Hj. Yeni Solihah Ahmad: Kaligrafer Nasional Urang Pandeglang

MUNGKIN  tidak banyak orang tahu kalau di sudut wilayah Pandeglang, tepatnya kampung Nembol, Mandalawangi, ada sosok kaligrafer wanita (khaththathah) yang bertaraf nasional. Yeni Solihah namanya.

 

Putri dari Haji Ahmad Safawi dan Hj Upen Hanifah ini dibesarkan dalam tradisi pesantren. Selepas merampungkan studi di MTs Negeri Kadulisung Pandegelang, Yeni memantapkan hati untuk studi di Pesantren Modern Al-Mizan, Rangkasbitung, yang waktu itu masih dalam rintisan.

 

Yeni terdaftar sebagai angkatan pertama Pesantren Al-Mizan yang diasuh oleh Drs. K.H. Anang Azhari Alie, M.Pd.

 

Di pesantren modern inilah Yeni mulai dikenalkan dengan al-khath al-‘arabi atau al-khath al-qur’ani yang lazim kita sebut sebagai seni kaligrafi Alquran.

 

“Al-Mizan adalah pesantren modern ala Gontor yang salah satu tradisinya mengajarkan tahsin al-kitabah atau tahsin al-khath melengkapi aneka pelajaran bahasa Arab. Saya mulai menyukai kaligrafi sejak di Pesantren ini,’ kenang Yeni.

 

Minat dan bakat berkaligrafi semakin terasah, ketika Yeni melanjutkan studi pada Jurusan Sastra Arab Program Khusus, Fakultas Adab, IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1996-2001).

 

Di samping menjadi salah satu mata kuliah pada Jurusan ini, yeni juga mendalami kaligrafi dengan bergabung di Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka), salah satu eksponen kegiatan mahasiswa IAIN Jakarta.

 

Bakatnya pun semakin terasah dan kian moncer di bawah asuhan guru-guru kaligrafi ternama di Lemka Jakarta, antara lain: D Sirojuddin AR, Momon AR Syarif, Munir, Isep Misbah, Ahmad Tholabi Kharlie, Uci Rohimah, Ery Khoiriyah, dan lain-lain.

 

Berbagai kompetisi dan dalam ragam tingkatan pun tak luput diikuti Yeni.

 

“Atmosfer kompetisi di Jakarta memang mendorong saya untuk terus meningkatkan kualitas tulisan saya, sampai akhirnya saya meraih prestasi yang saya impikan,” cerita Yeni.

 

Ikhtiar Yeni, Ibu yang kini beranak empat ini, tak pelak berbuah manis. Sejumlah penghargaan dan tropi kejuaraan satu demi satu direngkuhnya. Mulai dari level Kecamatan hingga Nasional.

 

Pada MTQ Nasional 2000 di Palu, Sulawesi Tengah, Yeni berhasil menduduki runner-up Cabang Hiasan Mushaf.

 

Prestasi yang sama juga diraihnya pada MTQ Nasional di Kendari tahun 2006  di cabang yang sama.

 

Atas prestasinya itu, Yeni mendapatkan banyak penghargaan, termasuk mendapatkan ongkos naik haji (ONH) pada tahun 2001.

 

Demikian pula Yeni direkrut sebagai salah satu tim penulis Mushaf Al-Bantani yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Banten pada tahun 2010 yang hingga kini menjadi Mushaf kebanggaan warga Muslim Banten dan telah dicetak ratusan ribu eksemplar.

 

Obsesi Yeni memang sederhana. “Saya bangga menjadi urang Pandeglang. Dan saya hanya ingin menunjukkan bahwa siapapun bisa mengukir prestasi yang membanggakan pada level Nasional, bahkan Intenasional. Termasuk saya yang tinggal di kampung. Saya ingin menggugah gerasi muda Banten, khususnya Pandeglang untuk bekerja keras menempa diri dalam rangka mengukir prestasi dan melukis sejarah hidup,” ujar yeni dengan semangat. (Syair)***

 

You might also like