BAHAYA MENYEBABKAN BERITA DUSTA

Oleh  H.M. Rasna Dahlan, M.Ag.

Ketua DMI Provinsi  Banten)

 

Dalam kehidupan sehari – hari, kita sering mendengar desas – desus yang tidak jelas asal – asalnya. Kadang dari suatu peristiwa kecil, tetapi dalam pemberitaannya, peristiwa itu dikesankan begitu besar dan dahsyat atau sebaliknya. Terkadang juga berita itu menyangkut kehormatan seorang muslim – muslimah. Bahkan tidak jarang sebuah rumah tangga menjadi retak dan berantakan, hanya karena sebuah berita yang belum tentu benar, seperti halnya dalam ilmu mantiq bahwa berita itu ada dua kemungkinan, yaitu mungkin berita itu benar dan mungkin berita itu salah.

Lalu bagaimana sikap kita terhadap berita yang bersumber dari orang yang belum kita ketahui jati diri dan kejujurannya. Coba kita renungkan Firman Allah surat Al – hujurat ayat 6 :

“hai orang – orang yang beriman, jika datang kepadamu orang munafik (fasik) membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kaum menyesal atas perbuatanmu itu .“

Didalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang – orang fasik itu pada dasarnya (jika berbicara) dia akan berdusta, tetapi terkadang ia juga benar. Karenanya, berita yang disampaikan tidak boleh diterima dan juga tidak di tolak begitu saja, kecuali setelah diteliti. Jika benar sesuai dengan bukti, maka diterima. Jika tidak, maka wajib di tolak.

Karena itu Allah melarang hamba – hambanya yang beriman mengikuti desas – desus isu yang berkembang. Allah menyuruh kita untuk memastikan kebenaran berita yang sampai kepada kita dan tidak turut menyebarkannya, kecuali setelah ada tabayyun (klarifikasi). Tidak semua berita yang disajikan itu benar, dan tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta, apalagi di ERA DIGITAL seperti sekarang ini, sangat mudah untuk memutar balikkan berita dari faktanya. Hendaknya kita waspada tentang hal itu. Dengan kemajuan teknologi yang luar biasa, sebuah berita bisa dinikmati oleh jutaan orang dalam waktu yang singkat, dan kita jangan turut menyebarkannya (memviralkannya) sebelum mengetahui kejelasannya dan kebenarannya terlebih dahulu.

Persoalan ini harus benar – benar kita perhatikan, terutama yang berkaitan dengan kehormatan seseorang, sebab yang demikian itu menuntut pertanggung jawaban dunia dan akhirat. Betapa banyak fitnah yang terjadi akibat berita bohong (Hoax) yang disebarkan orang fasik yang jahat. Betapa banyak darah yang tertumpah, jiwa yang terbunuh, harta yang terampas, kehormatan yang terkoyak, akibat berita yang tidak benar,  berita yang dibuat lawan. Dengan berita itu, meraka hendak menghancurkan umat, mencabik – cabiknya dan mengobarkan api permusuhan diantara umat (Umat Islam).

Betapa banyak dua bersaudara berpisah disebabkan berita bohong, betapa banyak suami – istri berpisah karena berita (Hoax), betapa banyak kabilah – kabilah dan kelompok – kelompok saling berperang, karena terpicu berita bohong. Sungguh Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar selalu menghindari prasangka (Suuzon), karena sebagian buruksangka adalah dosa. Seperti Firman Allah surat Al – hujurat ayat 12 :

wahai orang – orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari – cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat, maha penyayang”

Ayat ini menegaskan bahwa perbuatan buruksangka itu merupakan perbuatan tercela bahkan termasuk dosa dan diibaratkan sama saja dengan memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai tentu, sangat menjijikan dan memuakkan, ini baru berprasangka apalagi sampai melakukannya. Dalam UU ITE (Undang – Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) atau UU No. 11 tahun 2008, pasal 45 A ayat (1) menyebutkan bahwa : “setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan konsumen dalam transaksi elektronik sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat (1) dipdana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (Satu milyar rupiah).

Pada ayat (2) disebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan indevidu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat (2), maka dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (Satu milyar rupiah).

Jika kita cermati tentang bahaya menyebarkan berita dusta (Hoax) ini, baik secara agama maupun undang – undang ITE, rasanya cukup menakutkan, mencemaskan sekaligus menggambarkan pelaku penyebar berita bohong ini sangat biadab, tidak manusiawi dan masuk wilayah FITNAH. Fitnah itu sendiri setara dengan pembunuhan, Nudzubillah Mindzalik.

Dalam kontek agama (Hadits Nabi SAW), orang yang semacam ini, (penyebar berita bohong / Hoax dan penyebar fitnah) halal darahnya untuk diminum, sebab sudah termasuk kelompok dosa besar. Dan mereka harus meminta taubat kepada orang yang pernah menjadi obyek penyebaran berita bohong / di fitnah, bila tidak meminta maaf, maka resikonya, Allah tidak akan mengamuni dosa – dosanya, yang bersangkutan termasuk manusia rugi dan celaka.

Tidak hanya penyebar berita bohong dan pembuat fitnah saja, orang – orang yang melakukan Ghibah (menggunjing) dan Namimah (pembuat gosif menjelek – jelekan orang lain juga, merupakan perbuatan dosa yang berdampak datangnya murka Allah dan menumpuk – numpuk dosa. Tapi dibalik perbuatan Namimah/Ghibah, mendapat keuntungan bagi yang menjadi obyek Namimah/Ghibah, yaitu dosa – dosanya dihapus dan dipindahkan kepada sipelaku Namimah/Ghibah.

Dalam hadits Nabi SAW. digambarkan bahwa pelaku Ghibah dan Namimah tersebut amal baiknya habis dimakan perbuatan amal jeleknya sendiri, bagaikan kayu bakar dilalap api. Oleh karenanya mulai detik ini jauhkanlah diri kita, dari perbuatan jelek, penyebar, berita bohong (Hoax), menggunjing orang lain, memfitnah, sebaiknya kita selalu berdo’a meminta agar mendapat bimbingan kepada Allah kejalan yang baik, supaya selamat dunia – akhirat. *

    

 

 

 

 

 

 

 

 

You might also like