ADAT BERBALUT SYARIAT

Oleh Nasuha Abu Bakar MA

Pengurus LPTQ Kota Tangerang Selatan

Dua pekan lalu, saya bersama isteri bersilaturahim ke rumah salah seorang sahabat. Kunjungan kami berdua bertujuan ingin mengucapkan selamat atas  kelahiran putri ketiganya.

Sedianya kami ingin menjenguk dan mengucapkan selamat ketika baru dikabari. Akan tetapi karena musim Pandemi akhirnya kami dilarang untuk berkunjung ke rumah bersalin, cukup nanti saja klo sudah di rumah. Oleh karenanya saya bersama istri nengokin bayinya di rumah.

Ketika kami berdua sampai di rumah sahabat saya, kami disambut dengan hangat oleh ayah sahabat saya, sedangkan istri saya disambut oleh ibunya yang sedang asyik menggendong si kecil yang baru genap usianya dua pekan. Tampak sangat bahagia kedua orang tua itu terpancar dari cara menyambut kehadiran kami berdua.

Kami berbincang bincang dengan senang dan seru, mulai cerita begitu sangat mudahnya proses persalinannya sedikit pun tidak ada kesulitan. Bahkan konon lebih cepat satu pekan dari perkiraan dokter kandungan yang menanganinya. Dan berat timbangan nya lumayan besar 3.6 kg.

Si kakek sebut saja pak Kodar bercerita tentang kebiasaan beliau di kampung. Dulu, ketika  dilahirkan anak anaknya, plasentanya ada yang dikubur di belakang rumah. Ternyata anak yang plasentanya dikubur di belakang rumah sangat berpengaruh terhadap mental dan tingkat kemandiriannya di dalam berinteraksi di tengah masyarakat.

Sementara sahabat saya, menurut cerita pak Kodar plasentanya dikubur di depan rumah. Subhaanallah….. ternyata sahabat saya yang plasentanya dikubur di depan rumah mampu tampil di depan masyarakat, mempunyai mental baja, mampu dan berani tampil di depan publik.

Kejadian serupa terjadi pada putri sahabat saya yang pertama plasentanya dikubur di belakang rumah walaupun cerdas dan pandai tetapi ternyata kurang berani tampil di depan umum. Sedangkan putri keduanya mempunyai tingkat kepedean nya melampaui di atas rata-rata. Selidik punya selidik plasenta nya dikubur di depan rumah.

Kisah ini mengingatkan cerita kiyai saya dulu ketika putra pertama beliau dilahirkan. Ibundanya pak kiyai menyarankan supaya tempat dikuburkan plasenta nya diberikan lampu. Pada saat itu pak kiyai memberikan argumen bahwa selama beliau belajar mengaji ke para kiyai dan guru guru tidak terdapat satu rujukan kitabpun yang menjadi petunjuk tentang memasang dan menyalakan lampu di atas kuburan plasenta.

“Kamu jadi orang alim, jadi kiyai karena dulu plasenta kamu ibu kasih lampu, makanya hati kamu jadi terang” jelas pak kiyai mengenang kata kata almarhumah Ibunda beliau. Pak kiyai memberikan catatan, bahwa menyalakan lampu di atas kuburan plasenta merupakan adat akan tetapi karena diperintahkan oleh orang tua, sesuatu yang sekedar boleh menjadi wajib selagi tidak ada larangan syariat sebagai bukti birriul walidain. Begitu penjelasan pak kiyai kepada kami. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.*

You might also like