BENARKAH PERNIKAHAN ITU IBADAH?

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Kota Tangerang Selatan

 

Judul tulisan ini berasal dari pertanyaan Kang Syuhud kepada Pak Ustadz Dzul Birri di dalam majlis taklim malam Jumat Kliwonannya. Kang Syuhud, Kang Pardo, Kang Saman datang sengaja lebih awal dibandingkan dengan jemaah lainnya.

Mereka datang ke majelis sengaja lebih awal, yaitu jam 13.30 siang, dengan tujuan supaya bisa mempersiapkan segala sesuatunya, seperti merebus singkong, merebus kacang tanah, merebus pisang kepok dan merebus jagung.

Tanpa disadari oleh mereka bertiga, ketika mereka masuk ke bagian dapur umum ternyata di dapur umum sudah ada Pak Ustadz Dzul Birri sedang menyalakan api yang berada di dalam tungku. Tungku merupakan benda yang bahan bakunya berasal dari tanah, atau sekedar sejumlah batu bata yang disusun yang kegunaannya khusus untuk memasak. Sedangkan bahan bakarnya terdiri dari  kayu yang sudah dikeringkan, sekam merupakan sejenis kulit padi yang kasar.

Setelah mereka berkumpul di ruangan dapur umum, Kang Syuhud menyampaikan pertanyaan kepada pak ustadz. “Apa benar pak ustadz, klo pernikahan itu ibadah, di mananya disebut ibadah?

 

“Perbuatan free sex merupakan perbuatan-perbuatan asusila, pelanggaran terhadap aturan negara juga aturan agama. Oleh karena itu, agama menjadi solusinya dengan jalur pernikahan. Di dalam Islam, menempatkan syariat pernikahan menjadi jalan untuk melindungi nasab keturunan. Dengan pernikahan DNA seseorang akan dapat dipertemukan dan dipertanggungjawabkan.

Dengan adanya pernikahan secara otomatis nasab dan keturunan akan tumbuh dan berkembang. Langkah yang sangat strategis, upaya yang sangat kongkret para pendahulu kita mensyiarkan Islam melalui jalur pernikahan. Termasuk mensosialisasikan dan menyebar luaskan nilai-nilai keluhuran Islam dengan jalur pernikahan. Dari sinilah pernikahan ditempatkan dalam bagian ibadah. Sekiranya akang akang sudah ada calon nya segeralah menikah agar menjadi lebih sempurna.” pesan Pak Ustadz Dzul Birri. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.*

 

You might also like