Integritas Wujud dari Ikhlas

H. Mahfudin,

ASN di Kanwil Kemenag Provinsi Banten

Ikhkas, itulah kata yang sering diucapkan, meski berasal dar bahasa Arab, namun merupakan kata yang lintas agama, lintas budaya, bahkan lintas sektoral. Seiring dengan banyaknya tuntutan dan perjuangan maka kata ikhlas menjadi sangat populer. Apalagi jika dikaitkan dengan ajaran Islam, Ikhlas menjadi salah satu surat dalam al-Qur’an (al-Ikhlas) yang memiliku substansi He is really the one.

 Only one dalam arti bahwa ikhlas merupakan pemurnian segala bentuk kegiatan kegiatan, aktivitas, kerja  apapun  yang kita lakukan hanya untuk Allah. Bukan untuk uang, pujian, jabatan apalagi kekuasaan. Dengan kata lain, kita dikatakan ikhlas apabila aktifitas itu  benar-benar murni hanya karena-Nya. Sesuatu yang abstrak, tidak mampu diditeksi dengan sikap atau gesture seseorang.

Orang yang berfoto dekat dengan kerbau atau sapi yang akan dijadikan kurban tidak bisa disebut tidak ikhlas, karena gesture tidak bisa menajdi ukuran orang ikhlas atau tidak. Begitu juga orang yang menerima imbalan karena mengajar atau berdakwah, tidak bisa kita beri label tidak tidak ikhlas, sama halnya jika orang berharap naik pangkat atau jabatan, tidak layak kita justifikasi bahwa ia tidak ikhlas dalam bekerja.

Karena ikhlas adalah urusan hati, maka untuk lebih memahaminya ada baiknya disebutkan beberapa kata yang sering diidentifikasi beberapa penyakit hati, misalnya: riya, iri, dengki. Takabbur, sombong, munafik dan seterusnya.

Sebasar apapun amal jika tidak berdasarkan keikhlasan maka tidak akan berarti dihapadadapan Allah, dan sekecil apapun perbuatan jika berdasarkan ikhlas karena Allah maka akan memiliki keberartian di hadapan Allah. Keberartian sebuah amal pada hakekatnya berefek kepada orang yang melakukannnya. Sombong misalnya,  amal hati yang akan nampak pada perilaku dan hubungan sosialnya, begitu juga dengan riya dan seterusnya.

Ikhlas seringkali diekspresikan dengan ungkapan “semata-mata karena Allah”, ungkapan ini, jika dilhat dari hubungan hamba dengan Tuhannya, memilik tiga makna, pertama shalih An-niyyat (niat yang benar karena Allah), kedua shalih Al kaifiyyat (sesuai tata caranya), dan ketiga shalih Al ghayat (tujuannya untuk mencari ridha Allah SWT.). Ikhlas dalam bekerja bukan berarti tidak membutuhkan uang dalam hidupnya.  Tetapi menomor satukan tujuan ibadah hanya untuk Dzat Pemberi Rizki Dzat dimana seluruh alam semseta dalam genggamanNya.  Dengan keikhlasannya dalam bekerja, Ridho Allah Swt akan dia dapatkan dan kebutuhan uang pun akan terpenuhi.

Berkaitan dengan integritas, dalam kehidupan sehari-hari, hanya ada dua pilihan; dipimpin atau memipin; yang dipimpin merupakan kemampuan untuk tetap setia terhadap orang yang memimpinnya, memiliki pribadi dengan kualitas yang baik, dan orang berkualitas, pribadi yang dapat belajar dari orang lain serta pribadi yang mampu memberikan pembelajaran/contoh kebaikan pada orang lain.

Merujuk pada pemikiran Henry Cloud yang menyatakan bahwa  integritas merupakan upaya seseorang untuk menjadi orang yang utuh walaupun di setiap bagian dirinya berbeda sebagai orang yang selalu bekerja dengan baik dan selalu menjalankan tugasnya sesuai dengan apa yang telah direncanakannya, dengan kata lain integritas sebagi suatu konsep yang memandang konsistensi dalam bentuk tindakan dan nilai atau prinsip. Dalam sudut pandang etika, integritas dikatakan sebagai kejujuran atau kebenaran dari setiap tindakan seseorang. Lawan kata dari integritas adalah hipocrisy (munafik).

Salah satu butir Peraturan Pemerintah nomor nomor 46 tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipi menyebutkan bahwa dalam melaksanakan tugasnya berperilaku jujur, bertanggungjawab, dan berintegritas tinggi. Perilaku pegawai dimaknai setiap tingkah laku, sikap atau tindakan yang dilakukan atau tidak melakukan sesuatu dengan ketentuan perundangan.

Jika ikhlas terletak di hati maka integritas adalah cerminannya berupa sikap nyata yang bisa diukur. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 1 Tahun 2013  menjelaskan bahwa integritas adalah “adakalanya dalam melaksanakan tugas bersikap jujur, ikhlas, dan tidak pernah menyalahgunakan wewenangnya serta berani menanggung risiko dari tindakan yang dilakukannya.

Penilaian sempurna dalam intgeritas yang disbeutkan secara kuntitatif yaitu ketika pekerjaan yang sudah dikontrakan dalam satu tahun kepadanya harus mencapai penyelesaian seratus persen dan tepat waktu sesuai dengan waktu yang telah disepakati di awal tahun anggaran.

Intergritas itu berhubungan dengan perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang. Integritas itu nyata dan terjangkau dan mencakup sifat yang bertanggung jawab, jujur, menepati kata-kata, dan setia. Jadi, integritas tidak pernah lepas dari kepribadian dan perilaku seseorang yang berhubungan dengan sifat yang dipercaya, komitmen, tanggung jawab, kejujuran, kebenaran, dan kesetiaan terhadap tugas dan tanggung jawab yang diembannya.

Integritas tentu mempunyai nilai. Nilai integritas sangat penting untuk diterapkan dalam sebuah instansi pemerintah. Integritas adalah saling percaya dan pada akhirnya sifat saling percaya ini berguna untuk mencapai tujuan organisasi. Jika nilai-nilai integritas tidak dijalankan, kerja sama tim yang dilakukan akan menjadi lebih sulit akibat tidak terbangunnya kepercayaan yang komprehensif di antara mereka. (Symsarul; 2018)

Jika keihklasan berupa keyakinan bahwa segala pekerjaannya hanya Allah, berupa amanat yang akan dipersembahkan dan dipertanggungjawabkan kepadaNya kelak dikemudian hari, maka keyakinan tersebut akan termanifestasikan dalam bentuk kerja yang serius, berdedikasi dan disiplin yang tinggi serta penguasaan terhadap tugas dan fungsinya.

Kerja keras harus dibarengi dengan kerja cerdas; kerja terus tanpa istirahat yang cukup tidak dibenarkan; bentuk nyata dari integritas adalah bekerja sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan yang didalamnya terdapat keseimbangan dan keraturan dalam hidup.

Sejalan dengan ungkapan yang disampaikan Mario teguh: “Menerima yang ada dengan baik, mengupayakan yang akan ada dengan lebih baik. Karena tidak mungkin orang mendapatkan kedamaian, ketenangan, kelurusan berfikir; untuk mengadakan yang semula belum ada, mewujudkan yang semua berupa impian, lantas menjadikannya yang lebih hebat tanpa menerima dengan ikhlas apa yang sudah terjadi, dan menjadikannya modal bagi perbaikan.”

 

You might also like