Biaya Kuliah Dari Syarhil Quran

Berprofesi sebagai seorang guru di SMP Pariskian, Kota Serang adalah aktivitas yang ditekuninya sehari-hari. Guru memang menjadi pilihannya selepas lulus dari UIN SMH Banten. Meski bukan tujuan akhir, baginya profesi ini sudah cukup membanggakan, karena untuk sampai menjadi guru, ia harus melewati masa kuliah yang biayanya didapatkan dari menjadi juara lomba syarhil qur’an dan qori.

“Akhir tergantung mula”, merupakan istilah yang begitu akrab terdengar ditelinga, hukum ini berlaku juga bagi pria kelahiran Lebak 23 April 1991 ini. Prestasi yang diraihnya menjadi juara lomba syarhil qur’an dan qori tidak didapatkan dengan instan, butuh ketekunan dan keseriusan.

Pertama kali, keseriusannya mendalami ilmu Alquran dimulai dari mempelajari qori, pelajaran ini dipapatkan dari kedua orang, Salam (60) dan Mimin Mutmainah (55). Ya, kedua orang tuanya memang qori dan qoriah yang terbilang cukup baik. Cara yang dilakukan orang tuanya untuk memperkenal qori, yaitu melalui kaset berisi rekaman lantunan qori, dari kaset itu ia banyak belajar. “Waktu SD (sekolah dasar) dulu sering mendengarkan lantunan qori di kaset, kemduian dibimbing sama orang tua,” katanya.

Waktu terus berjalan, sembari terus mendengarkan lantunan kemerduan suara qori melalui kaset, orang tuapun terus membimbingnya secara langsung. Seiring dengan itu, ketertarikannya mempelajari ilmu alqur’an terus bertambah, pada akhirnya pasca lulus dari sekolah dasar, dirinya memutuskan masuk Pondok Pesantren untuk lebih mendalami ilmu Al-qur’an.  “Masuk ke Pondok Pesantren milik paman,” ujarnya.

Di Pondok Pesantren, putera ketiga dari enam bersaudara ini terus mengembangkan pemahamannya terhadap ilmu alqur’an, tidak hanya qori namun juga menekuni syarhil qur’an qur’an, kebiasaan belajaranya dilakukan tanpa mengenal rasa lelah, apalagi bosan. “Untuk mematangkan kemampuan dalam bidang qori langsung mondok pesantren,” katanya.

Ia menuturkan, sejak kecil telah mengikuti berbagai perlombaan, rata-rata dari berbagai perlombaan itu menjadi juara. Hal itu terus berlanjut, masa SMA pun ia aktif mengukti MTQ tingkat Kabupaten Kota. “Kalau lomba kadang kadang kategori syarhil qur’an, kadang juga qori, yang paling banyak mendapatkan juaranya itu kategori lomba syarhil qur’an,” ucapnya.

Jerih payah berbuah manis, upaya bertahun-tahun mendalami qori dan syahril qur’an terbayar, beberapa kali ia berhasil menjadi juara syahril qur’an dan qori. Diantaranya juara qori dan syahril qur’an tingkat Kota Cilegon, Kota Serang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, bahkan Nasional. “Alhamdulillah, pernah menjadi juara satu syahril qur’an di Kota Serang dua kali, Kabupaten Serang dua kali, dan cilegon,” ujarnya.

Selain mengajar di SMP Pariskian, ia juga mencoba mengembangkan kemampuan dalam bidang qori dengan menjadi tutor ekstrakuriluler qori di SMP Negeri 14, Kota Serang. “Kalau belajar mah sampai sekarang juga terus belajar, selain di pariskian saya juga ngajar Eskul di SMP Negeri 14,” ujarnya.* (Sutisna/KB)

 

You might also like