IJTIHAD KEBANGSAAN ITU BERNAMA A NEW NORMAL

Oleh Hadi Susiono

 Alumnus Ponpes Al-Khoirot- Sabilillah, MA-Nahdlatul Muslimin Kudus- Malang 

serta Universitas Diponegoro

 

Hampir memasuki 6 bulan pasca pandemi Covid-19 diumumkan oleh Badan Kesehatan Dunia  WHO, masyarakat global bagaikan di penjara dalam rumah mereka sendiri. Tidak bebas berinteraksi sosial, budaya, keagamaan, serta kegiatan lainnya. Kini, terjadi gelombang pendekatan baru dalam menyikapi Covid-19 termasuk di Indonesia, a new normal—sebuah kenormalan baru.

Sebuah kenormalan baru, dimaksudkan sebagai fase yang dipersiapkan untuk menghadapi sebuah kenormalan sesungguhnya. Mengapa demikian? Dunia saat ini masih menghadapi ketidaknormalan global karena wabah corona. Para Ilmuwan dunia masih terus memeras kemampuan otak brilian mereka untuk menemukan vaksin corona. Tercatat, seperti dilansir Harian The New York Times (22/5/2020), sebuah vaksin yang dikembangkan di Cina tampaknya selangkah lagi akan berhasil setelah diujicobakan pada 108 relawan berusia 18-60 tahun. Mereka diberikan satu dosis vaksin berisikan sel kekebalan, yang disebut sel T, dalam kurun 2 minggu. Hasilnya, kekebalan mereka naik hingga 28 hari pasca inokulasi tersebut.

Namun, ini masih merupakan data yang bersifat dini, meskipun sangat menjanjikan ujar Dr. Dan Barouch, Direktur Penelitian Vaksin di Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston. Pernyataan Dr. Barouch juga diamini sejawatnya, Dr. Peter Hotez, Dekan pada National School of Tropical Medicine at Baylor College of Medicine. Demikian juga pernyataan dari Dr. Kirsten Lyke, Vaksinolog dari Universitas Maryland, yang menyatakan bahwa vaksin di Cina itu hanya cocok untuk pasien berusia lebih muda dan anak-anak daripada mereka dengan usia 18-60 tahun. Tampaknya belum ada kata sepakat untuk memproduksi vaksin corona secara masif. Ini artinya, masyarakat dunia masih terus dihantui wabah Covid-19.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kondisi di tengah wabah seperti sekarang, ibarat buah simalakama. Para pemimpin dihadapkan pada minimal 2 hal yang sangat sulit dan harus menemukan breakthrough, sebuah terobosan. Di satu sisi, penyebaran Covid-19 masih tinggi yaitu, 23.165 orang terkonfirmasi positif  Covid-19, dengan detail 15.870 di rawat di Rumah Sakit, 1.418 meninggal dunia, serta sembuh 5,877 orang (Kompas, 26/5/2020). Di sisi lain, roda perekonomian harus terus berjalan. Layanan pemerintahan, perusahaan, mall, pasar, restoran, dan lainnya harus tetap menggeliat di tengah wabah. Jika berhenti, dikhawatirkan perekonomian juga akan mandeg dan berdampak lebih masif terhadap masyarat luas, bahkan lebih buruk dari virus corona itu sendiri. Dalam kaidah Usul Fikih berlaku “Idzaa ta’aaradho mafsadataani ruu’iya ‘a dhoomuhaa birtikaabi ‘a khofihimaa”/Apabila ada dua mafsadat (kerusakan) bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.

Pemerintah mengambil langkah cerdas, terukur, dan realistis menghadapi persoalan bangsa saat ini. Pendekatan baru, sebuah kenormalan baru dipilih. Di tengah wabah, roda perokonomian harus juga digerakkan. Langkah pemerintahan Jokowi ke depan adalah, menerapkan kenormalan baru dengan mengerahkan ratusan ribu personil TNI Polri untuk mendisiplinkan masyarakat di 4 Provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat (Bekasi), Sumatera Barat, dan Gorontalo serta 25 kabupaten kota, sebagai langkah awal dan pilot project dengan 1.800 obyek, baik di tempat lalu lintas masyarakat, pusat perbelanjaan, pasar tradisional, ataupun tempat pariwisata.

Nantinya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini akan diperketat lagi dengan kehadiran secara fisik personil TNI Polri di tempat-tempat yang telah ditentukan. Mereka akan mengingatkan, dan mendampingi masyarakat agar selalu tertib dalam menggunakan masker, menjaga jarak aman, selalu mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer baik di moda transportasi umum, di pusat perbelanjaan, ataupun di pusat keramaian lainnya. Pembatasan jumlah pengunjung mall juga akan diberlakukan, begitu juga dengan jumlah penumpang transportasi umum.

A new normal, sebuah kenormalan baru adalah ikhtiar pemerintah dan juga merupakan ijtihad dalam berbangsa demi mengatur masyarakatnya di tengah wabah corona yang tampaknya belum mau berakhir. Indonesia bukanlah terserah, tetapi Indonesia adalah kekuatan besar yang akan dapat melewati balada corona dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ada, dan bersatu padu sebagai anak bangsa yang terlahir dari bumi pertiwi yang sama, karena ini adalah persoalan nyawa, maka akan selalu berlaku safety first.

Semoga!

Wallahu ‘Alamu Bishawaab.

 

 

 

 

 

 

 

You might also like