JIWA SANTRI, JIWA PEJUANG PERUBAHAN

 Oleh Hana Hazim Nashif Kanz

 Di atas kita hanya Allah, di bawah kita hanya tanah, jasad kita pun boleh melekat di bumi, tapi qalbu dan jiwa selalu berhubungan langsung dengan Sang Maha Khaliq di ‘arasy. Kita sebagai santri, dimanapun berada dan kapanpun, terus menempuh jalan perjuangan dakwah yang mulia untuk mendapat Ridla Allah, maka inilah antara lain yang diajarkan oleh pesantren kepada para santri tentang hakikat kehidupan yang hakiki.

Pesantren mengajarkan bahwa kehidupan selalu dibangun dalam bingkai semangat perjuangan, pengorbanan dan pengabdian. Ketiga karakter tersebut tidak boleh hilang dari kepribadian santri, sebab santri sejatinya adalah pejuang yang rela mengorbankan dan mengabdikan dirinya untuk perjuangan agama, bangsa dan negara.

Sungguh besar nikmat Allah SWT, karena kita dianugerahi-Nya kesempatan menimba ilmu di pesantren.  Harus selalu diingat bahwa di pesantren,  kita bukan cuma untuk bermain dan belajar saja, melainkan kita sedang berjuang fi sabilillah serta berjihad di jalan Allah. Oleh karenannya jangan pernah ada rasa takut ataupun perasaan khawatir di hati, mulailah kita kuatkan niat, bulat-kokohkan tekad, bangkitkan semangat untuk menjadi penerus perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Yakinlah dengan firman Allah SWT bahwa “Orang-orang yang beriman, berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT., dan merekalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. (Q.S. At Taubah:20)

Kita meninggalkan orang tua tersayang, rumah dan kampung halaman bahkan mengorbankan segalanya untuk berhijrah masuk ke pesantren pilihan kita di Republik Indonesia tercinta. Kita terus berjuang dengan tekun menuntut berbagai ilmu yang telah diprogramkan pesantren, baik salafi maupun modern.

Di lembaga ini kita banyak belajar, belajar dari para mujahid dan mujtahid Islam serta para pejuang dan pendiri serta guru pesantren kita, mereka semua telah rela mengorbankan jiwa, harta bahkan nyawanya, demi mewujudkan izzah ummat Islam khusunya, dan umat manusia pada umumnya. Motto inspiratif pesantren yang kita dengar, dengungkan dan terngiang selalu di telinga kita adalah “Berani hidup tak takut mati, takut mati tak usah hidup, takut hidup mati saja.”

Melalui momen Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober, marilah kita terus bekerja dan berusaha keras, istiqamah dalam beribadah dan berdo’a, konsisten mencurahkan hati dan pikiran kita menelaah dan meneliti, belajar dan mengembangkan ilmu, berperilaku akhlak mulia, untuk menjadi seorang pejuang bukan pecundang, untuk menjadi pelaku sejarah bukan menjadi penonton sejarah, untuk menjadi pelopor peradaban bukan menjadi sampah peradaban. “i’malu fauqa ma ‘amilu”, bahkan melalukan yang lebih baik daripada para pendahulu kita kalau mungkin, berpacu menjadi lebih baik, fastabiqul khairat berlomba lomba dalam kebaikan.

Kepercayaan kita kepada sistem pendidikan yang ada di pesantren ini, yang memadukan antara ide, gerak dan langkah dalam bingkai indah nilai nilai keislaman, sungguh telah membuahkan simpati, dukungan dan kepercayaan dari seluruh elemen masyarakat. Walaupun sesekali pesantren mendapatkan gangguan gangguan, mendapatkan hadangan hadangan dari pihak yang tidak suka, pesantren tetap tak pernah mundur, gentar, apalagi berhenti mengajarkan para santri Islam sebagai way of life, karena Pesantren kita dibangun di atas landasan keikhlasan para kyiainya, pendirinya, pendidiknya serta para santri santrinya, kita semua. Pesantern tetap eksis di sepanjang sejarah Nusanatara sebagai benteng  terakhir pertahanan ummat Islam dalam beragama, bangsa dan bernegara. Bukankah Allah telah berfirman, yang artrinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian tolong agama Allah, maka Allah akan tolong kalian, meneguhkan kedudukan kalian.” (Q.S. Muhammad:7)

Maka kita jadilah penolong penolong agama Allah, jadilah pejuang pejuang agama Allah yang siap berjuang di jalan Allah walaupun harus mengorbankan jiwa, harta dan nyawa kita untuk menggapai kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat.

Sebagian orang luar kadang salah mengerti tentang pesantren, bahkan banyak dari santri sendiri yang belum pula faham apa itu pesantren yang sebenarnya, mereka masih menganggap pesantren sebagai lembaga pelayanan, oleh kerannya ia ingin serba dilayani, mulai bangun tidur ingga tidur tidurnya lagi. Hari ini, momen hari Pesantren ini, penulis tegaskan, pesantren kita bukan hotel, pesantren kita bukan tempat penginapan, pesantren kita bukan boarding school semata. Di pesantren tidak ada yang dilayani dan melayani, tidak ada tuan dan tidak ada pelayan kita semua sama beribadah, saling bantu, bahu membahu dalam belajar dan menutut ilmu. Pesantren sesungguhnya adalah medan perjuangan, tempatnya orang orang yang memiliki jiwa jiwa kemandirian, bukan jiwa ‘cemen’ dan “baperan.”

Bahkan sering penulis dapatkan banyak orang yang bertanya apa pekerjaan alumni pesantren. Maka hari ini saya jawab “alumni pesantren ada di semua lapangan pekerjaan dan pengabdian, ada di semua bidang profesi mulai guru, dokter hingga ahli IT. Mulai politisi hingga pejabat pemerintahan bahkan menteri hingga wakil presiden. Ringkasnya, alumni pesantren terserap di hampir semua bidang kehidupan, sesuai dengan minat dan kesempatan yang dimilki. Tapi perlu difahami bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan santri berorientasi hidup secara materi, mengejar duniawi, dan mencari pekerjaan dan ijazah.

Orientasi hidup seorang santri yang diajarkan pesantren adalah bagaimana hidupnya bisa memberi manfaat bagi orang orang yang ada di kelilingnya, khairunnasi ahasnuhum khuluqan wa anfa’uhum lin nas. Sebab manusia terbaik adalah yang paling baik akhlaknya dan yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain. Dan perlu dipahami pula bahwasannya, pesantren kita adalah tempat penggemblengan kader kader umat terbaik yang akan menjadi pemimpin hebat dimasa yang akan datang, insya Allah.

Ingatlah tatkala pohon perjuangan tak akan pernah kehabisan akal, untuk menumbuhkan daun-daun perjuangan, mati satu tumbuh seribu. Akan lahir jutaan-jutaan pejuang pejuang agama Allah yang siap berjuang li’I’lai kalimatillah wa li iqamati syari’atillah.

Maka untuk menanamkan nilai nilai kepesantrenan, keislaman, keilmuan dan kemasyarakatan pada diri seorang santri, pesantren selalu berlandaskan kepada panca jiwa pondok, yaitu : Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Ukhuwah Islamiyah, dan Kebebasan.

Maka kita para santri tidak akan pernah berhenti, mengawali langkah dengan keyakinan, hadapi bukit yang terjal dengan kemantapan, derap langkah perjuangan terus dikumndangkan, daya juang terus dikobarkan, lenyapkan kemustahilan, karena kita adalah pejuang yang tak beratributkan kemustahilan, berhiaskan kemantapan, dan bersenjatakan keyakinan untuk mewujudkan cita-cita tujuan harapan para pendiri meniti jalan, menapak bumi, menggapai ridla illahi rabbi.

Melalui tulisan ini, sebagai santri Darul Muttaqien, penulis mengajak kita semua para santri di negeri ini. Marilah kita terus berjuang. tidak perlu resah, gundah, apalagi gelisah. Kita harus yakinkan, pastikan bahwa semua tak akan terjatuh, karena kita adalah seorang pejuang tangguh, walaupun resiko terbesar seorang pejuang adalah kematian. Tak berjuangpun akan mati, maka matilah di jalan perjuangan. ‘isy kariman aw mut syahidan. Menuntut ilmu di pesntren adalah juga bagian perjuangan..

Itulah nasihat bapak pimpinan pesntren kita, marilah kita terus melangkah menggapai asa dan cita-cita yang mulia, marilah kita terus berjuang hingga datangnya kematian, marilah kita terus memberi dalam ladang ilmu, karena ilmu adalah mahkota yang jubahnya adalah manfaat. Teruslah memburu ilmu minal mahdi Ilal lahd, untuk kelak diamalkan dalam kehidupan kita. Marilah kita ukir prestasi-prestasi terbaik, kita ciptakan karya-karya terbaik even the best can be Improved, sebab yang terbaik pun masih bisa diperbaiki.

Selamat Hari Santri, semoga dalam diri kita, Santri Indonesia, tumbuh jiwa-jiwa pejuang yang selalu berusaha menjadi umat dan generasi terbaik, untuk terus berjuang mengembalikan kejayaan yang telah lama hilang. Tetap terus memijarkan semangat pribadi-muslim yang sudah lama terpendam, merestorasi kemuliaan umat yang telah lama dihinakan. Marilah kita kepalkan tangan, busungkan dada, rapatkan barisan, kita bangkitkan kejayaan Islam. Wallahu a’lam!!!

 

 

You might also like