JANGAN LUPA INTROSPEKSI DIRI

Oleh H. Tubagus Rubal Faisal

Sekretaris Umum LPTQ Provinsi Banten

“Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, berarti ia termasuk orang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan kemarin maka ia termasuk rugi. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk amalannya ketimbang kemarin, berarti ia terlaknat.” (Alhadits).

 

Lewat hadits tersebut, Rasulullah Saw  berpesan kepada umatnya agar terus memperbaiki amal, meningkatkan iman dan amal salih. Pada saat sama, kita juga diingatkan agar  terus  meningkatkan pemahaman dan pengamalan Islam.

Dalam terminologi Islam, kita menyebut ini dengan istilah muhasabah. Sejumlah pakar motivasi mengingatkan, muhasabah diri hendaknya dilakukan setiap malam sebelum tidur. Ketika bermuhasabah, kata mereka, pikiran kita harus bisa menjawab beberapa persoalan berikut: Pertama, perbuatan baik apa yang telah aku lakukan? Kedua, perbuatan buruk apa yang telah aku lakukan? Ketiga, perbuatan apa yang perlu aku perbaiki? Keempat, apa yang aku kehendaki dalam hidup ini?

Empat pertanyaan tersebut sejalan dengan Firman Allah Swt dalam Surat Al Hasyr ayat 18. Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah  dan hendaklah setiap orang memperhatikan  apa yang telah diperbuatnya  untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Dalam  Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini disamakan dengan perkataan “haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu”. Introspeksilah  diri kalian sebelum nanti kalian dihisab di hari akhir.

Pesan-pesan yang tersirat  dalam ayat-ayat tersebut adalah, betapa terbatasnya  waktu yang dimiliki manusia.   Oleh sebab itu, setiap umat  harus memanfaatkan waktu yang terbatas tersebut  dengan baik dan benar. Bagaimana caranya? Tak lain,  dengan  beramal salih.

Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar, yang dimaksud hari esok dalam ayat tersebut adalah hari akhirat. Karena, hidup tidak berakhir hanya di dunia. Dunia hanyalah masa untuk menanam benih. Adapun hasilnya akan dipetik di hari akhirat.

Ibnul Qayyim mengungkapkan,  barangsiapa yang lupa kepada Tuhannya, Tuhan akan membuatnya lupa kepada dirinya, sehingga dia tidak mengenal lagi siapa sebenamya dirinya dan apa yang perlu untuk kebahagiaan dirinya. Bahkan dia pun akan dibuat lupa tentang apa jalan hidup yang akan ditempuhnya untuk kebahagiaan dirinya sendiri. Dia akan  hidup dalam kekosongan dan hampa, sama saja dengan binatang ternak yang di­halau-halau. Bahkan kadang-kadang binatang ternak itu lebih tahu apa yang baik untuk memelihara hidupnya dengan petunjuk naluri yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.”

Indah sekali nasihat  Ibnul Qayyim tersebut. Manusia modern, apapun agama dan profesinya,  wajib merenungkan nasihat ini. Nasihat ini  sangat relevan jika dikaitkan dengan kehidupan masyarakat modern.

Bayangkan, karena alasan kesibukan, manusia moderen nyaris tak pernah lagi memikirkan tentang lingkungannya, tentang keluarganya, bahkan juga tentang dirinya. Seluruh waktu, pikiran dan tenaga dicurahkan untuk mengejar dunia.  Kesibukan telah menggeser gaya hidup manusia modern keluar dari jalur ilahiah. Mereka lebih fokus mengejar materi, seraya pada saat sama melupakan asal-usul materi.

Saking sibuknya, manusia modern tak memiliki waktu barang sejenak untuk muhasabah diri. Padahal menurut Islam, muhasabah diri memiliki manfaat yang sangat besar dalam kehidupan dan penghidupan seorang muslim.  Muhasabah diri bisa diibaratkan seperti chas batre keimanan. Dengan muhasabah, kita akan melihat sejenak program kehidupan yang telah kita jalankan. Dengan muhasabah, kita akan melihat dengan jelas apakah  kita sudah optimal memanfaatkan nikmat dan karunia Allah, ataukah kita menyelewengkan nikmat dan karunia tersebut.

Dengan muhasabah, diharapkan kita akan semakin terdorong untuk menambal lubang-iman, mempertebal akidah, memperlembut hati, dan memperbaiki perilaku.  Dengan muhasabah, iman akan semakin kokoh, salat semakin khusuk dan amal ibadah semakin mendekati sempurna.

Jika rasa malu sudah mulai berkurang, amalan sunah semakin sering ditinggalkan, kewajiban semakin mudah dilupakan, janji semakin sering diingkari, itu pertanda kita harus  muhasabah diri.

Demikian pula dalam berumah tangga, muhasabah sangat diperlukan.  Ketika suami dan istri  sering saling menyalahkan, ketika antar saudara  saling mencurigai, ketika antar tetangga mudah terpancing keributan, segeralah muhasabah diri.

Dikisahkan, seorang lelaki bertanya kepada syeh: Wahai Syeh,  aku telah lama menikah  dan mempunyai dua anak. Akan tetapi, sejak beberapa tahun ini aku merasa tidak tertarik lagi  kepada isteriku.

Syeh bertanya, Apakah isterimu berubah jadi gemuk?

Lelaki menjawab: Tidak, tubuhnya masih sama seperti  dulu.

Syeh bertanya: Apakah tubuhnya menjadi cacat?

Lelaki menjawab: Tidak, dia sehat-sehat saja.

Syeh bertanya lagi: Apakah kamu tidak pernah menundukkan  pandanganmu kepada wanita-wanita  yang berjalan di hadapanmu?

Lelaki menjawab jujur: Ya. Bagaimana Syeh  tahu masalah itu?

Syeh berpesan: Bila kamu terlibat dengan perkara haram,  suka kepada yang haram, tidur, makan dan bernafas kepada perkara yang haram,  maka yang halal  akan menjadi jijik  bagimu.

Betapa penting introspeksi diri. Dengan introspeksi diri, kita bisa melihat kekurangan, kesalahan dan kemudian memperbaikinya.   Itu sebabnya  Umar bin al-Khaththab berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah SWT kelak. Bersiaplah menghadapi Hari Perhitungan yang amat dahsyat. Sesungguhnya hisab pada Hari Kiamat akan terasa ringan bagi orang yang selalu menghisab diri ketika di dunia.”*

 

 

You might also like