HARI IBU: TIDAK SEMPURNAMU KESEMPURNAAN

Oleh Eli Halimah

Kepala MA Al Khairiyah Tegalbuntu, Ciwandan, Kota Cilegon

Bunda! Mungkin kita sering membaca kisah tentang wanita hebat. Presiden wanita yang sangat kuat dan digjaya. Seorang Diva yang dipuja oleh jutaan orang. Atau seorang pengusaha wanita dengan omset ratusan juta rupiah per hari.

Lalu Bunda membandingkannya dengan diri sendiri. Apa yang sudah aku capai? Lantas Bunda menjadi sedih karena mendapati bahwa tidak ada pencapaian istimewa yang bisa Bunda banggakan.

Tahukah Bunda, bahwa tidak semua wanita dilahirkan untuk menjadi hebat dan istimewa. Setiap wanita memiliki takdirnya masing-masing. Catatan yang telah dibuat sangat serius oleh Allah SWT.

Bunda, saya, dan kita semua tidak boleh menyangsikannya. Skenario Allah adalah yang terbaik. Kita sebagai pemain, cukup menjalani peran kita dengan penuh penjiwaan.

Jika kita umpamakan demikian, sebagai pemain professional, Bunda memiliki kesempatan berimprovisasi. Seorang sutradara, tidak akan bertindak diktator dengan mengharuskan pemainnya beradegan persis sesuai skrip yang dia buat. Jika pemain memiliki kemampuan memodivikasi adegan dan skrip, yang berpeluang pada peningkatan kualitas drama, why not?

Seperti itu pulalah Bunda dalam posisi sebagai ibu. Takdir yang kita terima adalah skrip yang akan kita lakonkan. Selanjutnya keahlian dan kemampuan kita bermanuver dengan takdir itu menjadi ranah hak kita.

Dalam menjalankan perannya, seorang pemaain harus beakting penuh totalitas. Maka, Bunda, peran apa pun yang telah diberikan oleh Allah, harus kita lakoni dengan penuh tanggung jawab.

Tidak mengapa jika Bunda tidak dikenal di seantero jagat raya, asal Bunda dikenal baik, perhatian, dan senantiasa dekat dengan anak-anak dan suami, itu sudahlah cukup. Tidak mengapa jika Bunda tidak bisa memasak seperti layaknya chef di restoran ternama, yang terpenting anak-anak dan suami merasa puas dengan hasil masakan Bunda.

Tidak mengapa suara Bunda tidak semerdu Rosa, yang jelas, anak-anak dan suami merasa betah dan nyaman dengan sedikit ‘teriakan’ Bunda di pagi hari. Tidak mengapa jika Bunda tidak memiliki karir secemerlang Oki Setiana Dewi, yang jauh lebih membahagiakan adalah anak-anak selalu akrab, nyaman, dan menerima Bunda apa adanya.

Jadi, tidak perlu ingin menjadi wanita lain. Menjadi ibu biasa dengan kemampuan memasak biasa, suara yang biasa, karir yang biasa, adalah sebuah peluang untuk menjadi luar biasa.

Ketidaksempurnaan Bunda, memberikan peluang bagi Bunda untuk terus berfikir memperbaiki diri, meningkatkan kemampuan dalam menjalani peran sebagai ibu dan istri yang baik.

Ketidaksempurnaan biasanya membuat Bunda menjadi kritis, kreatif, dan solutif. Sedikit masalah saat mencoba menjadi lebih baik, tidaklah masalah. Bunda harus tetap meningkatkan kualitas dan kemampuan diri dalam hal apa pun.

Berimrovisasilah! Bermanuverlah! Tetapi tetap dalam Batasan dan koridor yang telah ditetapkan Allah. Sungguh Allah tidak membatasi peran Bunda sebagai ibu bagi anak-anak. Ibu adalah perancang peradaban manusia. Ibu adalah pendidik dan Ibu adalah tiang agama.

Jadi, banggalah dengan menjadi ibu bagi anak-anak Bunda di rumah. Kebanggan dan penerimaan Bunda terhadap diri sendiri, akan membuat bangga anak-anak pada Bunda.

You might also like