan nama KUA merupakan instansi Kementerian Agama di tingkat kecamatan yang bertugas dalam melaksanakan pelayanan dan bimbingan masyarakat Islam baik dalam hal pernikahan, bimbingan keluarga sakinah, kemasjidan, hisab rukyat, pembinaan syariah, penerangan agama Islam, zakat dan wakaf serta ibadah haji. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 16 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Urusan Agama Kecamatan.

Sejatinya Kantor Urusan Agama melaksanakan peraturan yang ditetapkan oleh Kementerian Agama dalam hal layanan bimbingan masyarakat Islam secara menyeluruh, akan tetapi kenyataannya banyak Kantor Urusan Agama yang terjebak hanya melayani nikah rujuk saja sehingga tugas pokok dan fungsi yang tertuang dalam peraturan tersebut terabaikan dan belum optimal dalam pelaksanaannya.

Berkenaan dengan hal tersebut banyak permasalahan yang terjadi di Kantor Urusan Agama yang perlu diuraikan dan menjadi tantangan untuk merubah kebiasaan di Kantor Urusan Agama menuju pencanangan program revitalisasi Kantor Urusan Agama sesuai dengan amanah Menteri Agama.

 

Permasalahan Yang Terjadi

Sejauh mana peran Kantor Urusan Agama selama ini? Pertanyaan tersebut sangat mudah dijawab karena banyak dirasakan oleh pegawai-pegawai Kantor Urusan Agama yang mengalaminya, akan tetapi jawaban tersebut masih jauh dari harapan Kementerian Agama dan masyarakat pada umumnya.

Identifikasi masalah yang terjadi di Kantor Urusan Agama sebagai besar Kantor Urusan Agama hanya melayani pernikahan saja, mereka disibukan dengan layanan administrasi pendaftaran nikah secara online melalui Simkah Web, bimbingan suscatin dan permasalahan seputar nikah yang sifatnya pelayanan di kantor, sedangkan untuk pelayanan lapangan seperti zakat wakaf, keluarga sakinah, penerangan agama Islam dan lain sebagainya kebanyakan hanya menunggu konsultasi dari masyarakat tanpa adanya jemput bola atau silaturahmi langsung dengan masyarakat dan menanyakan permasalahan serta bimbingan yang terjadi di masyarakat.

Selain hal tersebut, penggunaan media dan teknologi masih sangat minim dalam menjangkau masyarakat, padahal di masa pandemic ini dan di era 4.0 Kantor Urusan Agama harus menyesuaikan dan mengembangan pelayanan melalui media digital seperti Whatsapp, Instagram, Youtube, Zoom dan lain sebagainya.

Permasalahan selanjutnya kompetensi sumber daya manusia pada instansi Kantor Urusan Agama harus dikembangkan dan dilatih secara berkesinambungan dalam melayani bimbingan masyarakat Islam. Kompetensi Kepala Kantor Urusan Agama dan penghulu tidak boleh berhenti kepada kemampuan dalam melaksanakan tugas  pokok seperti menikahkan dan hukum islam saja tetapi Keberadaan Kantor Urusan Agama dan Penghulu  harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan jaman yang terus berubah seperti saat ini.

 

Program Revitalisasi KUA

Mengutip dari Wikipedia kata Revitalisasi adalah suatu proses atau cara dan perbuatan untuk menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya terberdaya sehingga revitalisasi berarti menjadikan sesuatu atau perbuatan untuk menjadi vital, sedangkan kata vital mempunyai arti sangat penting atau sangat diperlukan sekali untuk kehidupan dan sebagainya.

Revitalisasi Kantor Urusan Agama yang sedang dicanangkan oleh Gus Menteri merupakan upaya Kementerian Agama untuk mewujudkan Kantor Urusan Agama sebagai pusat layanan keagamaan yang prima, kredibel, dan moderat guna meningkatkan kualitas umat beragama. Menurut Dirjend Bimas Islam Kamarudin terdapat empat tujuan strategis dari revitalisasi Kantor Urusan Agama. “Tujuan strategis pertama yaitu, untuk meningkatkan kualitas umat beragama, kedua untuk memperkuat peran Kantor Urusan Agama dalam mengelola kehidupan keberagamaan, ketiga, untuk memperkuat program dan layanan keagamaan, dan keempat, untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan Kantor Urusan Agama sebagai pusat layanan keagamaan.

Selain hal tersebut Kamaruddin menambahkan, revitalisasi Kantor Urusan Agama meliputi rehab fisik di setiap Kantor Urusan Agama model. Rehab fisik tersebut dilakukan seperti perubahan layout front office, layout balai nikah dan ruang konsultasi.  Revitalisasi ini juga meliputi penyempurnaan standar pelayanan publik pada Kantor Urusan Agama Kecamatan, transformasi digital dan penguatan program capacity building terhadap petugas-petugas di Kantor Urusan Agama model seperti penghulu dan penyuluh. (Sumber : Kemenag.go.id)

 

Langkah Menuju Revitalisasi

Berdasarkan fakta di lapangan, Kantor Urusan Agama perlu membenahi diri agar tidak menjadi konservatif dan terjebak pada kenyamanan pelayanan nikah. Kantor Urusan Agama harus bangkit dan menyadari akan tugas pokok dan fungsi Kantor Urusan Agama itu sendiri. Permasalahan yang terjadi jangan dibiarkan berlarut-larut sehingga menjadi benang kusut yang susah untuk di perbaiki kembali.

Langkah yang harus dilakukan Kantor Urusan Agama menuju Revitalisasi tentunya harus sudah disiapkan dari sekarang diantaranya sebagai berikut :

Pertama, pembenahan pelayanan nikah dimulai dari ketegasan Kantor Urusan Agama untuk menerima pendaftaran online dari calon pengantin secara online melalui Simkah Web dan tidak melayani Amil atau P3N dalam hal pendaftaran, mereka hanya sebatas mendampingi Catin ketika membawa berkas dan ikut mensosialisasikan pendaftaran secara online.

Kedua, Kantor Urusan Agama perlu mengadakan survai dengan mengambil sampling dari masyarakat tentang permasalahan yang terjadi seperti melek huruf Al-Qur’an, paham keagamaan, keluarga sakinah, zakat wakaf dan urusan agama Islam lainnya. Sehingga dari hasil survai tersebut dapat dipetakan masalah-masalah yang ada dimasyarakat dan ditindaklanjuti oleh KUA dengan steakholder lainnya

Ketiga, [eningkatan sumber daya Manusia pada Kantor Urusan Agama menjadi point penting, mereka harus memahami tugas dan mengambil peran secara nyata dalam pelaksanaannya baik Kepala Kantor Urusan Agama, Penghulu, Penyuluh, Pramubakti harus bisa melayani sesuai standar layanan SOP yang ditentukan.

Keempat, penggunaan media digital harus sudah menjadi kewajiban Kantor Urusan Agama dalam memenuhi standar pelayanan. Dengan memanfaatkan media sosial seperti whats app, zoom, youtube, facebook, Instagram dan twitter, Kantor Urusan Agama bisa berkomunikasi dengan masyarakat secara online terlebih di masa pandemic sekarang ini. Pemanfaatan media ini menjadi alternative konsultasi dan bimbingan calon pengantin (catin) melalui Jarak jauh. Kantor Urusan Agama dan jajarannya pun harus mampu membuat konten dan visualisasi serta mempublikasikan hal-hal terkait pelayanan keagamaan melalui media online agar masyarakat mudah mengaksesnya.

Kelma, penyuluh dan penghulu merupakan garda terdepan dalam melayani dan membimbing masyarakat, sehingga perlu dibekali pemahaman tentang moderasi beragama agar terciptanya pemahaman keagamaan yang moderat dan disampaikan kepada masyarakat.

 

Penutup

Dari uraian diatas penulis memiliki harapan agar Kantor Urusan Agama ke depan bisa bermartabat dan bermanfaat untuk umat dalam hal pelayanan keagamaan baik di kantor maupun di lapangan dengan harapan revitalisasi bisa didukung baik secara moril maupun materil dari pemerintah sehingga sumber daya manusia mumpuni dengan bekal yang dimiliki serta menjadi center of excellent bagi masyarakat.*

 

 

 

 

You might also like