Aki Gunung: Ulama Pejuang Lingkungan Hidup

”Jadilah kalian yang dikenali para penghuni langit, namun tak dikenal para penghuni bumi.” (Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu dari Ibrahim bin Isa, Shifatush-Shafwah, 1/415).

Kalimat tersebut sangat cocok disematkan kepada Dr. KH. Fuad Halimi Salim atau yang akrab dikenal dengan nama Aki Gunung. Kehidupan lelaki nyentrik namun kharismatik ini sangat jauh kesan sebagai kiai, baik dari caranya berpakaian maupun dari segi tema-tema pembicaraan.

Ia merupakan ulama yang piawai menyembunyikan amalan-amalan duniawi dari mata manusia, bahkan dari para santrinya.

Hingga akhir hayat Dr. KH. Fuad Halimi Salim, banyak warga di lingkungan tempat tinggalnya yang belum mengenali bahwa sosok tua tersebut adalah ulama sufi yang sangat berjasa pada persoalan lingkungan hidup.

Penampilannya sangat sederhana, sehingga banyak tamu yang terkecoh. Sebab, ia sangat jarang mengenakan asesoris keulamaan pada tubuhnya, seperti sorban, jubah, tasbih, dan sarung.

Akan tetapi sesungguhnya, seluruh perbuatannya melaksanakan tugas-tugas ulama. Dari lisannya sangat jarang keluar ayat-ayat Alquar’an atau hadist, atau cuplikan nasihat-nasihat ulama besar.

Kepada setiap tamu yang datang, ia lebih sering cerita tentang pentingnya mengurus bumi dengan menanam pohon, membersihkan lingkungan tempat tinggal, mengalirkan air dari got, membuang sampah ke tempatnya, dan seterusnya. Baginya, lingkungan yang bersih adalah cermin dari hati penduduknya.

Masyarakat di sekitar hanya ingat, bahwa Fuada Halimi adalah orang pertama yang membangun jalan mulus dari kampung menuju puncak Gunung Kaduronyok, Kabupaten Pandeglang. Kelak, di puncak gunung yang dikenal angker itu, ia membangun sejenis padepokan.

Sejak itu lah, warga setempat lebih mengenalnya dengan sebutan Aki Gunung. Gunung disematkan di belakang namanya, mungkin karena ulama kharismatik itu, hingga akhir hayatnya memilih tinggal bersama para santrinya di puncak gunung (kabar-banten.com, 13 Februari 2018).

Meski memilih hidup sepi bersama para santri, akan tetapi tidak sedikit pejabat negara dan cendekiawan yang rela bersusah payah naik gunung, demi untuk bertemu   Aki Gunung.

Bahkan banyak pula kiai di Tanah Air dan ulama luar negeri yang menjadikannya sebagai “guru besar”. (Eko Supriatno, kabar-banten.com, 11 Februari 2018).

Penulis berupaya memawancara salah seorang murid Aki Gunung atau   Dr. KH. Fuad Halimi Salim yang kini menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Al Khoziny, KH. Khozinul Asror. Wawancara hanya dilakukan melalui sambungan whatsapp.

Di mata KH. Khozinul Asror, Aki Gunung adalah kiai besar dan guru besar yang memiliki harisma sangat besar.

Menurut Asror, luasnya ilmu sang guru diakui para kiai yang yang pernah bertemu langsung dengannya. Namun demikian, Aki Gunung tidak pernah menampakkan diri sebagai kiai. Keulamaan Aki Gunung sengaja ditutupi dengan jubah kesederhanaannya.

Masih kata Kiai Asror, tidak banyak yang tahu bahwa semasa hidupnya Aki Gunung pernah menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.

Bahkan, ia juga sering menjadi dosen tamu  di perguruan tinggi luar negeri. Di Indonesia, ia pernah menjadi pengajar di Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gajah Mada (UGM), dan Universitas Padjajaran (Unpad).

  1. Asror mengaku pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa Aki Gunung pernah memegang daun kering. Saat daun itu diracik tangannya, spontan daun berubah menjadi uang.

KH Asror juga menjadi saksi kisah heroik Aki Gunung ketika membuka jalan menuju Gunung Kaduronyok sepanjang 5 kilometer.

Kalau tidak menyaksikan sendiri, Kiai Asror mengaku tidak akan percaya dengan peristiwa yang sulit diterima akal tersebut. Konon, Aki Gunung membuka jalan tersebut hanya dibantu oleh 14 orang. Anehnya, tidak seorangpun warga di kampung tersebut yang mengenal 14 orang yang membantu Aki Gunung.

Menurut Kiai Asror, selama bekerja membantu Aki Gunung, ke-14 orang itu tidak pernah berbicara sepatah katapun. Dan, setiap selesai bekerja mereka langsung pulang menuju hutan.  Diduga, para pekerja itu adalah makhluk ghaib yang didatangkan Aki Gunung.

Tentang karomah, sejumlah warga menceritakan tak sedikit jemaah umroh dan haji yang mengaku bertemu Aki Gunung di Mekah. Akan tetapi memang, sejumlah warga mengakui tidak setiap hari bisa melihat Aki Gunung di pesantrennya.

Sikap takjub juga dikemukakan Eko Supriatno (kabar-banten.com).  Ia menilai Aki Gunung sebagai ulama NU yang sederhana namun jernih, cerdas, juga progresif.

Karena begitu sederhananya, kadang orang tidak mengira bahwa beliau adalah seorang kiai. Namun, di balik kesederhanaan beliau tersimpan lautan ilmu yang begitu luas. Gaya bicaranya tegas dan lugas.

Di mata para santrinya, kata Eko, Aki Gunung adalah sosok yang istikomah dan alim. Ia tak hanya pandai mengajar, melainkan menjadi teladan seluruh santri. Dalam shalat lima waktu misalnya, ia selalu memimpin berjamaah. Demikian pula dalam hal kebersihan yang membuat para santrinya betah dan bangga.

Di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), Aki Gunung dikenal sebagai kiai khos atau kiai utama. Aki Gunung dianggap mempunyai wawasan dan kemampuan ilmu agama yang luas, memiliki laku atau daya spiritual yang tinggi, mampu mengeluarkan kalimat hikmah atau anjuran moral yang dipatuhi, dan jauh dari keinginan-keinginan duniawi. Aki Gunung kerap jadi rujukan utama di kalangan Nahdliyin, terutama menyangkut kepentingan publik.

Menurut Eko, tasawuf yang dipahami Aki Gunung bukanlah tasawuf yang cenderung mengabaikan syari’ah karena mengutamakan dhauq (rasa). Tasawuf yang dipahami Aki Gunung, ilmu syariah adalah jalan menuju marifat.

Kendati demikian, tambah Eko, Aki Gunung bukanlah sosok sufi yang lari ke hutan. Ia bukan ulama yang hidup untuk dirinya sendiri, dan menuding masyarakat sebagai musuh yang menghalangi dirinya dari Allah SWT. Ia akrab dengan berbagai community college, medan kehidupan, mulai dari pertanian sampai kesejahteraan sosial. Aki Gunung juga ditunjang oleh pemahaman dalam menggunakan fiqhud dakwah (fiqih berdakwah), yang dibedakan dengan fiqul ahkam (fiqih hukum), dan fiqhul hikmah (fiqih kebijaksanaan).

 

 

Peninggalan Aki Gunung

Seperti ulama lainnya, Aki Gunung juga memiliki peninggalan berupa Pondok Pesantren Al-Ihya Kaduronyok, beralamat di Cisata, Pandeglang, Provinsi  Banten.

Di pesantren ini, para santri tak hanya piawai  membaca Alquran dan kitab kuning kuning dengan baik dan benar, tapi juga mahir memainkan berbagai macam alat musik. Santri di pesantren ini pernah tampil menawan ketika memainkan alat musik angklung dalam sebuah orkes yang bernama Angklung Ronyoka Symphonie.

Para santri Pondok Pesantren Al-Ihya  tak hanya pandai bermain angklung, namun juga pandai bermain alat musik lainnya seperti gitar, drum, hingga piano. Dengan kelebihan ini, para santri mengaku bangga. Sebab, mereka bisa memberikan warna tersendiri dalam musik nasional.

Eko Supriatno (kabar-banten.com) menulis, di Pesantren Al-Ihya Kaduronyok semua santri bisa ikut belajar memainkan alat musik dan belajar bernyanyi. Mereka pun bisa ikut pentas bila ada yang mengundang, sekaligus memupuk mental para santri untuk tampil di depan publik.

Menurut Eko, Pondok Pesantren Lingkungan Hidup Al-Ihya yang berada di Kampung Kaduronyok, Desa Kaduronyok, Kecamatan Cisata, Kabupaten Pandeglang, Banten berada di atas Gunung Pulosari yang memang dikenal memiliki hawa yang sejuk dan pemandangan hijau nan asri khas pegunungan.

Pesantren Al Ihya Kaduronyok merupakan satu-satunya pesantren yang berbasis Lingkungan Hidup. Konsep ini dikembangkan mulai pada tahun 1993. Sistem pendidikan yang dikembangkan di Yayasan Lingkungan Hidup Al-Ihya menggunakan sistem pendidikan salaf-modern. Yaitu, sistem pendidikan yang dikembangkan dengan memadukan sistem pendidikan salaf dengan sistem pendidikan modern (formal).

Aki Gunung berprinsip, pesantren sudah waktunya mengkader para santri untuk sadar media dan memanfaatkannya sebagai wahana berdakwah.

Kini, Aki Gunung telah pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Aki Gunung dipanggil ke hadhirat-Nya dengan jiwa yang tenang, setelah beberapa lama dalam perawatan. Tak seorang pun tahu, tanggal kelahiran Aki Gunung, termasuk istrinya.*

 

You might also like