Banten dan Filosofi Lebah

Oleh Hafis Azhari

Guru di Pesantren Al Bayan Rangkasbitung, Lebak

 

Lebah termasuk serangga yang memiliki sifat yang hampir serupa dengan semut. Keduanya adalah hewan yang unik, dan karenanya diabadikan dalam Alquran (surat an-Nahl dan an-Naml). Apa yang menarik dari kedua jenis serangga tersebut, dan apa pula hubungannya dengan sifat dan karakter masyarakat Banten?

Secara mendetil akan saya uraikan tentang habitat salah satunya, khususnya lebah yang memiliki beberapa tahapan untuk pertumbuhannya, yakni telur, larva, kepompong, hingga lebah yang terus beranjak dewasa. Namun bila diteliti dari kebiasaan bersosialisasi, serangga lebah dapat digolongkan menjadi lebah penyendiri dan lebah sosial. Lebah penyendiri biasanya memiliki sarang kecil, tak memiliki koloni pekerja, dan ratu lebahnya bekerja dengan simpel dan sederhana, mengumpulkan makanan untuk keperluan anak-anaknya di sarang.

Dalam kaitannya dengan sifat masyarakat sosial, kita akan membahas golongan yang kedua, di mana sang ratu lebah hidup secara terorganisir, memiliki tim pekerja yang membuat sarang serta mengumpulkan makanan dalam sarang yang besar. Koloni pekerja itu terdiri atas lebah jantan yang memiliki tugas berbeda-beda, termasuk tugas mengumpulkan madu yang disimpan di sarang hingga musim dingin ketika bunga-bunga tidak lagi mekar.

Seperti hewan-hewan mamalia, lebah juga memiliki otak dan perasaan. Ketika keluar dari kepompong, nalurinya seketika berfungsi, serta merta ia mahir terbang tanpa perlu diajari oleh ratu lebah selaku induknya. Sedangkan manusia harus diajari berdiri dan berjalan selama berbulan-bulan, kemudian diajari berenang, membaca, menulis, berhitung dan seterusnya. Seringkali anak-anak gagal dan jatuh bahkan tersungkur, tapi toh sifat manusia terus belajar dan bangkit kembali, hingga berhasil melangkah, melompat dan berlari mengalahkan teman-temannya.

Sebagai makhluk sosial, ternyata sifat masyarakat juga tak beda jauh. Seperti anak-anak, kadang mereka tak mampu mengendalikan diri, liar, serakah, saling sikut kiri sikut kanan, jatuh dan gagal, sampai kemudian – oleh hukum alam – mereka dituntut agar keluar dari fase keliarannya. Dalam istilah sastra, fase ini disebut tertutupnya kalbu oleh kesalahan dan kekhilafan yang menuntutnya bersikap dewasa, hingga keluar dari kabut ciptaannya sendiri, melihat pada keakuan dan kedalaman hati nuraninya sendiri.

Semuanya ada batas waktunya, baik yang dialami seorang individu maupun kelompok masyarakat. Ketika manusia keluar dari satu fase, ia pun akan masuk kepada fase berikutnya. Tak mungkin dipaksakan sekehendak hatinya. Seperti juga kedewasaan pemimpin, tak mungkin kita mengkarbitnya agar bersikap arif dan dewasa. Segalanya dihasilkan dari proses berjuang, berkorban untuk mencapai pematangan diri, setelah mengalami fase jatuh-bangun dalam belajar dan menuntut ilmu.

 

Manusia Bukan Lebah

 

Ketika keluar dari larva dan kepompong, lebah dan semut sudah memiliki keteraturan hidup. Tanpa perlu diajari lagi, seekor semut langsung mahir bergabung dengan koloninya, pintar berjalan bahkan berbaris dengan rapi. Sedangkan kita semua melewati masa kecil yang tidak teratur. Bicara sesuka hati, teriak-teriak dan memaki, marah dan pundung, bermain tak kenal waktu, tak mau mengalah, tak bisa fokus pada satu arah, berlarian seperti kuda liar ke sana kemari. Orang tua yang baik selalu mengarahkan pada jalur yang benar, tapi pada hal-hal tertentu, kadang-kadang orang tua tak bisa memaksa mereka.

Terkait dengan itu, sifat manusia Banten sebagai masyarakat sosial dituntut agar keluar dari fase ketidakteraturan menuju fase ketaraturan. Jika kita membaca novel Perasaan Orang Banten, bagi orang Banten yang berbudaya mestinya menyadari bahwa setiap karya sastra yang baik selalu mendidik masyarakat agar meregulasi diri menuju kedewasaan dan kematangan sikap. Di situlah aturannya jika Banten ingin menjadi masyarakat yang unggul. Bukan malah pundung, ngambek, atau marah ketika dikritik atau diapresiasi. Karena disadari atau tidak, sikap semacam itu menunjukkan masyarakat kita seakan belum selesai dari masa kanak-kanaknya.

Sama halnya ketika sebagian politisi kita marah dan mencak-mencak sewaktu Gus Dur mengkritik mereka seperti anak-anak TK. Padahal dengan menjelaskan karakter kaum penguasa dan politisi – seperti juga tergambar dalam cerpen Talenta dan Politisi Tua – berarti kita perlu menyadari dan berintrospeksi agar keluar dari fase kanak-kanak menuju kedewasaan berpikir dan menalar tentang hakikat diri kita yang sebenarnya.

Jika kita berpikir dengan cakrawala yang luas dan universal, justru di situlah uniknya makhluk yang bernama manusia. Segalanya mesti harus diawali  dengan belajar, tidak bicara dan komentar sesuka hatinya, tapi harus mengerti perasaan dan pikiran orang. Manusia juga belajar membaca dan menulis dengan perencanaan dan sasaran yang ingin dicapai. Ia mengatur strategi agar membuat dirinya bermaslahat, hingga menghubungkan satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Bahkan setiap warga Banten wajib belajar agar menjadi pribadi yang matang, setelah daiajak memahami tentang kepribadiannya, bahkan segala kekurangan dan kekhilafannya.

Konsep ini sejenis dengan pribadi manusia yang menuntut dirinya agar bertobat dari segala dosa dan kesalahannya di masalalu. Sebab jika manusia merasa dirinya bersih dan suci, berarti dia tidak mampu belajar untuk mengklarifikasi informasi dan data tentang siapa dirinya. Hingga dia menjadi bertambah usia namun tetap seperti kepompong dengan jiwanya yang kekanak-kanakan.

 

Pandai Mengidentifikasi Diri

 

Rhenald Kasali, seorang guru besar Universitas Indonesia pernah menguraikan ciri-ciri orang yang masa kecilnya belum selesai. Poin-poin yang disampaikannya mirip dengan karakter tokoh-tokoh dalam novel Perasaan Orang Banten. Di antara ciri-ciri tersebut adalah: jika marah berlarut-larut dan sulit memaafkan, suka menghina kawannya sendiri, gemar mengadu-domba, suka menakut-nakuti sesuatu yang belum tentu menjadi kenyataan. Jika menghadapi hal yang tidak menyenangkan, bukan hanya pundung dan ngambek, tapi senang berkata-kata atau berprilaku yang tidak mengenakkan banyak pihak. Kalau bersaing dalam hal apa saja (terlebih di dunia politik) ia seperti anak kecil yang menangkap ikan di empang. Airnya dibikin keruh, kemudian ketika ikannya ditangkap, ia sudah tak berdaya, lemas dan mati.

Seperti itulah tipikal orang yang masa kanak-kanaknya belum selesai. Masih dalam testimoni Rhenald Kasali, model orang semacam itu seringkali tampil di panggung politik kita, di kampus perguruan tinggi, dalam jajaran birokrasi, tak terkecuali kaum agamawan, pastor dan pendeta, hingga kalangan pengacara dan para debt collectors. Coba perhatikan keributan dan kegaduhan mereka dalam postingan di media sosial, sangat provokatif, tendensius, tak pernah ragu untuk menghujat dan saling caci-maki. Begitupun ulah dan kelakuan mereka dalam rapat-rapat parlemen.

Karena itu, yang terpenting dalam masa pertumbuhan anak-anak kita, mari kita mendidik mereka dengan membangun mental dan regulasi dirinya. Apapun yang dapat disimpulkan tentang kegaduhan masyarakat kita, itulah cerminan dari tipikal manusia yang belum selesai masa kecilnya. Padahal kita semua mendambakan manusia-manusia unggul Banten, yang syaratnya tiada lain bahwa kita harus cerdas menggunakan kepandaian yang kita miliki. Dan kecerdasan itu hanya mungkin dihasilkan oleh pribadi-pribadi yang mampu meregulasi dirinya, melewati fase kanak-kanak yang sesuai dengan kodrat kemanusiaannya. (*)

 

You might also like