DUKANYA NUSANTARA

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Kota Tangsel

Dampak bahayanya pandemi Covid 19 kian hari kian menyulitkan pemerintah sebagai pemangku amanah konstitusi. Berbagai macam langkah sebagai upaya dan ikhtiar pemerintah untuk melakukan pencegahan, atau sebagai solusi untuk memperkecil efek buruk dan bahayanya akibat menular nya virus Corona.

Sebenarnya bermacam macam usaha dan solusi sudah diupayakan semaksimal mungkin, akan tetapi memang belum memperoleh jalan yang tepat sehingga seiring dengan berjalannya waktu sudah banyak warga masyarakat wafat akibat Covid 19.

 

Ujian dahsyatnya Covid 19 belum juga reda bahkan belakangan semakin merajalela,. Dulu istilah yang digunakan Cluster Pasar, Cluster Kantor dan sekarang disebut cluster yang lebih kecil yaitu cluster rumah. Penularannya bahkan bisa cepat karena walaupun orang tua yang sudah lanjut usia tidak kemana mana, akan tetapi anak anaknya setiap hari berangkat ke kantor untuk bekerja. Dan di kantor sering berinteraksi dengan sesama nya. Sehingga penularan virus Corona sulit dihindari. Pada saat anak anak mereka kembali ke rumah dan berkumpul bersama kedua orang tuanya bisa saja menularkan virus Corona. Dan kejadian seperti ini sudah banyak cerita nya.

 

Dulu, nabi pernah kehilangan dua sosok manusia yang sangat berjasa dalam proses perjuangan dakwah beliau, keduanya adalah Siti Khadijah Istri tercinta beliau, sedangkan yang kedua paman beliau yang bernama Abu Thalib. Maka tahun itu dinamakan “Amul Kguzni” tahun dukacita yang sangat mendalam.

 

Di penghujung tahun 2020 upaya pemerintah dalam upaya pencegahan penularan wabah virus Corona yang semakin sulit dengan mendatangkan vaksin Senovac dari China yang sudah mengantongi label halal dari MUI. Akan tetapi memang sepertinya Allah benar-benar sedang menguji tanah Nusantara. Walaupun upaya medis sudah sangat maksimal, akan tetapi yang meninggal dengan label Covid terus menerus tanpa batas. Tokoh tokoh nasional, para guru dan Ulama pun tanpa kecuali.

 

Musibah pesawat terbang Sriwijaya di perairan kepulauan seribu dan seluruh penumpangnya menjadi korban, longsor di Majalengka, disusul gempa yang mengguncang dan menghancurkan Kantor gubernur serta tempat tinggal masyarakat, banjir di Kalimantan telah menambah duka Nusantara. Dan duka yang paling berat dirasakan ketika berita wafatnya para ulama seperti Syeikh Ali Jaber.

Belum juga kering air mata ibu Pertiwi, selisih satu hari disusul dengan wafatnya Al habib Ali bin Abd.Rahman bin Abd.Qodir Assegaf. Semoga saja, air mata duka ibu Pertiwi kelak akan digantikan dengan air mata bahagia dengan munculnya pengganti kedua ulama yang dicintai oleh masyarakat Nusantara. Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.

(Sabiluna, Jum’at 15 Januari 2021 jam 18.08)

You might also like