AYAM JAGO

Oleh  Dr.H.Ismatullah Syichabudin,S.Pd.,M.Pd

 

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Shalih bin Kaisan dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Zaid bin Khalid ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Janganlah kalian mencela ayam jantan, sebab ia membangunkan (orang) untuk shalat.” (Hr.Abi daud  4437)

Setiap fajar, saat ini kita sudah jarang mendengar ayam berkokok sebagai ciri sudah subuh, dan bisa dijadikan untuk pengingat waktu wajib sholat subuh.

Adzan dari mesjid, mushollla, suraw, dan langgar menjadi penentu dan pengingat kita untuk menjalankan sholat 5 waktu.

Beralih dari fungsi lain sebagai penentu waktu sholat, Ayam jago menjadi hewan peliharaan, bukan hanya sekedar hobby tetapi sudah menjadi cabang adu jago sebagai arena mengangkat harkat dan martabat pemiiknya.

Bagi yang memiliki peternakan ayam jago, kualitas, kejelian dan ketelitian menjadi penentu keberhasilannya, karena harga tinggi seekor ayam jago karena pilih tanding menjadi pengumpul dollar  yang tak terelakab lagi.

Perancis menjadikan ayam jago sebagai lambang negaranya, produk pioneer juga berlambang ayam jago, artinya tersohornya ayam jago sudah tidak dipungkiri lagi.

Ayam kinantan, dari makasar sebutan untuk Sultan Hasanudin dari sulawesi selatan sebagai simbol Ayam Jago menjadi kebanggaan dari sejak jaman nenek moyang kita.

Sunan Gunung jati dan Pucuk Umun saat menentukan Banten Hindu dan Banten menerima Islam sebagai Agama baru, ditentukan dengan pertempuran keduanya dengan menjelma dua ayam jago yang bertempur secara kesatria tanpa mengorbankan prajurit dan rakyat Banten satu orang pun.

Politik adu jago, yang menang bergembira, dan bangga akan prestasinya, dan menaikkan harga ayamnya serta yang kalah menerimanya dengan legowo menjadi jiwa sportif yang telah diwariskan pada kita sebagai anak cucunya.*

You might also like