ATASAN DAN BAWAHAN

Oleh Nasuha Abu Bakar, MA

Pengurus LPTQ Kota Tangerang Selatan

Dalam berkomunikasi sangat beragam orang menggunakan kata dan kalimat yang digunakan dalam menyampaikan pesan. Ada kelompok dalam berkomunikasinya menggunakan dengan isyarat. Seperti saudara kita yang tuna rungu. Kelompok tuna netra menggunakan huruf braille, bilamana mereka ingin membaca pesan.

Bagi masyarakat biasa, maksudnya kelompok masyarakat yang bukan tuna rungu dan bukan tuna netra, biasanya berkomunikasi dengan lisan dan tulisan. Setiap orang kadang berbeda-beda memiliki kemampuan dalam merespon pesan, baik yang bentuknya ucapan terlebih dalam bentuk tulisan.

Dalam ibadah puasa bisa dilihat dalam surat Al-Baqarah ayat 183, Allah tidak menggunakan fi’il amar, akan tetapi menggunakan lafadz fi’il madhi dan cukup dengan diawali lafadz “Alaikum” itu datar saja, seakan akan terkesan hanya bersifat informasi. Dari sinilah muncul pertanyaan, mengapa tidak menggunakan fi’il amar saja pasti penekanannya akan berbeda dan efeknya juga akan berbeda.

Dengan pemaparan yang biasa-biasa saja, tidak ada penekanan karena sesungguhnya yang diwajibkan berpuasa hanyalah mereka orang-orang yang beriman. Setiap orang yang beriman seyogyanya bisa memahami dan siap menerima segala tugas yang sudah menjadi kewajibannya. Seperti shalat lima waktu, shalat Jum’at, berpuasa bulan Ramadhan, membayar zakat, dan melakukan ibadah haji. Ibarat seorang karyawan atau pegawai dia harus menyadari ada kewajiban dan tugas sebagai seorang pegawai. Dan karyawan yang baik adalah karyawan yang mengerti tugas dan pekerjaannya.

“Saya punya sahabat pak ustadz, puasa Ramadhan dia mau, tetapi shalat lima waktu belum mau. Klo seperti itu bagaimana? ” tanya Kang Makruf

“Puasa Ramadhan ibarat pakaian bagian atas seperti baju, sedangkan shalat lima waktu ibarat pakaian bagian bawah seperti celana dan sejenisnya. Apakah mungkin kita berpenampilan kemana-mana hanya memakai atasan saja, tanpa pakaian bawahan. Atau memakai bawahan tanpa atasan. Yang lebih bahaya lagi kalau sudah tidak memakai atasan dan bawahan. Walaupun yang hanya memakai atasan saja juga sudah dianggap tidak baik. Shalat dan puasa Ramadhan merupakan kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Dimana mana yang namanya sepeda motor memiliki dua rodanya. Dimana mana yang namanya lengan baju ada dua tangan. Kalau hanya sebelah tentu sangat tidak pantas, dan itu tidak mungkin.” begitu penjelasan Pak Ustadz Dzul Birri kepada jamaah malam Jumat Kliwonannya.

Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.

 

 

You might also like