Jawara Hukum yang Mantan Juara MTQ

Nama lengkapnya, Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag., S.H., M.H., M.A. Gelar akademik yang berderet di depan dan belakang namanya, menunjukkan kapasitas keilmuan lelaki ini.

Keseriusannya pada pengembangan ilmu hukum di Indonesia, terutama dalam ranah Islamic family law, layak diapresiasi.

Perhatian itu tak hanya di ranah akademik, tapi juga di masyarakat. Tak hanya puluhan publikasi ilmiah dalam bentuk buku dan ratusan artikel ilmiah dalam berbagai jurnal ilmiah nasional dan internasional bereputasi serta media massa nasional dan lokal, tapi juga berbagai penelitian telah yang dilakukannya, baik riset berbasis data normatif maupun sosiologis.

 

“Saya banyak menulis dan mengembangkan keilmuan bidang hukum Islam. Kelak dengan ilmu itu, saya berharap masyarakat akan tercerahkan,” ujar cendekiawan yang mengadi di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.

 

Tholabi memang bukan sekadar seorang akademisi, tapi juga seorang kiai. Bahkan, ia juga pantas bila dijuluki seorang “jawara hukum Islam” karena minatnya yang besar pada ilmu hukum Islam (islamic law).

 

Sebagai alumnus terbaik Program Magister (2003) dan Program Doktor (2009) Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, konon, Tholabi ingin hukum Islam benar-benar berkembang dan inheren dalam tata hukum Indonesia.

Karena itu, ia pun terus menggali keilmuan tersebut dan mengembangkannya di masyarakat, baik sebagai dosen maupun peneliti.

“Untuk menambah wawasan dalam ilmu hukum konvensional, saya juga mengikuti program sarjana dalam bidang Ilmu Hukum Perdata dan pascasarjana dalam bidang Ilmu Hukum Tata Negara di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Alhamdulillah keduanya sudah diselesaikan dengan baik,” tutur pria asal Citangkil, Cilegon.

 

Kiprah pengabdian masyarakat dalam bidang akademik, tidak hanya dilakoni dalam lingkup sivitas akademika UIN Jakarta, tapi juga level nasional dan internasional.

 

Sejumlah posisi atau jabatan yang pernah dan sedang dijalankan di luar kampus, antara lain: Anggota Komis Fatwa MUI Pusat, anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Kemenristek Dikti, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Dewan Pakar ICMI Tangsel, Dewan Pakar Alumni Penerima Beasiswa Super Semar, Pengurus Alumni Lemhannas RI, Pengurus LPTQ Provinsi Banten, Asesor Pendirian Perguruan Tinggi Keislaman dan Program Studi di lingkungan PTKIN/S se- Indonesia, Pengurus Pusat Himpunan Ilmuan dan Sarjana Syariah Indonesia, Pengurus Pusat Asosisasi Dosen Indonesia, dan sebagainya.

 

Sebagai putra asli Banten, Tholabi juga dikenal memiliki multi talenta dalam bidang seni, khususnya terkait Alquran, di luar peminatannya dalam bidang akademik.

 

Mewarisi bakat dari orang tua (H. Khaeruddin Ralie dan Hj. Masrubiyah) dan kakeknya (A. Raman), Tholabi sejak kelas 4 SD/MI sudah menunjukkan talenta yang caimik dengan menjuarai MTQ/MHQ 1 Juz Tilawah tingkat Kabupaten Serang dan berlanjut hingga tingkat Provinsi Jawa Barat, kala itu.

 

“Saya tidak pernah mondok khusus mendalami tilawah Alquran dan tahfizh Alquran, tapi saya dibentuk dalam tradisi magrib mengaji di kampung saya. Kebetulan Abah dan Emak saya guru ngaji di kampung. Tradisi magrib mengaji inilah yang secara alami telah membentuk saya menjadi seorang qari dan hafizh”, kenangnya.

 

Selain menguasai aneka lagu-lagu atau nagham tilawah Alquran dan sejumlah prestasi dalam MTQ reguler dan RRI/TVRI, Tholabi juga menguasai seluk-beluk khath Alquran (Kaligrafi Islam).

 

Anugerah Allah ini pada gilirannya mengantarkan Tholabi menjadi juara Khath Alquran dalam berbagai even baik lokal, nasional, regional, bahkan internasional.

 

Sejumlah penghargaan diraih dari cabang ini, antara lain Peraduan Menulis Khath ASEAN di Brunei Darussalam dan International Islamic Calligraphy Competition yang digelar oleh IRCICA, Istanbul, Turkey.

 

Sedangkan karya pengabdian masyarakat yang cukup monumental adalah memimpin penulisan Mushaf Alquran al-Bantani yang diluncurkan pada 2010.

 

Saat ini Tholabi aktif dalam jajaran Pengurus LPTQ Provinsi Banten dan menjadi Dewan Hakim pada perhelatan MTQ dan kompetisi lainnya, baik lokal, nasional, maupun regional/internasional, misalnya MTQ Nasional,  MTQ Nasional Perguruan Tinggi, MTQ Nasional KORPRI, Pospenas, sayembara kaligra; internasional, dan lain-lain.

 

“Saya ingin menunjukkan komitmen saya membantu mewujudkan LPTQ Banten, khususnya di bawah kepempinan Profesor Syibli, sebagai center of exellence atau LPTQ percontohan di Indonesia, yang tidak hanya menjadi penyelenggara MTQ tapi juga benar-benar memberdayakan dan mencerdaskan masyarakat”, harap Tholabi.*

 

 

You might also like