Jadi Pegawai Negeri Berkat Alquran

BERAGAM perjalanan dan latar belakang seseorang hingga menjadi qari. Namun biasanya  sebagian besar orang menjadi qari karena ada  warisan atau  keturunan kekek dan buyutnya, atau karena diawali dari jebolan pondok pesantren.

Namun hal berbeda dialami Sarip Hidayat, Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Pandeglang.

Sarip mulai kepincut dunia qari sejak ada keinginan kuat bisa mengaji dengan baik, yakni sejak  usia 13 tahun. Kala itu, ia baru duduk  di bangku MTs Kadulisung, Pandeglang.

“Jujur, awalnya saya tidak terbesit ingin menjadi qari. Namun waktu itu saya kepincut hanya gara-gara mendengarkan  suara emas sang qari ternama, yakni H. Nanang Qosim. Saya mendengar qari itu lewat  kaset. Akhirnya saya terdorong ingin bisa mengaji. Dari situlah, saya belajar cabang tilawah. Pertama kali ikut MTQ antar sekolah di Pandeglang. Alhamdulilah, saya meraih juara 1 qari antar sekolah tahun 1985,” ujar Sarip.

Pria asal Kampung Walangsanga, Kelurahan Dalam Balar, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang ini mengaku dari perjalanan itulah, dirinya mulai menggeluti  cabang tilawah.

Saking tertarik ingin mendalami tilawah, lulus MTs,  ia melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama (PGA). Karena masuk PGA di Serang, Sarip memutuskan untuk sekolah  sambil mondok di  Ponpes  Raudhatul Qoni’in di Cipare-Serang.

Dari ilmu yang didapat di Ponpes tersebut, Sarip pun sering mengikuti  MTQ tingkat kelurahan di Cipare sekitar  tahun 1987. Bahkan, dia pun ikut MTQ tingkat Kecamatan di Ibu Kota (Jakarta Barat), dan berhasil meraih juara ke-2.

Pada tahun yang sama (1987), ia mengikuti MTQ di Purwakarta Provinsi Jawa Barat, tingkat kabupaten dan meraih juara ke-1. Ia pun sempat ikut tampil di MTQ tingkat provinsi.

“Sebetulnya, saya ingin ikut MTQ tingkat nasional, ‎tapi karena terbentur kesibukan sekolah dan harus menyelesaikan praktik kerja lapangan, akhirnya saya pensiun dari qari. Selain itu, karena terbentur usia juga,” katanya.

‎Sekitar tahun 2000, Sarip kembali ke Pandeglang, dan masuk anggota Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Pandeglang.

Dari pengalaman menjadi qari, ia diangkat menjadi dewan hakim LPTQ sekitar tahun  2003 sampai sekarang.

“Ya, Alhamdulillah, sambil honor di Pemkab Pandeglang, akhirnya tahun 2007, saya diangkat menjadi ASN, dan sampai sekarang masih aktif di LPTQ Kabupaten Pandeglang. Saya tetap punya kewajiban untuk mengawal para qari di Pandeglang bersama teman-teman di LPTQ,” katanya.

Menurutnya, menjadi seorang qari banyak barokahnya. Termasuk dirinya sekarang menjadi pegawai karena barokah dari belajar Alquran. ‎

“Tidak ada istilah terlambat  bagi generasi muda untuk belajar Alquran. Kita harus yakin, bahwa dengan terus belajar mengaji, membaca Alquran, nisaya akan selalu mendapatkan keberkahan,” ujarnya. ***

 

 

 

 

 

 

 

You might also like