HATI DAN MCB LISTRIK

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Kota Tangsel

Layaknya kehidupan, semua orang berharap memiliki tempat tinggal yang disebut “RUMAH”, tidak melihat type dan ukuran besar dan kecilnya, luas dan sempitnya, di kampung atau di kompleks perumahan, yang penting mempunyai tempat berteduh sebagai tempat berlindung dari sengatan cahaya matahari, dari hembusan angin atau guyuran hujan.

Setiap rumah, dalam semua type dan ukuran memiliki ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, ruang masak atau dapur. Bagi rumah yang berukuran besar, biasanya ada ruang shalat, gudang dan taman.

Semua kamar, ruangan dan taman sudah dipasang instalasi listrik nya. Semua jalur kabel terpasang dengan apik, tidak terlihat malang melintang jalur kabelnya. Berbeda dengan jalur kabel yang semrawut di jalan jalan di sekitar bunderan Pamulang, di pertigaan Kompas Kecamatan Ciputat Timur.

Tetapi, sepertinya pihak yang terkait tidak lagi merasa perlu untuk merapikan, tidak memiliki rasa bahwa kabel kabel jaringannya akan membahayakan orang lain.

MCB adalah singkatan dari Miniature Circuit Breaker yang fungsinya mengatur arus listrik atau dengan kata lain disebutnya sebagai “Pemutus Sirkuit”.

Manakala “NGEJEGLEK” turun keadaan MCB nya, maka putuslah seluruh aliran listrik yang di rumah itu, baik lampu yang menerangi sekitar taman, di ruang tamu, di kamar mandi, di kamar tidur dan sebagainya.

 

Demikian juga dengan “HATI” manusia, ketika posisi nya sedang “NGEJEGLEK” turun, maka biasanya aktivitas seluruh amal sholeh seseorang akan turun juga.

Maka pada saat itu manusia menjadi gelap mata akibat dari gelapnya “HATI”, sehingga seharusnya “MENYAYANGI” sesama malah “Membenci” sesama, yang semestinya menebar “HAQ” malah memilih menebar “HOAX”.

Bagaimana keadaan posisi MCB hati kita dalam menjalani kehidupan sehari hari ini, normal atau sedang “NGEJEGLEK?”

Masih ingat ada ungkapan kalimat doa yang sangat indah, Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika wa ‘alaa thaa’atika” Yaa Allah. Dzat yang maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah, teguhkanlah hatiku di jalan agama Mu”.

Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.***

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Kota Tangsel

 

 

Layaknya kehidupan, semua orang berharap memiliki tempat tinggal yang disebut “RUMAH”, tidak melihat type dan ukuran besar dan kecilnya, luas dan sempitnya, di kampung atau di kompleks perumahan, yang penting mempunyai tempat berteduh sebagai tempat berlindung dari sengatan cahaya matahari, dari hembusan angin atau guyuran hujan.

Setiap rumah, dalam semua type dan ukuran memiliki ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, ruang masak atau dapur. Bagi rumah yang berukuran besar, biasanya ada ruang shalat, gudang dan taman.

Semua kamar, ruangan dan taman sudah dipasang instalasi listrik nya. Semua jalur kabel terpasang dengan apik, tidak terlihat malang melintang jalur kabelnya. Berbeda dengan jalur kabel yang semrawut di jalan jalan di sekitar bunderan Pamulang, di pertigaan Kompas Kecamatan Ciputat Timur.

Tetapi, sepertinya pihak yang terkait tidak lagi merasa perlu untuk merapikan, tidak memiliki rasa bahwa kabel kabel jaringannya akan membahayakan orang lain.

MCB adalah singkatan dari Miniature Circuit Breaker yang fungsinya mengatur arus listrik atau dengan kata lain disebutnya sebagai “Pemutus Sirkuit”.

Manakala “NGEJEGLEK” turun keadaan MCB nya, maka putuslah seluruh aliran listrik yang di rumah itu, baik lampu yang menerangi sekitar taman, di ruang tamu, di kamar mandi, di kamar tidur dan sebagainya.

 

Demikian juga dengan “HATI” manusia, ketika posisi nya sedang “NGEJEGLEK” turun, maka biasanya aktivitas seluruh amal sholeh seseorang akan turun juga.

Maka pada saat itu manusia menjadi gelap mata akibat dari gelapnya “HATI”, sehingga seharusnya “MENYAYANGI” sesama malah “Membenci” sesama, yang semestinya menebar “HAQ” malah memilih menebar “HOAX”.

Bagaimana keadaan posisi MCB hati kita dalam menjalani kehidupan sehari hari ini, normal atau sedang “NGEJEGLEK?”

Masih ingat ada ungkapan kalimat doa yang sangat indah, Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika wa ‘alaa thaa’atika” Yaa Allah. Dzat yang maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah, teguhkanlah hatiku di jalan agama Mu”.

Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.***

You might also like