ANTARA GIRANG DAN MERIANG

Oleh Nasuha Abu Bakar MA
Pengurus LPTQ Kota Tangerang Selatan

Jabatan menteri merupakan jabatan yang menjadi impian bagi banyak orang terlebih bagi tokoh tokoh yang aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan apalagi yang aktif di partai partai politik.
Jabatan menteri merupakan jabatan yang sangat bergengsi dipandang oleh semua kalangan, kelompok politisi, budayawan, pemerhati pertanian, para pengusaha, tokoh agama. Terlebih bagi kelompok Penguasa dan pebisnis, sehingga tidak sedikit para penggiat ekonomi di tanah Nusantara ini berlomba lomba merapat ke Penguasa yang sedang berkuasa dengan harapan dilirik kemudian ditarik dan diangkat menjadi menteri. Dan cara ini merupakan cara yang paling banyak terbukti.

Jangankan orangtuanya, gurunya, keluarganya, sahabat satu sekolahnya, sahabat waktu di pondok pesantren nya, organisasi tempat pengabdiannya, kadang orang lain pun ikut ikutan “GIRANG”. Semoga saya tidak salah menggunakan istilah “GIRANG”, istilah ini biasa digunakan di kalangan masyarakat Betawi yang maknanya “SENANG”. Semuanya merasa senang ketika orang yang dikenal nya diangkat menjadi menteri. Banyak yang bisa diharapkan dengan jabatan menteri. Kebijakan kebijakan yang diambil tentu menjadi dasar untuk membuat program kerja yang bisa diserap dan dirasakan oleh masyarakat Indonesia karena jabatan menteri memiliki jangkauan yang menasional.

Tetapi, ketika saya coba silaturahim ke kediaman pak ustadz Dzul Birri dan bertanya tentang peluang kesempatan menempati jabatan menteri, jawaban beliau sederhana, “antara Girang dan Meriyang”. Girang nya, jabatan menteri merupakan washilah atau jembatan untuk berbuat kebaikan kepada masyarakat, sebagaimana sabda nabi tercinta yang maknanya “sebaik baiknya manusia, orang yang dapat memberikan kebaikan, manfaat kepada orang banyak”. Masya Allah…., Seorang menteri dengan kebijakannya dapat membantu masyarakat berskala nasional, tentu saja ini peluang yang tidak mudah didapatkan. Sedangkan MERIYANG nya, banyak juga peluang jabatan menteri manfaatnya tidak optimal, kurang bisa dirasakan ke masyarakat banyak. Yang miris sekali, tidak sedikit setelah diangkat menduduki jabatan strategis sering sekali disalahgunakan, hanya untuk memuluskan urusan dan kepentingan bisnis nya, atau membangun kekuatan karir politik nya. Pada akhirnya, bermuara tercium oleh KPK tentang ke-tidak amanahannya. Sehingga seragam akhir karirnya berwarna Oranye.
Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan

You might also like