HIDUP MATI TETAP MENGHADAP KIBLAT

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengasuh Ponpes Sabiluna Kota Tangsel

Ketika seseorang anak muslim baru dilahirkan, di telinga kanannya diperdengarkan suara adzan dan di telinga kiri diperdengarkan suara iqomah. Itu sebagai upaya orang tua memperkenalkan nilai-nilai ajaran agama Islam.

Sebagai orang tua akan terus menerus memperdengarkan suara suara yang memberikan ketenangan jiwa dan batin anak anak yang masih dalam usia dini dengan alunan bacaan ayat ayat suci Al-Quran.

Dalam memasuki usia baligh anak anak diperkenalkan dengan praktek shalat dan ditekankan untuk mampu menjaga shalat yang lima waktu. Pada saat mereka belajar shalat, tentu saja shalat akan selalu menghadap ke arah kiblat walau dalam suasana belajar. Kiblat merupakan puncak arah umat dalam berkomunikasi dengan Allah sebagai Dzat yang disembah. Kesungguhan dalam kecintaan, pengabdian, ketundukkan serta ketaatan akan dijaga sampai akhir hayat sebagai seorang muslim atau muslimah. Kiblat adalah simbol arah penghambatan seorang hamba kepada Allah.

Jujur saya merasa kurang nyaman dan terganggu ketenangan batin terkait dengan pemulasaraan jenazah Covid. Kian hari perasaan batin tidak nyaman semakin menghebat. Ditambah dengan informasi yang menjamur di tengah masyarakat tentang kurangnya diperhatikan tatacara pemulasaraan jenazah Covid yang belum sesuai dengan syariat Islam. Seperti cara memandikan, caranya mengkafaninya, terbatasnya jumlah yang berkenaan menshalatkannya, dan yang terakhir cara mengkebumikannya.

Selama ini dan seingat saya, belum ada dari kalangan pemerhati sosial, penggiat pendidikan atau tokoh agama dan masyarakat yang memberikan masukan tentang tatacara penguburan jenazah Covid yang muslim. Sekedar mengingatkan dan memberikan masukan bahwa setiap jenazah muslim atau muslimah ketika dikebumikan WAJIB dihadapkan ke arah kiblat. Bahkan ketika sudah terlanjur dimakamkan wajib digali kembali untuk dihadapkan ke arah kiblat bilamana terjadi kesalahan sebelumnya.

Sebagai seorang muslim, mengamati peristiwa kematian di musim wabah Pandemi Corona atau delta begitu sangat tidak terkendali, namun demikian tatacara pemulasaraan jenazah Covid tetap memperhatikan tuntutan syari’at Islam yang menjadi keyakinan nya. Walaupun dimakamkan dengan menggunakan PETI, seyogyanya petinya didesain untuk jenazah Covid muslim dan muslimah, misalnya saja di dalamnya diberikan penyanggah, sehingga jenazah bisa diposisikan miring dan tetap akan menghadap ke arah KIBLAT. Prokes tetap dijalankan syari’at Islam dapat diamalkan. Demikian pandangan pak ustadz Dzul Birri dalam pengajian malam Jum’at Kliwonannya.

Ada ulama setiap malam berlinangan air mata nya, mengadukan nasib bangsanya tidak terdengar suara rintihannya, tidak terlihat gerak lisan dan bibirnya, tapi beliau memintakan keberkahan, keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Ulama itu tidak selalu harus muncul gambarnya, yang dirindukan dan dirasakan oleh umat adalah kiprah dan pengabdiannya. Kadang hanya masyhuur fissamaa.***

You might also like