KAROMAH PARA KIAI BANTEN

Oleh Hafis Azhari

Alumnus UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, Alumnus Ponpes Daar El-Qolam Gintung,  Pengajar di Ponpes Albayan Rangkasbitung

 

Ingin saya jelaskan dulu bahwa kata “karomah” berasal dari bahasa Arab, yang berarti “kemuliaan” atau “anugerah yang mulia”. Perspektif lain, bisa juga disandingkan dengan isim fa’ilnya, yakni “karim” yang berarti “orang mulia”.

 

Seorang putera pertama Kiai Rifa’i yang memimpin Pondok Pesantren La Tansa bernama “Mafatihullah Karim” yang berarti kunci-kunci kemuliaan. Kiai Rifa’i juga pernah memberi nama pesantren untuk salah seorang muridnya yang merintis di daerah Rangkasbitung, “Manahijussadat”, yang berarti jalan hidup bagi orang-orang mulia.

 

Tetapi, pengertian karomah dalam istilah bahasa Indonesia lebih bernuansa sakral atau kudus. Orang Banten, baik Jawa maupun Sunda justru punya istilah tersendiri, “keramat” yang dikonotasikan dengan sesuatu yang menyeramkan. “Awas, jangan lewat situ, ada kuburan keramat.”

 

Orang-orang bukannya mendekati kuburan itu dan mendoakan ahlul-kubur yang mulia itu, tetapi malah memerintahkan agar dihindari.

 

Ketakutan-ketakutan tak beralasan sering dihembuskan oleh para tetua (leluhur) berikut macam-macam pamali dan pantangan, yang sebagian tidak masuk akal, dan justru menghambat kreativitas dan produktivitas orang Banten itu sendiri.

 

Kita kembali kepada pengertian “karomah” yang sebenarnya. Ketika Kiai Sulaiman Effendi ingin mendirikan pesantren, seorang muridnya Rafi, alumni Daar el-Qolam dan pernah mondok di Tebuireng tiba-tiba bersilaturahim ingin berjumpa dengan gurunya.

 

Ia memberitahukan bahwa di daerah Cibadak, Rangkasbitung, ada seseorang yang ingin menjual tanah seluas 5.000 m2. Setelah adanya kecocokan mengenai lokasi dan situasi setempat, kontan Kiai Sulaiman menemui pemilik tanah tersebut, yakni H. Syarjawi yang menentukan harga senilai Rp 6.000.000,- (saat itu tahun 1995, sebelum krisis moneter).

 

Kiai Sulaiman merasa kebingungan, dari mana uang sebesar itu mesti didapatkan. Keinginan ada, harapan begitu tinggi, obsesi begitu memuncak, doa-doa sudah dipanjatkan siang-malam. Tapi, dari mana uang sebanyak itu bisa diperoleh?

 

Tak berapa lama, Kiai Sulaiman diundang untuk mengisi acara khutbah Jumat di masjid Al-Hidayah, komplek perumahan Bank Indonesia, Jakarta.

 

Selepas salat Jumat, seorang sahabatnya yang tinggal di sekitar komplek itu, yang juga bernama H. Sulaiman (mantan konsultan BTN) tiba-tiba mengundangnya untuk makan siang di rumahnya.

 

Seusai makan siang, tiba-tiba terlontar ucapan dari sahabatnya itu: “Pak Sulaiman, dulu saya pernah mendengar kabar bahwa Pak Sulaiman bercita-cita mendirikan pesantren, apakah keinginan itu masih ada di hati Pak Sulaiman?”

 

“Insya Allah, mudah-mudahan Allah memberikan jalan, doakan saja Pak Haji.”

 

“Begini, Pak Sulaiman,” ia menggeser kursinya lebih mendekat, “Saya punya perhiasan dari peninggalan almarhum istri saya. Saya sudah rundingkan dengan anak-anak bahwa perhiasan ini akan diwakafkan untuk pendidikan pesantren, dan mereka semua sudah sepakat. Jadi, kalau Pak Sulaiman jual semua perhiasan ini, kira-kira harganya mencapai Rp 6 juta rupiah. Saya harap Pak Sulaiman tetap istiqomah, dan rela menerima pemberian dari saya ini.”

 

“Baiklah, Pak Haji, nanti akan saya persiapkan berkas-berkasnya terlebih dahulu.” Dan mereka pun saling berjabatan tangan dengan mantap. (baca: “Roman Biografis K.H. Sulaiman Effendi”, bab 7).

 

Pindahnya Pesantren Al-Mizan

 

Karomah yang dialami Kiai Anang Azharie, Pengasuh Ponpes Al-Mizan tidak kalah menarik. Sejak langkah-langkah pertama Kiai Anang sudah menggagas nama pesantrennya “Daar El-Mizan”, yang mengandung arti “pertimbangan” atau “rumah timbangan”.

 

Bahwa hidup manusia harus punya timbangan ilmu dan amal, lahir dan batin, religius dan rasional, bahkan duniawi dan ukhrawi. Pada perkembangan selanjutnya pemberian nama tersebut lebih dibikin simpel menjadi “Al-Mizan”.

 

Yayasan pun kemudian bernama “Al-Mizan”, telah dibuatkan akte notarisnya pada tanggal 15 Maret 1993. Sejak tahun inilah pendaftaran santri dibuka, dan tahun ajaran pertama diselenggarakan dengan menampung jumlah santri sebanyak 67 orang, yang berasal dari daearah Rangkasbitung, Serang, Labuan hingga Karawang.

 

Tokoh-tokoh masyarakat Kapugeuran dan sekitarnya diundang untuk turut-serta mendukung dan mendoakan kehadiran pesantren Al-Mizan, dengan pemimpinnya Kiai Anang Azharie, serta didukung oleh istrinya Ustadzah Nunung Khairiyah yang bertindak selaku pendidik dan pengasuh santriwati.

Di tahun ajaran kedua (1994), jumlah santri meningkat, hingga dibutuhkan sekitar empat ruang kelas. Konsekuensinya, salah satu kelas terpaksa beratapkan plastik tanpa dinding. Setelah tiga bulan, atap plastik itu pun keropos dan bobrok, hingga kemudian digantinya dengan atap seng yang agak permanen.

 

Pada tahun-tahun ini Pesantren Al-Mizan belum memiliki fasilitas dan sarana yang memadai untuk kegiatan santri dalam beribadah maupun berolahraga.

 

Dalam aktivitas salat berjamaah, para santri dan guru masih bergabung dengan masyarakat Kapugeuran di mushalla kampung, sedangkan pelaksanaan salat Jumat masih di Mesjid Agung Al-A’raf di Alun-alun Rangkasbitung.

 

Adapun fasilitas dan sarana olahraga, para santri Al-Mizan masih memanfaatkan semua fasilitas yang berada di sekitar alun-alun, seperti sepak bola, volley, basket, hingga lari marathon.

 

Bersama Ustadzah Nunung, Kiai Anang Azharie terus bertekad untuk berkiprah di dunia pendidikan, sampai akhirnya merancang suatu agenda baru untuk mengasramakan para santrinya di suatu kampung terpencil, yang masih dikelilingi oleh hutan-hutan belantara.

 

Ketika saya mewawancarai Kiai Anang yang berasal dari Jawa Banten (kelahiran Kresek, sekampung dengan Wapres K.H. Ma’ruf Amin) untuk program penulisan buku “Jejak dan Pemikiran Pengasuh Ponpes Al-Mizan” (Fikra Publishing, Jakarta, 2013), di kampung terpencil tempat awal-mula berpindahnya santri Al-Mizan diasramakan, saya tanyakan pada beliau:

 

“Pak Kiai, apa nama desa di sekitar sini?”

“Desa Ancol, Kecamatan Rangkasbitung, Lebak.”

“Kalau nama kampung di sekitar sini?”

“Kampung Narimbang, dari bahasa apa itu, Fis?”

 

Kami terdiam sejenak. Dengan pandangan menerawang, saya pun menjelaskan, “Berarti, sejak tahun 1994 Pak Kiai memindahkan santri-santri Al-Mizan di suatu kampung yang bernama Narimbang. Ia berasal dari bahasa Sunda yang berarti menimbang atau pertimbangan.”

 

Pengalaman Kiai Eeng Nurhaeni

 

Tidak selamanya berjalan lancar. Baik sebelum mendirikan pesantren maupun selama merawat dan menjalankannya. Segala hal ada saja kendalanya. Baik soal keluarga besar pondok maupun santri yang bermasalah, atau bahkan soal logistik yang sangat terbatas.

 

Cerita yang dialami K.H. Eeng Nurhaeni, pendiri dan pengasuh pesantren Al-Bayan ini, saya sampaikan berdasarkan “oral history” dari hasil pertemuan di kediamannya, setelah saya menjalankan ibadah umrah beberapa tahun lalu.

 

Alkisah, di musim kemarau sekitar tahun 2002, banyak petani yang gagal panen. Perkebunan juga banyak mengalami problem kekeringan. Akibatnya, seperti matarantai yang saling berhubungan. Harga beras mahal, sayur-mayur dan rempah-rempah begitu juga. Dan konsekuensinya, infak bulanan dari para wali santri banyak yang menunggak, sulit untuk bisa diandalkan.

 

Sementara itu, stok beras di gudang pesantren Al-Bayan, setelah ditengok oleh Kiai Eeng, hanya tersisa setengah karung yang pasti akan habis untuk makan santri selama satu hari itu.

 

Lalu, besok dan lusa mereka mau makan apa? Kalau soal bumbu dan sayur masih bisa diusahakan, dengan mencari dedaunan dan rempah-rempah di perkebunan sekitar pondok. Tapi soal beras dan nasi? Kalau tidak ada di gudang, berarti semuanya harus dibeli dengan uang. Lalu, uang dari mana?

 

Mengharapkan belas-kasih dari orang-orang sekitar, untuk memberi makan puluhan santri, rasanya amat mustahil. Tetapi, membiarkan santri kelaparan juga merupakan amanat dan tanggung jawab yang harus dipikul sedemikian beratnya.

 

Kiai Eeng hanya bisa mengeluh dan mengaduh kepada Allah subhanahu wata’ala. Baginya, berpantangan untuk mengeluh di depan manusia yang sama-sama makhluk Allah yang banyak kekurangan dan kelemahannya. Jika seseorang memiliki kekuatan iman dan Tauhid, mengeluh kepada orang yang rendah kualitas imannya, justru dilarang oleh ajaran agama.

 

Sepertiga malam itu, ia melaksanakan salat tahajud sambil menangis di hadapan Al-Khaliq. Hanya Allah Yang Maha Kaya dan memiliki kekayaan di seluruh jagat raya ini. “Ya Allah, Kau Maha Lembut bagi hamba-hamba-Mu yang meminta. Engkau Maha Pemberi rizqi bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Sungguh, Engkau Maha Kuat dan Maha Perkasa.”

 

Seusai salat subuh di masjid, tiba-tiba seorang santri menemui Kiai Eeng di kediamannya. “Pak Kiai, ada tamu yang katanya mau ketemu dengan Pak Kiai.”

 

“Siapa, dari mana dia?”

“Maaf Pak Kiai, dia bawa mobil, tapi belum sempat saya tanyakan dari mana. Sekarang dia masih menunggu di pintu gerbang.”

 

Setelah Kiai Eeng menemui tamu tersebut, tiba-tiba sang tamu bertanya, “Pak Kiai, apa betul tempat ini adalah pesantren?”

“Ya betul, kenapa?”

“Begini Pak Kiai, saya datang dari Jakarta. Majikan saya menyuruh saya membawa dua karung beras di mobil ini, untuk disedekahkan buat pesantren.”

“Pesantren apa?”

“Dia hanya berpesan, pokoknya pesantren mana saja, yang penting di daerah Rangkasbitung.”

Seketika itu, Kiai Eeng mengucapkan terimakasih, dan salam untuk majikannya. Ketika empat santri Al-Bayan membawa karung beras tersebut, tak berapa lama mobil itu meluncur sedemikian cepatnya, dan menghilang di kejauhan. Wallahu a’lam. ***

 

You might also like