BERBEDA DALAM PERSATUAN, BERSATU DALAM PERBEDAA

Oleh H. Ujang Jaenal Mutakin || Kang UZM ||

Penyuluh Agama Madya Kota Cilegon / Pengurus LPTQ Kota Cilegon

 

Akhir-akhir ini kita sebagai bangsa Indonesia dan sekaligus sebagai umat Islam dihadapkan banyak ujian dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan. Berbagai kabar,  berita, gosip, dan juga pendapat yang beraneka ragam isi dan pesannya hadir kepada kita, yang kadang-kadang membuat kita menyukai dan sekaligus membenci satu sama lain. Kesadaran bersama kita sebagai bangsa yang satu dan umat yang satu seperti terancam oleh perpecahan. Akhir-akhir ini, masyarakat sering kali diperlihatkan oleh semua media bahwa di sebagian daerah, masih ada sebagian masyarakat yang belum memahami tentang arti sebuah perbedaan, sehingga yang terjadi adalah pemaksaan kepada komunitas lain untuk menjadi bagian dari komunitasnya, pemaksaan tersebut tidak jarang menimbulkan konflik yang menumpahkan darah manusia. Tentu model bermasyarakat seperti itu, menjadi momok yang memecah belah persatuan kita sebagai bangsa Indonesia. Sudah saatnya kita kembali kepada ayat-ayat Allah yang mengajari kita tentang pentingnya berbeda dalam persatuan dan bersatu dalam perbedaan.

Perbedaan adalah Sunatullah, yang tidak bisa kita tolak. Sebagai makhluk sosial, kita semua pasti hidup di tengah masyarakat yang beragam. Ragam agamanya, ragam warna kulitnya, ragam bahasanya, ragam adat serta budayanya.  Dalam konteks kebangsaan, keberadaan masyarakat yang multi ragam adalah karunia terindah bagi bangsa Indonesia dari Allah SWT, dan harus kita rawat bersama, demi keutuhan bangsa yang bernama Indonesia ini, agar benar-benar menjadi bangsa yang baik dan masyarakat yang mendapatkan ampunan-Nya atau dengan kata lain Baldatun Thoyyibatun wa rabbun ghafuur. Dalam Islam keberadaan masyarakat yang multi ragam tersebut bertujuan, agar manusia ciptaan-Nya mau saling kenal mengenal dan saling harga menghargai antara komunitas masyarakat yang satu dengan komunitas masyarakat lainnya.“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan telah kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya terjadi saling kenal mengenal di antara kalian. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui juga maha mengenal’’(QS. Al-Hujarat :13).

Berdasarkan ayat ini, perbedaan yang ada di masyarakat adalah Sunnatullah, tugas kita sebagai hamba-Nya adalah menjaga keragaman tersebut. Kita  diharapkan bisa menjadi perekat di antara keragaman yang ada. Dalam konteks keragaman agama misalnya, umat Islam yang menghargai keragaman berarti telah memberikan rasa aman dan rasa keselamatan bagi komunitas yang berbeda agama dengannya. Begitu juga, perbedaan yang terdapat di dalam ajaran agama Islam, kita sebagai umat Islam di tuntut untuk saling menghargai perbedaan dalam hal–hal yang bersifat furu`iyah. Menghargai perbedaan pendapat,  Insya Allah akan menjadikan kita umat yang bisa bersatu dan  menjadikan  kita  lebih  kuat,  sehingga  kita  tidak  mudah di adu domba oleh pihak luar.

Perbedaan  memang tidak bisa kita tepis. Keragaman adalah kenyataan yang niscaya terjadi. Pada zaman kapan pun perbedaan dan perselisihan pendapat pasti ada. Nash Al-Qur’an pun banyak menggambarkan peristiwa perbedaan yang terjadi di masa-masa sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Bahkan dalam Al-Qur’an pun diungkap bahwa Allah SWT sengaja tidak menjadikan umat ini satu, tetapi memberikan potensi kepada manusia menjadi berbeda-berbeda. Terdapat Empat kali dalam Al-Qur’an yang menyatakan tentang kehendak Allah terkait dengan “Ummatan Waahidatan “ atau “umat yang satu”: Pertama, dinyatakan dalam Surat Al-Maidah ayat 48,: Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (QS. Al-Maidah: 48). Kedua, dinyatakan dalam Surat Hud ayat 118, yang berbunyi: :Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (QS. Hud: 118-119)  . Ketiga, dinyatakan dalam surat An-Nahl ayat 93, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan ( QS. An-Nahl: 93 ). Keempat, disebutkan dalam surat As-Syura ayat 8, yang berbunyi:  Artinya :Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong. (QS. As-Syura: 8)   Dari keempat ayat di atas menunjukkan bahwa “ummatan waahidatan” atau “umat yang satu bukanlah yang dikehendaki Allah SWT, sebaliknya perbedaan di kalangan umat manusialah yang dikehendaki Allah SWT. Dalam perbedaan itu di antaranya adalah sebagai bentuk ujian kepada kita, agar kita berlomba dalam kebajikan.

Agama Islam ini adalah agama yang agung. Agama yang pondasi dan ciri khas utamanya adalah memotivasi pemeluknya untuk bersatu dalam kebenaran. Dan menundukkan hati mereka untuk kesatuan. Persatuan adalah perintah Allah SWT sebagai salah satu nikmat yang besar, yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Firman Allah SWT : “ Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS:Al-Anfaal | Ayat: 62-63).

Sejarah sudah mencatat, Nabi Muhammad SAW diutus kepada kaum yang berpecah belah. Kaum yang berselisih dalam urusan dunia mereka. Dan setiap kelompok merasa bangga dengan kelompoknya masing-masing. Nabi Muhammad SAW melarang yang menyerupai mereka dan memerintahkan umatnya untuk bersatu. Dengan inilah urusan agama ini menjadi tegak. Kebiasaan-kebiasaan jahiliyah sirna. Keadaan masyarakat menjadi baik di atas agama ini. Tidak akan sempurna mashlahat manusia di dunia dan akhirat kecuali bersatu di atas Islam yang murni dan saling tolong-menolong di dalamnya. Dan hal ini termasuk tujuan agung agama ini. Persatuan yang demikian adalah persatuan yang dicita-citakan semua risalah kenabian. Dan merupakan tujuan besar dari syariat ini. Hal ini juga sekaligus menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan di dunia. Tidak akan baik kehidupan kecuali dengan persatuan. Tidak akan stabil keadaan kecuali dengan terwujudnya persatuan. Tidak akan sempurna interaksi sosial masyarakat kecuali dengan persatuan. Tidak akan teratur keadaan kecuali dengan persatuan.

Persatuan adalah jalan kebahagiaan dan keagungan umat ini. Ia adalah jalan kemuliaan dan terjaganya masyarakat. Persatuan adalah cara yang realistis untuk mewujudkan cita-cita umat dan mencegah keburukan. Persatuan adalah tali kebenaran yang mengikat kuat, menyatukan agama, bangsa dan negara. Rasululullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal dan membenci tiga hal bagi kalian. Dia meridhai kalian untuk menyembah-Nya, dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, serta berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan tidak berpecah belah. Dia pun membenci tiga hal bagi kalian, menceritakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya (qiila wa qaal), banyak bertanya, dan membuang-buang harta.” (HR. Muslim).

Istiqomah dan bersatu didalam perbedaan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara adalah jalannya para rasul, yang menjadi benteng yang akan menyelamatkan seseorang dari berbagai fitnah.  Siapa yang menempuhnya, ia akan sukses. Dan siapa yang melenceng darinya ia akan binasa. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-An’am  Ayat: 159, : “ Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS:Al-An’am | Ayat: 159).

Dari berbagai ungkapan Al-Qur’an tentang pentingnya merawat persatuan didalam perbedaan,  Akhirnya, marilah kita merawat perbedaan yang ada, dengan harapan, bahwa penghargaan ummat Islam tentang sebuah perbedaan dan keragaman tersebut, membuka pintu hidayah Nya dan mereka-mereka yang di luar Islam lebih simpati dengan Islam. Perbedaan agama, ras, bahasa  serta budaya, bahkan perbedaan  pilihan politik, tidak bisa kita jadikan untuk memutus tali persaudaraan kita, persatuan bangsa yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa. Tidak bisa juga, perbedaan itu kita jadikan sebagai alasan untuk bermusuh-musuhan, apalagi sampai pertikaian. Sejarah sudah menunjukkan pelajaran kepada kita, perbedaan pandangan dan pilihan hidup justru membuat kita sadar pada kekurangan kita masing-masing. Sedangkan tercerai berai, permusuhan, serta pertikaian telah merugikan kita semua. Kita harus senantiasa waspada kepada pihak-pihak yang memanfaatkan perbedaan kita. Jangan sampai kita tertipu oleh mereka, sehingga kita terpecah, tercerai berai, yang membuat kita dan anak cucu kita terperosok dalam rasa penyesalan tiada henti. WaAllahu’alam

 

 

You might also like