AL-QUR’AN BAHASA INGGRIS DARI MADINAH

Ilzamudin Ma’mur

Pengurus LPTQ Banten

Translations are mainly meant for informing the people who have not yet embraced Islam to make clear to them the principles of Islam and the teachings of Muhammad p.b.u.h. and knowing its exact facts. When they reach this state and Allah has blessed them with Islam,

they must take the Qur’anic and the Messenger language, i.e. Arabic,  as the only language

to understand Islam

(M.T. al-Hilali, 3)

            Selain karya Muhammad Marmaduke William Pickthall dan Abudullah Yusuf Ali, ada satu lagi karya terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris pada abad 20 yang mempunyai jangkauan pembaca yang luas dan masif di manca negara   bahkan hingga menembus abad 21 ini.

Karya tersebut adalah terjemahan kolaboratif Muhammad Taqiuddin al-Hilali dan Muhammad Muhsin Khan yang diberi variasi judul Interpretation of the Meanings of The Noble Qur’an in the English Language  dan  The Nobel Qur’an: English Translation of Meanings and Commentaries in English.

Karya tersebut diterbitkan dengan dukungan penuh Pemerintah Arab Saudi dan diterbitkan oleh King Fahd Complex for the Printing of the Holy Qur’an yang bermarkas di Madinah al-Munawwarah, Kerajaan Saudi Arabia.

Biografi Intelektual Al-Hilali

Taqiuddin al-Hilali, yang nama lengkapnya Abu Shakeb Muhammad Taqiuddin bin Abdil-Qadir al-Hilali, lahir di desa al-Farkh yang juga dikenal dengan al-Fidah al-Qadimah, tidak jauh dari sebuah lembah dekat Sajalmasah, Maroko, Afrika Utara, pada 1893. Ayah dan nenek moyang Hilali merupakan keluarga yang sangat religius, yang bertaun-tahun sebelumnya  bermigrasi dari Tunis.

Bila ditelusuri jauh ke belakang, nasab al-Hilali akan sampai pada keluaga Ali bin Abi Thalib, yang adalah menantu Rasulullah SAW. Biografer al-Hilali, menggambarkanya sebagai ulama terkemuka dalam bidang hadits, linguis kondang, penulis istimewa, pujangga luarbiasa, dan manusia pengembara dari Maroko.

Al-Hilali sudah hafal Qur’an penuh saat berusia 12 tahun. Setelah menguasai bahasa Arab, Ingris dan Jerman, al-Hilali pun melakukan pengembaraan yang jauh untuk menuntut ilmu hingga, antara lain,  ke India, Irak, Mesir, Jerman, dan Saudi Arabia. Pendidikan tinggi al-Hilali ditempuh di Universitas Al-Qurrawiya, Maroko, lalu di Universitas al-Azhar, Mesir, dan gelar doktornya diperoleh dari Berlin University, Jerman.

Pengalaman megajarnya sebagai professor Islamic studies, al-Hilali mengajar di Universitas Baghdad, Irak, Universitas Bonn serta Universitas Humboldt, keduanya di Jerman, di Universitas Madinah, Saudi Arabia, dan  terakhir Universitas Muhammad V, di Rabat, Maroko, hingga pensiunnya.  Setelah pensiun al-Hilali pindah ke kota Meknes, lalu pindah lagi ke kota Casablanca dan menetap di kota ini hingga wafatnya pada 22 Juni 1987.

Adalah pada masa aktif mengajarnya di Universitas Madinah itu lah al-Hilali berkolaborasi dengan Muhsin Khan untuk menerjemahkan al-Qur’an, yang sebelumnya telah menerjemahkan berjilid-jilid kitab  hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim,  dengan pertimbangan bahwa “kami acap kali menemukan sebagian  kesalahan makna pada terjemahan ayat-ayat al-Qur’an, sebagian lagi menemukan ayat-ayat al-Qur’an diterjemahkan secara salah dan ditempat lain lagi ditengarai memerlukan penjelasan.” (20). Sehingga menurut mereka diperlukan terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris, guna menghindari hal-hal tersebut.

Sebagai akademisi telah banyak karya yang dihasilkan oleh al-Hilali. Karyanya dalam bahasa Arab antara lain: (1) ‘Az-Zand al-Wari wa al-Badr as-Sari fi Sharh Ṣaḥiḥ al-Bukhari,(2) Al-Ilham wa al-In’am fi Tafsir al-An’am’(3), Mukhtaṣir Hadi al-Khalil fi al-ʿAqaʾid wa ʿIbadah al-Jalil’, (4) Al-Hadiyyah al-Hadiyah li at-Taʾifah at-Tijaniyyah, (5) ‘Al-Qaḍi al-ʿAdl fi Ḥukm al-Bina ʿala al-Qubur’, (5) ‘Ḥashiyah ʿala Kitab at-Tawid li Shaykh al-Islam Muḥammad ibn ʿAbd al-Wahhab’, (6)‘Hashiyah ʿala Kashf ash-Shubuhat li Muḥammad ibn ʿAbdul-Wahhab’‘, (7) Min Waḥī al-Andalus’ (kumpulan sajak), (8) Faḍl al-Kabir al-Muta’Ali  (kumpulan puisi).

Biografi Intelektual Muhsin Khan

Berbeda dari al-Hilali dengan latar professor Islamic studies berasal dari Maroko,  Muhammad Muhsin Khan, tim kolaboratornya, adalah dokter spesialis jantung berasal dari Pakistan.

Mereka dari benua yang berbeda pula, Afrika Utara dan Anak Benua India, Asia Selatan. Namun demikian, keduanya dipertemukan Allah di Madinah al-Munawarah, yang satu sebagai professor di Universitas Madinah, yang satunya lagi sebagai Direktur Rumah Sakit, Universitas Madinah, dan keduanya sangat menyintai kitab suci Islam, al-Qur’an. Di Madinah inilah mereka menerjemahkan dan akhirnya menerbitkan karya kolaboratifnya dan mendistribusikan ke seluruh penjuru dunia.

Muhammad Muhsin Khan, yang nama lengkapnya Muhiuddin bin Ahmed Al-Essa Al-Khoashki Al-Jamandi al-Afghani, lahir pada tahun 1926 di Qasur sebuah kota di Provinsi Punjab, Pakistan. Sebagaimana al-Hilali, nenek moyang Mushsin Khan pun bermigrasi dari negara asalnya Afganistan ke negara lain yang lebih aman pada waktu itu yakni ke Pakistan bertahun-tahun sebelumnya.

Pendidikan awal, dasar dan menengahnya di selesaikan Khan di kota kelahirannya. Setelah itu Khan melanjutkan studi di Universitas Punjab, Lohore, Pakistan, hingga memperoleh gelar kesarjanaan dalam bidang Kedokteran dan Bedah. Tidak lama setelah selesai studi Khan langsung bergabung dengan Rumah Sakit di Lahore, sebelum akhirnya merantau ke Inggris dan tinggal di negara tersebut selama 4 tahun sembil memperdalam ilmu dalam bidang Penyakit Jantung di University of South Wales, Wales, Inggris, hingga memperoleh Diploma. Selanjutnya, Khan hijrah lagi kali ini ke Saudi Arabia dan bekerja pada Kementerian Kesehatan pada Pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia dan bertahan selama 15 tahun. Mula-mula sebagai Direktur Rumah Sakit Jantung El-Sadad di Ta’if, kemudian Kepala Bagian Penyakit Jantung di rumah Sakit Raja, dan akhirnya di Direktur Rumah Sakit Universitas Madinah, Madinah.

Terjemahan al-Quran

Karya terjemahan kolaboratif al-Hilali dan Muhsin Khan, mereka beri judul Interpretation of The Meanings of The Noble Qur’an in the English Language. Terjemahan ini diperkaya dengan sumber tafsir klasik seperti Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Kurtubi, dan Tafisr Thabari tetapi juga kitab hadits seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dan Lulu’ wa Marjan.  Karya kolaboratif ini diterbitkan dalam dua edisi, edisi ringkasan 1 jilid dengan ketebalan 880an halaman dan edisi lengkap sebanyak 9 jilid yang setiap jilidnya berisikan 3-5 juz dengan rata-rata ketebalan 576.

Dengan demikian, keseluruhannya 4284 halaman. Sementara pengamat menggambarkan proyek penerjemahan al-Hilali dan Muhsin Khan sebagai proyek yang sangat ambisius untuk sebuah terjemahn al-Qur’an, karena tidak saja meringkas dan menyarikan isi ketiga kitab tafsir klasik tersebut lalu menginkorporasikannya sekalgus, tetapi juga menyisipkan hadits yang relevan dari kitab  Sahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Kedua edisi tersebut diterbitkan oleh Darussalam Publisher and Distribution dengan kantor utama di Riyad, Saudi Arabia, dan cabang di Lahore, Pakistan, Houston dan New York Amerika Serikat. Penulis, saat melakukan dakwah bersama tim dari Perkumpulan Muslim Asia Selatan di Kanada, pernah bertemu dengan Direktunya Abdul Malik Mujahid, Ph.D. alumni University of Chicago at Los Angeles, di Toronto, Kanada, pada 1994. Beliau mengatakan kenal baik dengan Prof. Dr. H. Ahmad Syafi’i Maarif, M.A. dan Prof. Dr. H. Amin Rais, MA., saat masih bersama-sama kuliah di Chicago, Amerika Serikat.

Edisi ringkasan inilah yang juga diterbitkan dan disistribusikan secara masif oleh King Fahd Complex for the Printing of the Holy Qur’an di Madainah, Saudi Arabia, menggantikan posisi terjemahan Abdullah Yusuf Ali, yang sebelumnya selama satu dasawarsa sejak 1985 hingga 1995, diterbitkan dan distribusikan ke seluruh dunia oleh penerbit yang sama. The Noble Qur’an edisi ringkasan ini dengan judul The Nobel Qur’an: English Translation of Meanings and Commentaries in English disajikan dengan bilingual model dua kolom, yakni teks Arab diletakkan di kolom sebelah kanan sejajar dengan terjemahanya dalam bahasa Inggris di kolom sebelah kiri.

Sedangan catatan penting, seperti penjelasan menyangkut konsep, mufradat, hadits, asbabunnuzul dan tafsir yang relevan diberikian terpisah di bawah dua kolom tersebut. Edisi ini dengan ketebalan 856 halaman, delengkapi dangan 3 lampiran dan indeks serta prawacana oleh Presiden Islamic Research, Ifta’, Call and Propagation, Kerajaan Arab Suaid, Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dan Sekretaris Jendral Universitas Islam Madinah, Syeikh Umar Muhammad Fullata.

Kendatipun didukung dan didistribusikan oleh pemerintah Saudi Arabia, karya kolaboratif ini tidak terbebas dari kritik, antara lain, karya kolaboratif tersebut dituduh banyak menyisipkan faham madzhab Wahabi ke dalam terjemahannya.

Selain itu, menurut William S Peachy, professor bahasa Ingris di Fakultas Kedokteran, Universitas Raja Ibn Saud di Qassim, yang juga penerjemah al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris, terjemahan kolaboratif tersebut bersifat “repulsive” yakni memicu, mendorong kearah yang negatif semacam kebencian kepada agama lain (Narsani dan Yahudi), suatu kritik yang juga disepakati Muhammad Abdul Halim, professor kajian Islam dan bahasa Arab, di SOAS, Universitas London, Inggris,  yang juga penerjemah al-Q-ur’an ke dalam bahasa Inggris.

Menurut hemat Abdel Halim, terjamahan Hilali-Khan tersebut bersifat “repelling”, yakni berpotensi mendorong kearah faham ektrem hingga tingkat tertentu. Kecemasan kedua-kritukus tersebut barangkali antara lain, karena dalam terjemahan Hilali-Khan, misalnya, ayat 7 surat Fatihah, dituliskan dalam terjemahan Inggrisnya “The way of those whom You have bestowed Your Grace, not (the way) of those who earned Your Anger (Jews), nor those who went astray (Christian).”

Dalam terjemahan ini ada disisipkan kata-kata Yahudi dan Nasrani walaupun dalam tanda kurung. Namun demikian, sisipin tersebut nampaknya telah dihilangkan pada edisi-edisi berikutnya, tetapi catatan rujukan kepada hadits shahih diberikan dalam catatan kaki. Adapun dari sudat bahasa, setelah melakukan analisis mendalam untuk kepentingan berbaikan ke dapan, Zaidan Ali Jassem (2014) berkesimpulan bahwa walapun para penerjemah telah berusaha keras untuk meyajikan terjemahan yang akurat secara faktual dan terjemahan setia secara metodologis, hasil akhirnya masih terjemahan harfiah dan nilai praktisnya pun kurang.

Bahasa Inggrisnya tidak saja lemah dan kaku, tetapi juga memaksa pembacanya menjauh dari teks, dengan demikian menganggu pembaca menunaikan kesenangan membaca dan belajar.  Wallahu a’lam bi al-shawab!!!*

 

 

You might also like