Indahnya Saling Mencintai

H. Tubagus Rubal Faisal
Sekretaris Umum LPTQ Provinsi Banten

Barangsiapa yang memulai pagi harinya dengan tidak berniat menganiaya seseorang, maka diampuni segala dosanya. Barangsiapa yang berpagi hari berniat menolong orang yang dianiaya dan melayani keperluan orang muslim, maka pahalanya seperti haji mabrur (Al Hadits).

IMAM Al Ghazali pernah ditanya seseorang, “Apakah yang telah Allah perbuat padamu?” Ulama sufi yang filosof itu menjawab, “Aku pernah mimpi bertemu dan berdialog dengan Allah. DIA (Allah) bertanya kepadaku, ‘amalan apa yang kau bawa pada-KU”?
Lalu, kata Al Ghazali, aku menceritakan panjang lebar seluruh perjuanganku selama mengibarkan bendera tauhid. Mendengar itu Allah berfirman, “Kami tidak menerimanya. Yang Kami terima darimu, ketika pada suatu hari ada seekor lalat hinggap pada wadah tintamu untuk meminumnya, padahal kamu sedang menulis. Lalu kamu menghentikan tulisanmu, hingga lalat itu selesai meminumnya. Kamu lakukan hal itu karena kasihan kepada lalat tersebut. Karena cinta kasihmu itu, kau akan KU masukkan ke dalam surga”.
Kisah sufi tersebut diceritakan Muhamad Nawawi Ibnu Umar Al Jawi dalam kitab “Nashaa-ihul Ibaad”.

*
Sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, Islam menawarkan cinta kasih yang paripurna dan sempurna. Cinta kasih juga menjadi tema sentral kitab-kitab suci, baik Alquran maupun kitab-kitab suci sebelumnya. Anjuran menebar cinta kasih menjadi selogan utama perjuangan para mujahid (pembela Islam) dan syuhada (orang yang mati demi Islam).
Itu sebabnya, Al ‘Allaamah As-Sayyid Ahmad Al Marshifiy Al Mishriy dalam setiap pertemuan dengan para santrinya selalu menasihati agar mereka senantiasa menyemai bibit kasih. Menurut ulama kesohor itu, cinta kasih yang dicanangkan akhlak Islam tertuju pada seluruh makhluk. Cinta kasih bukan hanya monopoli makhluk berakal, namun juga yang tidak berakal (seperti lalat).
Ahmad Al Marshifiy berkata,”Orang-orang yang penyayang, akan dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sayangilah mahkluk yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi yang ada di langit”.
Ulama sufi lainnya semisal Abul Qasim Al Junaidi bin Muhammad Al Kazzaz An Nahwandi menyatakan, Allah akan memberikan balasan kepada hamba-Nya di akhirat tentang segala yang pernah dikerjakan selama hidupnya. Allah telah menganugerahi manusia dengan piala kemuliaan, memerintah mereka dengan kasih sayang, dan mempersiapkan balasan keutamaan (pahala). Barangsiapa yang melaksanakan perintah Allah, akan mendapat janji-janji pahala-Nya. Dan barangsiapa yang telah memperoleh janji-janji-Nya, Allah akan menambahkan keutamaan pada mereka.
Menurut Abdul Qasim, ada empat perkara yang dapat mengangkat seseorang ke derajat yang tertinggi, meski amal ibadahnya tergolong sedikit. Ke empat perkara itu, penyantun, merendahkan diri, pemurah, dan budi pekerti yang baik.

**
Tema cinta kasih sengaja penulis angkat karena sangat relevan bila dikaitkan dengan kehidupan kontemporer di negeri ini. Serbuan globalisasi yang membawa kebebasan segala bidang, ternyata berdampak pada memudarnya rasa empati. Jangankan menyayangi makhluk tak berakal, sedang antar sesama manusia saja tumbuh keinginan untuk saling menguasai, saling membenci, bahkan saling menghabisi.
Ironisnya, agama seringkali diseret-seret untuk melegitimasi ambisi pribadi. Ayat-ayat suci yang penuh rahmah, dipelintir untuk mencaci, memfitnah, bahkan memusnahkan sesama. Namun Tuhan tak pernah bosan menurunkan rahmah-Nya. Sebab, dunia ini memang dijadikan sebagai ruang khusus untuk menyeleksi kualitas takwa hamba-hambaNya.
Ramadan merupakan momentum paling tepat untuk membangun empati yang nyaris mati. Lebih-lebih ibadah puasa tahun ini hadir ketika sebagian masyarakat masih diliputi rasa ketidakpastian. Setidaknya, berbagai masalah dan musibah yang datang bertubi-tubi telah menguras pikiran, tenaga, perasaan, waktu dan harta sebagian anak bangsa.
Di tengah kepanikan dan keputus-asaan sebagian masyarakat di Tanah Air, maka menghidupkan kembali api empati atau cinta kasih merupakan suatu keharusan. Sebab di balik kelembutannya, sesungguhnya hati manusia itu lebih keras dari batu. Kepekaan hati harus terus diasah, sehingga bisa menerima cahaya ilahiyah. Jika sudah membatu, hati manusia akan berkarat dan tak memberi ruang untuk tumbuhnya empati.
Padahal, cinta kasih yang diajarkan Islam itu sangat sempurna dan paripurna. Kenyataan itu antara lain tercermin dari Firman Allah Surat At-Taubah ayat 7.
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah, supaya ia sempat mendengar firman Allah. Kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”.
Dalam mengarungi lautan kehidupan ini kita hanya diberi dua pilihan, menanam pohon kasih atau menyemai bibit angkara murka. Kita bebas memilih salah satu dari ke duanya. Namun demikian, Rosulullah Saw telah memberi jalan: “Tiada sempurna iman seseorang di antara kamu, hingga mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri”. (Hadits Nukhori-Miuslim).***

You might also like