IBARAT SENDOK, CANGKIR DAN ALASNYA

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Kota Tangerang Selatan

 

Sebagian kaum Adam mempunyai kebiasaan yang tidak dijumpai di kalangan kaum hawa. Ada yang mempunyai kebiasaan meminum kopi dengan cara bersama sama, bersama teman temannya, bersama keluarganya, bersama istri tercinta nya, dan ada kalanya dia hanya menikmati hangatnya segelas atau secangkir kopinya.

 

Demikian juga dengan pak ustadz Dzul Birri, beliau juga tergolong dari sekian banyak kelompok kaum Adam yang suka menyeruput secangkir kopi. Seperti yang diceritakan oleh kang Pardo,kang Kurdi dan kang Saman klo sedang silaturahim di majlis nya beliau selalu dihidangkan kopi panas. Kadang kopi yang diseduh dengan menggunakan teko besar supaya bisa nambah. begitu kata kata pak ustadz yang ditirukan oleh kang Saman.

 

“Ada pelajaran yang bisa kita ambil pada saat istri hendak menghidangkan secangkir kopi untuk kita para suami. Saat itu jam 16.30, jadual rutin istri tercinta menyiapkan sajian kopi. Saya mencoba memperhatikan tangan terampil istri tercinta dari mulai merebus air, menuangkan air panas ke dalam cangkir yang di dalamnya tersedia gula dan kopi. Teko air alat merebus air walaupun bentuknya lebih besar dari pada cangkir, alas cangkir dan sendok, akan tetapi teko air rela membungkuk, menghampiri cangkir cangkir kemudian membagikan air. Teko air menyadari status dan peran dirinya. Bahkan teko air siap bagian bawahnya harus diberangus api pada saat air direbus sampai mendidih.

 

Demikian juga dengan sendok kopi, bentuk nya memang kecil, ukurannya lebih mungil dibandingkan dengan sendok makan, bahkan lebih mungil bentuknya dari pada sendok obat. Peran sendok meskipun kecil, tetapi sangat berjasa dalam mengaduk mempersatukan gula dan kopi, sehingga dengan gerakan sendok yang mungil rasa gula dan kopi menyatu. Subhanallah….. alhamdulillah….. nikmat nya secangkir kopi adukan istri tercinta.

 

Alas cangkir jenisnya piring kecil, sepintas mungkin tidak dibutuhkan sebab orang dapat menyeruput kopi kapan saja tanpa harus memakai alas cangkirnya. Akan tetapi bila dihayati, tidak ada sesuatu yang sia sia, pasti ada kegunaannya, demikian juga dengan kegunaan alas cangkir untuk menahan rasa panas, sehingga terlihat sangat menarik dan orang yang menikmati minuman kopi terlindungi dari sengatan panasnya kopi.

 

Demikian juga dengan seluruh elemen masyarakat memahami fungsi dan peran nya, yang bukan presiden bekerja sebagai kepala negara, memikirkan urusan urusan nasional yang ditindak lanjuti oleh para menteri nya. Sebagai wakil rakyat anggota dewan memikirkan bagaimana cara nya menyelamatkan masyarakat dan rakyat dari panasnya kehidupan, pernak pernik persoalan masyarakat harus mampu ditepis oleh para wakil rakyat.

 

Sebagai orang kecil seyogyanya ikut serta memutar pikiran, bergerak untuk melahirkan lezatnya kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga menghasilkan rasa lezat dan nikmat, menebar aroma sedap sehingga orang orang dapat menghirup aroma yang sedap. Itulah gambaran pak ustadz Dzul Birri kepada jama’ah malam Jum’at Kliwonannya. Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.*

 

You might also like