Berjuang Melalui Jalur Alquran

Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Pandeglang KH Asmuni Noor dikenal sebagai seorang kiai yang mendarmabaktikan hidupnya bagi pengembangan pendidikan Alquran. Dari pesantrennya, lahir para juara-juara MTQ.

KH Asmuni lahir di Tangerang, 17 Februari 1955, merupakan seorang pendiri Lembaga Tilawatil Quran (LPTQ) Provinsi Banten. Ia memimpin LPTQ Banten dari 2001-2008. Abi, panggilan KH Asmuni, merupalam seorang tokoh yang memberikan pondasi kuat LPTQ Banten hingga mengalami kemajuan seperti sekarang.

Perhatiannya terhadap pengembangan pendidikan Alquran antara lain dipercaya sejak 2001-2006 menjadi ketua kafilah Provinsi Banten pada MTQ Nasional yang diselenggarakan  di NTB, Kalimantan Tengah, Bengkulu, Kendari dan beberapa daerah provinsi lainnya. Kemudian, tahun 2003 – 2015 aktif mengikuti musyawarah nasional Ulama Tafsir Alqur’an di beberapa daerah baik sebagai peserta maupun sebagai pengkaji, tahun 2004 menjadi pembina delegasi Indonesia pada MTQ remaja tingkat Asia di Brunei Darussalam, dan  tahun 2005 melakukan studi komperatif tentang Qulubil Qur’an ke Kairo, Mesir.

Sederet kiprahnya tersebut menunjukkan KH Asmuni merupakan salah satu tokoh yang berperan besar dalam kemajuan pendidikan Alquran di Banten.

Pesantren Al-Ihsan Pandeglang yang diasuhnya merupakan pusat kajian pendidikan Islam yang  terdiri dari beberapa unit kegiatan pendidikan yaitu kegiatan pesantren salafi yang berorientasi pada kajian Ulumul Quran, Ulumul Hadits dan Kutubul Mu’tabaroh.

Disamping itu terdapat pula pendidikan formal setara SMP dan SMA dan terakreditasi dengan peringkat “B” untuk Masrasah Tsanawiyah maupun Madrasah Aliyah yang secara keseluruhan merupakan bagian yang tak terpisahkan. Karena itu Pesantren Al-Ihsan telah memposisikan diri sebagai tempat pendidikan terpadu.

“Pesantren Al-Ihsan memiliki misi wewujudkan sebuah lembaga pendidikan Islam yang representatif yang memiliki karakter responsif terhadap perkembangan zaman, dengan didasari kepada sebuah pemikiran yang berlandaskan kepada Alquran, Al-Hadits, Al-Ijma dan Al-Qiyas serta selalu memperhatikan Aqwalul Ulama Assalafi,” katanya.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan visi tersebut, pesantren yang didirikan 17 September 1989 tersebut memiliki misi membentuk lembaga pendidikan yang terintegrasi antara Ma’had Assalafi dan madrasah, baik Mts maupun MA, mengkaji kitab-kitab salafi yang mu’tabar, mengkaji Ulum Alquran yang memprioritaskan hafalan Alquran dan membentuk santri produktif , komunikatif dan kompetitif serta memiliki akhlak mulia. (Sutisna/KB)

 

 

You might also like