AKHLAQ BERMU’AMALAH DI MEDIA SOSIAL

Oleh Ujang Jaenal Mutakin || Kang UZM ||

Penyuluh Agama Islam Madya Kemenag Kota Cilegon / Pengurus LPTQ Kota Cilegon

 

Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat media social, seperti Facebook, Twitter, Path, Youtube, WhatsApps, Instagram dengan fitur-fitur like, share-feed, tweet-retweet, upload-download, path-repath, selfie-regrampost-repost telah  menjadi pilihan utama masyarakat dalam berkomunikasi. Media sosial adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kemajuan teknologi ini tentu saja berhadapan  dengan kebebasan setiap orang dalam membuat serta membagikan informasi.

Disatu sisi, peran media sosial dalam menebarkan kebaikan tidak bisa dipungkiri. Di mana pada zaman ini, kemudahan informasi bahkan untuk menuntut ilmu agama bisa merambah seantero penjuru dunia dan bisa dinikmati oleh siapa saja, tanpa mampu dibatasi jarak maupun waktu. Namun sebaliknya pada sisi yang lain, media soial banyak di gunakan ke arah yang negatif dengan  melakukan ghibah, fitnahnamimah (adu-domba), ujaran kebencian, menyebarkan permusuhan berdasarkan suku, ras, atau antara golongan.

Bahkan tidak sedikit media sosial di gunakan untuk menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala yang terlarang secara syar’i, bahkan yang paling mutakhir, media sosial digunakan untuk menyebarkan hoax serta informasi bohong atau belum tentu kebenarannya. Kita sering mendengar desas-desus yang tidak jelas asal-usulnya.

Kadang dari suatu peristiwa kecil, tetapi dalam pemberitaannya, peristiwa itu begitu besar atau sebaliknya. Terkadang juga berita itu menyangkut kehormatan seorang muslim. Bahkan tidak jarang, sebuah rumah tangga menjadi retak, sebuah Bangsa di rundung konflik sosial hanya karena sebuah berita yang belum tentu benar.

Bertolak dari fenomena dampak media sosial tersebut, untuk mencegah media sosial berdampak negatif, tentu harus di bingkai oleh akhlaqiyah penggunanya. Diantara akhlaq bermedia sosial tersebut,  sebagaimana  termuat dalam Fatwa MUI No 24 Tahun 2017 mengenai Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial diantaranya :

Pertama, Akhlaq bermedia sosial jangan  menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik. Salah satu persoalan sosial yang muncul beriringan dengan kemajuan dan perkembangan media social adalah  adalah hoax. Dalam bahasa Indonesia, hoax merupakan istilah atau kata serapan yang semakna dengan “berita bohong”. Hoax adalah upaya memperdaya banyak orang dengan sebuah berita bohong, memperdaya beberapa atau sekumpulan orang dengan membuat mereka percaya pada sesuatu berita yang telah dipalsukan. Padahal Allah SWT membenci  seseorang yang  aktif menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, sebaliknya kita dituntut cermat dalam mengkonsumsi dan menyebarkan berita.

Hal ini sejalan dengan Hadits Rasulullah SAW, yang artinya “Sesungguhnya Allah membenci 3 hal untuk kalian: menyebarkan berita burung (katanya-katanya); menyia-nyiakan harta; dan banyak bertanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Terlebih ketika berita itu bisa bikin geger di masyarakat. Allah mencela orang yang suka menyebarkan berita yang membuat masyarakat ribut. Dalam al-Quran, Allah menyebut mereka dengan al-murjifuun ( manusia pembuat onar ).

Ketika Nabi Muhammad SAW di Madinah, beberapa orang tukang penyebar berita terkadang membuat geger masyarakat. terutama berita yang terkait keluarga Nabi SAW. Allah SWT mengancam, jika mereka tidak menghentikan kebiasaan ini, maka mereka akan diusir dari Madinah.  Hal ini Allah SWT jelaskan dalam  Al-Qur’anul  Surat Al-Ahzab  ayat ke 60 : Artinya: “Jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (QS. al-Ahzab: 60).

Berdasar ayat tersebut, ketika mendengar berita-berita media atau mendapatkan berita lewat pesan singkat, lewat WhatsApp, lewat Facebook atau media sosial lainnya, jangan mudah untuk menshare atau menyebarkannya, sebelum kita pastikan kebenarannya terlebih dahulu dan berfikir bermanfaat atau tidak jika kita bagikan.

Allah SWT berfirman : Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat : 6).

Ayat ini memberikan tuntunan kepada kita agar lebih berhati-hati dalam menerima maupun menyampaikan sebuah berita, apalagi berita tersebut menyalahi beberapa ketentuan yang sudah berlaku / telah disepakati seperti ketentuan akal sehat, adab sopan santun maupun tuntunan agama. Berusaha untuk menyampaikan berita yang benar, bukan bohong/ hoax. Implikasi dari kesalahan dalam menerima maupun menyampaikan berita adalah menimbulkan dampak negatif, yakni: merusak sebuah tatanan masyarakat.

Dalam sebuah Hadits Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad SAW  bersabda : Artinya : “Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim ). Berdasar Hadits tersebut, dapat kita katakan, cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menshare/membagikan setiap berita (yang tidak jelas) yang ia peroleh. Apalagi kalau berita yang kita sebarkan Hoax atau tidak benar, Allah SWT mengancam : Artinya :“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”(QS.An-Nuur: 19).

Kedua,  Akhlaq dala bermedia sosial janganlah  melakukan ghibah, fitnah, namimah (adu-domba), ujaran kebencian dan menyebarkan permusuhan berdasarkan suku, ras, atau antara golongan.  Dalam Al-Qur’an ditemukan beberapa kata kunci tentang komunikasi negatif. Kata kunci ini pada saat yang sama juga mengisyaratkan tentang pentingnya sikap hati- hati, mawas diri dan cerdas literasi tentang media sosial. Allah SWT Berfirman :  Artinya :Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.

Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurat: 12). Dari ayat di atas, ada beberapa akhlaqiyah penting yang harus  jauhi dalam bermedia sosial, yakni menjauhi berprasangka buruk, menjauhi tajassus, menjauhi ghibah menjauhi namimah. Tajassus berarti mencari-cari kesalahan orang lain. Sementara ghibah adalah membicarakan aib atau keburukan orang lain.

Mengutip QS Al-Hujurat ayat 12, para ulama sepakat bahwa mencari kesalahan orang lain dan menggunjing itu termasuk dosa besar dan para pelakunya harus segera bertaubat dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Sedangkan namimah atau mengadu domba. Maksudnya adalah membawa satu berita kepada pihak lain dengan maksud untuk mengadu domba dengan pihak lain, bahkan di sertai dengan sikap merendahkan atau mengolok-ngolok orang lain.

Rasulullah SAW bersabda : Artinya:“Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka) atau mereka berlepas diri dari hal itu, maka pada telinga yang menguping tadi akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042). Berdasar Hadits tersebut, dalam bermedia sosial hendaknya kita jangan sampai menghina dan mencela, ghibah, fitnah, namimah (adu-domba), apalagi menyampaikan ujaran kebencian   dan   menyebarkan   permusuhan   berdasarkan  suku, ras, atau antara golongan. Dalam sebuah keterangannya,

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitab Madarijus Salikin “Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176). Bahkan Allah SWT sudah memperingatkan : Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Ketiga, Akhlaq bermedia sosial jangan menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala yang terlarang secara Syar’i. Sering kita mendengar istilah pahala amal jariyah. Satu pahala yang akan terus mengalir, meskipun kita telah meninggal dunia. Satu Hadits yang menjadi dasar akan adanya pahala amal jariyah ini adalah Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Artinya :Apabila manusia meninggal, amalnya akan terputus, kecuali 3 hal: ‘Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.’ (HR. Nasa’i, Turmudzi). Sebaliknya, disamping ada pahala jariyah, dalam Islam juga ada dosa yang sifatnya sama, yaitu dosa jariyah.

Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada orang tersebut, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu.  Mengingat betapa bahayanya dosa jariyah ini, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar berhati-hati, jangan sampai terjebak melakukan dosa ini. Diantara sumber dosa jariyah yang telah diperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalau kita kaitkan dengan era digital saat ini diantaranya adalah menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala yang terlarang secara Syar’i. Rasulullah SAW bersabda :Artinya:“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Dalam Hadits lain Rasulullah SAW bersabda : Artinya :“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim). Dari kedua Hadits tersebut, satu prinsip yang selayaknya kita pahami, bahwa yang Allah catat dari kehidupan kitatidak hanya aktivitas dan amalan yang kita lakukan, namun juga dampak dan pengaruh dari aktivitas dan amalan itu. Orang yang melakukan amal dan aktivitas yang baik, akan Allah catat amal baik itu dan dampak baik dari amalan itu.

Karena itulah, Islam memotivasi umatnya untuk melakukan amal yang memberikan pengaruh baik yang luas bagi masyarakat. Karena dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dari amal yang dia kerjakan, plus dampak baik dari amalnya. Sebaliknya, orang yang melakukan amal buruk, atau perbuatan maksiat, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dia lakukan, ditambah dampak buruk yang ditimbulkan dari kejahatan yang dia kerjakan. Selama dampak buruk ini masih ada, dia akan terus mendapatkan kucuran dosa itu. – wal’iyadzu billah.. –, itulah dosa jariyah, yang selalu mengalir.

Semoga Allah menyelamatkan kita, menyelamatkan orang shalih di tengah kita, menyelematkan setiap pemimpin dan setiap hakim kita yang berlaku adil, moga semua diselamatkan dari berbagai macam musibah, diselamatkan dari fitnah yang keji, diselamatkan dari orang-orang yang hasad (cemburu), diselamatkan pula dari kerugian akhirat dan siksa neraka. Aamiin.***

 

You might also like