BANYAK KELIRU DI TAHUN BARU

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Kota Tangerang Selatan

 

Pergerakan detik membuat berubahnya hitungan menit. Berubahnya hitungan menit akan menggerakkan jarum jam pada perubahan jam. Dan bertambahnya jam akan berganti hari. Begitulah seterusnya, matahari bergerak menuju ke arah peraduannya, maka berganti malam, demikian juga dengan malam yang berselimut gelap, tidak terasa munculnya menteri. Begitulah seterusnya yang akhirnya terjadilah pergantian tahun.

 

Masyarakat pada umumnya menyikapi dan menyambut kedatangan tahun baru beragam dan berbeda-beda. Yang berskala dunia, menyambut kedatangan tahun baru sangat meriah, selain berpesta bersama dengan membuat panggung panggung hiburan dari yang biasa biasa saja sampai ke yang spektakuler. Selain pentas musik yang berskala besar, astis dan biduan nya kelas papan atas, dimeriahkan pula dengan pentas kembang api yang nilainya ratusan juta rupiah.

 

Ada sebagian menyambut kedatangan tahun baru dengan diisi sekedar kumpul kumpul dengan sanak keluarga makan makan dan minum minum sederhana, dipilih satu tempat yang sunyi tanpa adanya musik yang hingar bingar, cukup sekedar memutar film film lawas hanya dengan melalui televisi dan CD.

 

Mengamati semangat memperingati datangnya tahun baru yang banyak kekeliruan dalam praktek pelaksanaan penyambutan nya. Menurut pandangan pak ustadz Dzul Birri, pergantian tahun seyogyanya dijadikan momentum untuk membangun kesadaran semakin berkurangnya peluang dan kesempatan untuk berkarya, bertutur sapa.

Pergantian tahun merupakan saat yang sangat berharga untuk mampu melihat dan menilai sesuatu yang lebih berharga untuk meraih kehidupan yang langgeng juga abadi. Yang lebih memprihatinkan, banyak karyawan dan karyawati demi karier dan pekerjaan nya rela mengenakan pakaian yang melambangkan sinterklas. Sebaiknya hal yang seperti ini tidak dilakukan oleh anak anak muslim. Menghormati agama sesama tidak harus mengenakan simbol simbol dan identitas agama nya. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.*

 

You might also like