HAKIKAT PENGAKUAN TAUHID

Oleh Nasuha Abu Bakar, MA

Pengasuh Pesantren Sabiluna. Pengurus LPTQ Kota Tangsel.

MENURUT  Pak Ustadz Dzul Birri, ilmu yang sepatutnya mendapatkan perhatian utama oleh manusia pada umumnya adalah ilmu tentang ketuhanan, dalam kajian sendi-sendi agama dikenal dengan ilmu Kalam, ada juga yang menyebutnya dengan istilah kajian tauhid.

Kajian tauhid merupakan suatu pembahasan yang berupaya mendekatkan kefahaman umat manusia agar dapat mengenali eksistensi dirinya selaku hamba supaya dapat menghasilkan kesadaran penuh dengan ketulusan dalam pengakuannya terhadap Allah sebagai penguasa alam jagat raya.

Secara harfiah, makna tauhid adalah meng-Esa-kan, menunggalkan. Maksudnya meng-Esa-kan keberadaan, kedudukan Allah sebagai Dzat yang diyakini tanpa keraguan sedikitpun sebagai Tuhan yang Menciptakan,  yang Menguasai, Yang Memelihara dan yang Maha segala galanya.  Meng-Esa-kan Allah maksudnya baik ucapan, sikap dan perilaku dengan kesadaran penuh selalu berusaha meng-Istimewa-kan Allah di atas segala galanya.

Pak Ustadz Dzul Birri pernah berseloroh dibarengi dengan canda, mungkin maksudnya supaya tidak terlihat mengingatkan orang yang dihormati di tengah-tengah masyarakat seperti pejabat, tokoh masyarakat, bahkan kata beliau seorang yang mengerti dan faham agama. Beliau memberikan contoh pada saat beliau diundang maulid nabi.

“Sahabat saya mengangkat handphonenya dan meninggalkan majelis maulid sesaat, kemudian menerima panggilan entah dari siapa. Padahal saat HP nya bordering, Qari dalam acara maulid sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Tidak lama kemudian, dia kembali dan duduk di sebelah saya.

Ternyata ketika berlangsung pembacaan kitab maulid, dan saat mahallul Qiyaam, sedang berlangsung pujian pujian kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, ternyata sahabat saya keluar lagi untuk yang kedua kalinya karena suara deringan handphonenya terasa mengganggu orang sekitar, kemudian berdering lagi entah yang keberapa kalinya. Dia lebih memilih berkomunikasi dengan penelepon, entah siapa.” cerita Pak Ustadz.

Kemudian Pak Ustadz Dzul Birri melanjutkan ceritanya:

Setelah selesai majlis maulid saya bersama sesepuh warga lingkungan setempat diajak oleh panitia untuk makan bersama. Saya, sahabat yang tadi sibuk menerima panggilan handphone makan bareng bareng bersama dengan jama’ah lainnya. Iseng iseng saya coba tanya, siapa sebenarnya yang nelepon saat berjalannya acara. Sebegitu berharganya orang yang menelepon bagi sahabat saya, sampai dia bisa meninggalkan majlis maulid yang sedang dikumandangkan ayat ayat suci Al-Qur’an. Dan sebegitu dahsyat daya magnet kekuatan panggilannya, sehingga sahabat saya rela meninggalkan majlis maulid yang sedang berlangsung memuji nama manusia yang dipuji puji namanya oleh Allah. Kok bisa dan sanggup menjauhi sebaik baiknya manusia pilihan, dia meninggalkan taman syurga yang sedang ditempatinya.

“Itu tadi yang nelpon teman bisnis saya di luar kota. Dia minta saya supaya bisa meluangkan waktu untuk meninjau dan survey lokasi yang sudah diagendakan,” cerita sahabat saya.

“Astaghfirullah….

Innaka lillaahi wa innaa ilaihi Raji’uun..

Ternyata kajian ilmu tauhid baru sampe tingkat kajian saja, baru sampai pada tingkat membaca kitab kitab tauhidnya saja, tauhidnya belum merasuk dalam jiwa, sehingga Allah dan Rasulullah sering tersisih oleh bisikan nafsunya. Padahal semua nya yang mengatur Allah, dan yang besar cintanya kepada kita adalah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Sebaiknya klo ada yang nelepon, yaa nanti saja setelah selesai, apalagi sekedar sesama manusia. Kalaupun seandainya malaikat yang menelepon, kemuliaan malaikat tidak mampu mengungguli kemuliaan baginda nabi.

Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.***

You might also like